alexametrics
23.1 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Sandiyono Tipu 82 Orang Janjikan PNS

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Sandiyono, 37, guru PNS asal Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, benar-benar mencoreng korp aparatur sipil negara. Lelaki bertugas di SDN Mediunan, Kecamatan Ngasem, ini ditangkap atas ulahnya calo penipuan bisa meloloskan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS).
Jumlah korbannya rekor. Yakni, 82 orang. Semua korban asal Bojonegoro. Sandiyono cukup pintar saat beraksi. Rerata, setiap korban diminta uang Rp 30 juta. Sehingga total uang hasil kejahatannya mencapai Rp 2,6 miliar.
Ulah Sandiyono dengan modus bisa meloloskan seleksi CPNS ini dilakukan sejak 2017 lalu. “Kasus ini berawal dari laporan Polsek Kedungadem pada 24 Desember 2019. Kemudian dilakukan penangkapan dan pengembangan oleh Satreskrim Polres Bojonegoro,” ujar Kapolres Bojonegoro AKBP M. Budi Hendrawan kemarin (8/1).
Data berhasil dikumpulkan kepolisian ada sekitar 82 korban. Per orang diminta menyetorkan uang rerata Rp 30 juta. Tersangka menjanjikan bisa meloloskan jadi CPNS.
Kasus menggemparkan ini terungkap bermula seorang perempuan menjadi korban melapor ke Polsek Kedungadem. Korban berinisial DPC, 41, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Kedungadem.
Kapolres menjelaskan kronologi penipuan bermula ketika Juli 2019 lalu, tersangka menelepon korban berinisial DPC. Tersangka menginformasikan, Agustus 2019 ada lowongan CPNS guru SD tanpa tes melalui jalur khusus.
Korban diminta melengkapi berkas-berkas. Seperti fotokopi kartu keluarga (KK), KTP, ijazah, dan sebagainya. “Selain berkas, tersangka mengatakan ada biaya administrasinya yakni sebesar Rp 30 juta. Akhirnya korban menyanggupi permintaan tersangka dengan menyerahkan uang serta berkasnya ke rumah tersangka,” ujar Kapolres.
Agar semakin percaya, tersangka menjanjikan korban menjadi CPNS guru di SDN 1 Jambirejo, Kecamatan Kedungadem. Namun, setelah ditunggu berbulan-bulan, korban tak kunjung menjadi CPNS guru. Korban gelisah. Dan kerap menanyakan. Merasa tertipu, korban melaporkan tersangka ke kepolisian.
Atas perbuatannya, tersangka diancam pasal berlapis yakni pasal 378 KUHP tentang penipuan dan pasal 372 KUHP tentang penggelapan. Ancaman hukumannya pidana penjara selama empat tahun.
Kapolres mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya dengan orang mengaku bisa memasukkan CPNS tanpa tes. Karena semua proses rekrutmen saat ini secara online dan transparan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Bojonegoro Aan Syahbana membenarkan Sandiyono berstatus PNS. Saat ini, tersangka telah diberhentikan sementara.
Jika perkara nanti inkracht atau berkekuatan hukum tetap, menurut Aan, tidak menutup kemungkinan tersangka diberhentikan secara tidak hormat. “Kalau sudah inkracht, kami akan pertimbangkan untuk pemberhentiannya,” ujarnya.
Dia menambahkan, proses rekrutmen CPNS secara online. Tidak ada pihak manapun bisa mengintervensi proses rekrutmen. Jadi, jangan sekali-kali percaya kepada siapapun mengaku bisa meloloskan jadi CPNS. Prosesnya pun semua gratis.

Baca Juga :  Guru Harus Siap Disebar

Digunakan Beli 2 Mobil, Umrah, dan ke Bogor Empat Bulan

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kemana uang hasil penipuan? Ternyata, Sandiyono telah membelanjakan untuk berbagai kebutuhan. Satreskrim Polres Bojonegoro mendata penggunaan uang hasil kejahatan senilai Rp 933,5 juta.
Uang jumlah itu digunakan beragam. Mulai renovasi rumah Rp 440 juta. Kredit dua mobil, yakni Ertiga dengan uang muka Rp 70 juta dan Ayla dengan DP Rp 16 juta. Dua mobil tersebut kini ditarik leasing.
Merasa mengantongi uang banyak, guru PNS itu pun membeli tujuh motor, totalnya Rp 192 juta. Empat unit motor disita kepolisian dan tiga unit ditarik leasing. Sandiyono juga menggunakan uang penipuan untuk ibadah umrah dan menghabiskan Rp 100 juta.
Tersangka yang kini mendekam di tahanan itu juga menggunakannya untuk ngelencer. Pergi ke Bogor bersama istri selama empat bulan Rp 70 juta. Serta, membeli aneka perabotan rumah tangga total Rp 45,5 juta.
“Hasil kejahatannya semua dimanfaatkan kebutuhan rumah tangganya. Kami masih terus mendalami kasus ini,’’ kata Kapolres Bojonegoro AKBP M. Budi Hendrawan.
Melihat sepak terjang Sandiyono, Kapolres menduga korbannya lebih banyak. ‘’Ada kemungkinan korbannya lebih dari 82 orang,” ujar kapolres kelahiran Bojonegoro ini.

Baca Juga :  Kiprah DPRD Kabupaten Lamongan

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Sandiyono, 37, guru PNS asal Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, benar-benar mencoreng korp aparatur sipil negara. Lelaki bertugas di SDN Mediunan, Kecamatan Ngasem, ini ditangkap atas ulahnya calo penipuan bisa meloloskan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS).
Jumlah korbannya rekor. Yakni, 82 orang. Semua korban asal Bojonegoro. Sandiyono cukup pintar saat beraksi. Rerata, setiap korban diminta uang Rp 30 juta. Sehingga total uang hasil kejahatannya mencapai Rp 2,6 miliar.
Ulah Sandiyono dengan modus bisa meloloskan seleksi CPNS ini dilakukan sejak 2017 lalu. “Kasus ini berawal dari laporan Polsek Kedungadem pada 24 Desember 2019. Kemudian dilakukan penangkapan dan pengembangan oleh Satreskrim Polres Bojonegoro,” ujar Kapolres Bojonegoro AKBP M. Budi Hendrawan kemarin (8/1).
Data berhasil dikumpulkan kepolisian ada sekitar 82 korban. Per orang diminta menyetorkan uang rerata Rp 30 juta. Tersangka menjanjikan bisa meloloskan jadi CPNS.
Kasus menggemparkan ini terungkap bermula seorang perempuan menjadi korban melapor ke Polsek Kedungadem. Korban berinisial DPC, 41, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Kedungadem.
Kapolres menjelaskan kronologi penipuan bermula ketika Juli 2019 lalu, tersangka menelepon korban berinisial DPC. Tersangka menginformasikan, Agustus 2019 ada lowongan CPNS guru SD tanpa tes melalui jalur khusus.
Korban diminta melengkapi berkas-berkas. Seperti fotokopi kartu keluarga (KK), KTP, ijazah, dan sebagainya. “Selain berkas, tersangka mengatakan ada biaya administrasinya yakni sebesar Rp 30 juta. Akhirnya korban menyanggupi permintaan tersangka dengan menyerahkan uang serta berkasnya ke rumah tersangka,” ujar Kapolres.
Agar semakin percaya, tersangka menjanjikan korban menjadi CPNS guru di SDN 1 Jambirejo, Kecamatan Kedungadem. Namun, setelah ditunggu berbulan-bulan, korban tak kunjung menjadi CPNS guru. Korban gelisah. Dan kerap menanyakan. Merasa tertipu, korban melaporkan tersangka ke kepolisian.
Atas perbuatannya, tersangka diancam pasal berlapis yakni pasal 378 KUHP tentang penipuan dan pasal 372 KUHP tentang penggelapan. Ancaman hukumannya pidana penjara selama empat tahun.
Kapolres mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya dengan orang mengaku bisa memasukkan CPNS tanpa tes. Karena semua proses rekrutmen saat ini secara online dan transparan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Bojonegoro Aan Syahbana membenarkan Sandiyono berstatus PNS. Saat ini, tersangka telah diberhentikan sementara.
Jika perkara nanti inkracht atau berkekuatan hukum tetap, menurut Aan, tidak menutup kemungkinan tersangka diberhentikan secara tidak hormat. “Kalau sudah inkracht, kami akan pertimbangkan untuk pemberhentiannya,” ujarnya.
Dia menambahkan, proses rekrutmen CPNS secara online. Tidak ada pihak manapun bisa mengintervensi proses rekrutmen. Jadi, jangan sekali-kali percaya kepada siapapun mengaku bisa meloloskan jadi CPNS. Prosesnya pun semua gratis.

Baca Juga :  Rp 4,3 Miliar untuk Perbaikan 16 Jembatan¬†

Digunakan Beli 2 Mobil, Umrah, dan ke Bogor Empat Bulan

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kemana uang hasil penipuan? Ternyata, Sandiyono telah membelanjakan untuk berbagai kebutuhan. Satreskrim Polres Bojonegoro mendata penggunaan uang hasil kejahatan senilai Rp 933,5 juta.
Uang jumlah itu digunakan beragam. Mulai renovasi rumah Rp 440 juta. Kredit dua mobil, yakni Ertiga dengan uang muka Rp 70 juta dan Ayla dengan DP Rp 16 juta. Dua mobil tersebut kini ditarik leasing.
Merasa mengantongi uang banyak, guru PNS itu pun membeli tujuh motor, totalnya Rp 192 juta. Empat unit motor disita kepolisian dan tiga unit ditarik leasing. Sandiyono juga menggunakan uang penipuan untuk ibadah umrah dan menghabiskan Rp 100 juta.
Tersangka yang kini mendekam di tahanan itu juga menggunakannya untuk ngelencer. Pergi ke Bogor bersama istri selama empat bulan Rp 70 juta. Serta, membeli aneka perabotan rumah tangga total Rp 45,5 juta.
“Hasil kejahatannya semua dimanfaatkan kebutuhan rumah tangganya. Kami masih terus mendalami kasus ini,’’ kata Kapolres Bojonegoro AKBP M. Budi Hendrawan.
Melihat sepak terjang Sandiyono, Kapolres menduga korbannya lebih banyak. ‘’Ada kemungkinan korbannya lebih dari 82 orang,” ujar kapolres kelahiran Bojonegoro ini.

Baca Juga :  Terdakwa Penipuan CPNS Segera Dieksekusi

Artikel Terkait

Most Read

Lebih Suka Bertanya

Curi Poin Penuh dari Magetan

Senang Bisa Coba Masakan

Artikel Terbaru


/