alexametrics
30.9 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Perhutani Miliki Konsep Penyulingan Kayu Putih

PENYULINGAN arak dan kayu putih memiliki kemiripan. Keduanya sama-sama menggunakan tungku pembakaran untuk pemanasan bahan yang diuapkan. Dalam produksi arak, yang disuling adalah nasi yang sudah difermentasi. Kalau produksi minyak kayu putih mengekstrak daun kayu putih. Hanya beda bahan yang diuapkan. 

Begitu juga proses sublimasinya. Keduanya sama-sama menggunakan pipa logam yang dilewatkan tandon pendingin untuk mengubah uap menjadi air.

Yang membedakan, tungku penyulingan arak memiliki banyak pipa yang mengalirkan uap. Sementara tungku penyulingan arak hanya memiliki satu pipa.

”Teknologinya hampir sama, tidak terlalu rumit,” kata ADM Perhutani KPH Tuban Agus Santoso ketika bersilaturahmi di kantor Jawa Pos Radar Tuban, Jalan Wahidin Sudirohusodo 56, Selasa (6/12).

Ikut mendampingi Wawan Setiawan (wakil ADM timur), Puguh Santoso (kepala seksi kelola sosial dan persediaan), Bambang Margono (supervisor wisata), dan Sri Yuliati (kepala sub seksi komunikasi perusahaan dan sosial).   

Kepada kru redaksi koran ini, pejabat Perhutani yang baru bertugas di KPH Perhutani Tuban sejak Mei lalu itu, mulanya memperkenalkan tanaman kayu putih yang ditanam di wilayah hutan Tuban sebagai diversifikasi tanaman selain pohon jati. 

Di Tuban, tumbuhan bernama latin Melaleuca leucadendra ini ditanam pada lahan seluas 1.100 hektare (ha). Lokasinya di wilayah hutan Semanding dan Grabagan.

Dua kawasan hutan  tersebut dipilih sebagai kluster tanaman bahan minyak kayu putih sejak 1991. Karena Tuban tidak memiliki industri penyulingan, daun kayu putih tersebut dikirim ke pabrik kayu putih di Mojokerto.

Pabrik inilah yang mensuplay sejumlah industri farmasi di Indonesia. Pembicaraan seputar  diversifikasi tanaman kayu putih tersebut kemudian mengerucut pada teknologi pengolahannya.

Baca Juga :  Sebulan Ratusan Atribut Diamankan

Karena memiliki kesamaan dengan pengolahan arak, Agus tidak keberatan ketika awak redaksi Jawa Pos Radar Tuban ”menantangnya”  untuk mengadopsinya ke Tuban.

Harapannya, ke depan, produsen arak di Bumi Wali yang selama ini kucing-kucingan dengan aparat penegak hukum, bisa banting setir menjadi produsen minyak kayu putih.

Mantan ADM KPH Perhutani Banyuwangi Selatan tersebut juga tidak keberatan dimediatori untuk memperkenalkan inovasi tersebut kepada bupati.

Toh, selama ini bupati juga puyeng mencari solusi alih produksi arak yang telanjur mengakar di wilayah selatan Tuban. 

Perlu diketahui, sebelum bupati Fathul Huda menjabat pada 2011, di Tuban beroperasi 110 home industry arak.

Terbanyak di Desa Prunggahan Kulon dan Tegalagung, keduanya di Kecamatan Semanding. Selebihnya terbesar pada empat desa di kecamatan yang sama.

Antara lain, Gedongombo, Bejagung, Semanding, dan Penambangan. Berdasar pemetaan, arak Tuban yang terkenal itu mengalir ke sejumlah daerah di Jatim dan Jateng. 

Jatim tersebar di Lamongan, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Ngawi, Nganjuk, dan Kediri. Berikutnya, Pasuruan, Surabaya, Banyuwangi, Sidoarjo, Malang, dan Mojokerto. Sementara Jateng, meliputi Lasem, Blora, dan Cepu. Produsen minuman keras di Bumi Wali berlangsung turun-temurun.

Selama ini, mereka berlindung di bawah Koperasi Sari Tape (KST). Izin produksinya bioetanol. Dalam penelitian PT Biochem Technology, kandungan arak Tuban hanya 83,71 persen. Sementara standar bioetanol 96 persen. Karena itulah tak mungkin arak Tuban diolah menjadi bioetanol.

Dari ADM KPH Tuban ini pula rencana Perhutani Tuban mendirikan pabrik kayu putih di Tuban, muncul. Investasi mesinnya pun tak mahal, hanya sekitar Rp 100 juta.

Baca Juga :  Eksepsi Ditolak, Koordinator Tim Desa Siap Buktikan

”Kita sangat memungkinkan memiliki pabrik sendiri karena luas lahan tanaman kayu putih sangat mendukung,” ujar pejabat Perhutani jebolan pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta itu. Terlebih, kualitas kayu putih Tuban cukup bagus. Rendemennya 0,8. 

Karena tidak memiliki pabrik pengolahan kayu putih sendiri, lanjut dia, pesanggeng atau petani penggarap lahan hutan di Semanding dan Grabagan hanya mendapat upah pungut Rp 130 per kilogram (kg). Plus sharing produksi. Tidak lebih dari itu.

Kalau pada akhirnya pengolahan daun kayu tersebut diserahkan kepada eks produsen arak di Tuban, Agus berpikir ulang untuk mendirikan pabrik gelam, istilah lain kayu putih di Tuban. 

Kalau Tuban memiliki pabrik kayu putih sendiri, kata dia, perekonomian pesanggeng yang bernaung di bawah Lembaga 

Masyarakat Desa Hutan (LMDH) terangkat karena mereka tidak hanya menikmati upah pungut plus sharing produksi saja. Namun, juga hasil penjualan produksi. 

Pria kelahiran Wonosobo 49 tahun juga berobsesi memperluas lahan tanaman kayu putih di wilayah hutannya.

Salah satunya di lahan-lahan tandus yang diekspoitasi untuk penambahan batu kumbung.

Kalau komoditas kayu putih ini menjadi favorit, Agus berpandangan problem sosial yang dihadapi Perhutani di kawasan minus menjadi berkurang.  

Dan, kalau home industry arak di Tuban jadi beralih memproduksi minyak kayu putih, setidaknya bupati Fathul Huda juga bisa tidur nyenyak karena satu masalah pelik yang dihadapi terselesaikan.

PENYULINGAN arak dan kayu putih memiliki kemiripan. Keduanya sama-sama menggunakan tungku pembakaran untuk pemanasan bahan yang diuapkan. Dalam produksi arak, yang disuling adalah nasi yang sudah difermentasi. Kalau produksi minyak kayu putih mengekstrak daun kayu putih. Hanya beda bahan yang diuapkan. 

Begitu juga proses sublimasinya. Keduanya sama-sama menggunakan pipa logam yang dilewatkan tandon pendingin untuk mengubah uap menjadi air.

Yang membedakan, tungku penyulingan arak memiliki banyak pipa yang mengalirkan uap. Sementara tungku penyulingan arak hanya memiliki satu pipa.

”Teknologinya hampir sama, tidak terlalu rumit,” kata ADM Perhutani KPH Tuban Agus Santoso ketika bersilaturahmi di kantor Jawa Pos Radar Tuban, Jalan Wahidin Sudirohusodo 56, Selasa (6/12).

Ikut mendampingi Wawan Setiawan (wakil ADM timur), Puguh Santoso (kepala seksi kelola sosial dan persediaan), Bambang Margono (supervisor wisata), dan Sri Yuliati (kepala sub seksi komunikasi perusahaan dan sosial).   

Kepada kru redaksi koran ini, pejabat Perhutani yang baru bertugas di KPH Perhutani Tuban sejak Mei lalu itu, mulanya memperkenalkan tanaman kayu putih yang ditanam di wilayah hutan Tuban sebagai diversifikasi tanaman selain pohon jati. 

Di Tuban, tumbuhan bernama latin Melaleuca leucadendra ini ditanam pada lahan seluas 1.100 hektare (ha). Lokasinya di wilayah hutan Semanding dan Grabagan.

Dua kawasan hutan  tersebut dipilih sebagai kluster tanaman bahan minyak kayu putih sejak 1991. Karena Tuban tidak memiliki industri penyulingan, daun kayu putih tersebut dikirim ke pabrik kayu putih di Mojokerto.

Pabrik inilah yang mensuplay sejumlah industri farmasi di Indonesia. Pembicaraan seputar  diversifikasi tanaman kayu putih tersebut kemudian mengerucut pada teknologi pengolahannya.

Baca Juga :  Gaji Kades dan Perangkat Desa Bakal Naik

Karena memiliki kesamaan dengan pengolahan arak, Agus tidak keberatan ketika awak redaksi Jawa Pos Radar Tuban ”menantangnya”  untuk mengadopsinya ke Tuban.

Harapannya, ke depan, produsen arak di Bumi Wali yang selama ini kucing-kucingan dengan aparat penegak hukum, bisa banting setir menjadi produsen minyak kayu putih.

Mantan ADM KPH Perhutani Banyuwangi Selatan tersebut juga tidak keberatan dimediatori untuk memperkenalkan inovasi tersebut kepada bupati.

Toh, selama ini bupati juga puyeng mencari solusi alih produksi arak yang telanjur mengakar di wilayah selatan Tuban. 

Perlu diketahui, sebelum bupati Fathul Huda menjabat pada 2011, di Tuban beroperasi 110 home industry arak.

Terbanyak di Desa Prunggahan Kulon dan Tegalagung, keduanya di Kecamatan Semanding. Selebihnya terbesar pada empat desa di kecamatan yang sama.

Antara lain, Gedongombo, Bejagung, Semanding, dan Penambangan. Berdasar pemetaan, arak Tuban yang terkenal itu mengalir ke sejumlah daerah di Jatim dan Jateng. 

Jatim tersebar di Lamongan, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Ngawi, Nganjuk, dan Kediri. Berikutnya, Pasuruan, Surabaya, Banyuwangi, Sidoarjo, Malang, dan Mojokerto. Sementara Jateng, meliputi Lasem, Blora, dan Cepu. Produsen minuman keras di Bumi Wali berlangsung turun-temurun.

Selama ini, mereka berlindung di bawah Koperasi Sari Tape (KST). Izin produksinya bioetanol. Dalam penelitian PT Biochem Technology, kandungan arak Tuban hanya 83,71 persen. Sementara standar bioetanol 96 persen. Karena itulah tak mungkin arak Tuban diolah menjadi bioetanol.

Dari ADM KPH Tuban ini pula rencana Perhutani Tuban mendirikan pabrik kayu putih di Tuban, muncul. Investasi mesinnya pun tak mahal, hanya sekitar Rp 100 juta.

Baca Juga :  Eksepsi Ditolak, Koordinator Tim Desa Siap Buktikan

”Kita sangat memungkinkan memiliki pabrik sendiri karena luas lahan tanaman kayu putih sangat mendukung,” ujar pejabat Perhutani jebolan pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta itu. Terlebih, kualitas kayu putih Tuban cukup bagus. Rendemennya 0,8. 

Karena tidak memiliki pabrik pengolahan kayu putih sendiri, lanjut dia, pesanggeng atau petani penggarap lahan hutan di Semanding dan Grabagan hanya mendapat upah pungut Rp 130 per kilogram (kg). Plus sharing produksi. Tidak lebih dari itu.

Kalau pada akhirnya pengolahan daun kayu tersebut diserahkan kepada eks produsen arak di Tuban, Agus berpikir ulang untuk mendirikan pabrik gelam, istilah lain kayu putih di Tuban. 

Kalau Tuban memiliki pabrik kayu putih sendiri, kata dia, perekonomian pesanggeng yang bernaung di bawah Lembaga 

Masyarakat Desa Hutan (LMDH) terangkat karena mereka tidak hanya menikmati upah pungut plus sharing produksi saja. Namun, juga hasil penjualan produksi. 

Pria kelahiran Wonosobo 49 tahun juga berobsesi memperluas lahan tanaman kayu putih di wilayah hutannya.

Salah satunya di lahan-lahan tandus yang diekspoitasi untuk penambahan batu kumbung.

Kalau komoditas kayu putih ini menjadi favorit, Agus berpandangan problem sosial yang dihadapi Perhutani di kawasan minus menjadi berkurang.  

Dan, kalau home industry arak di Tuban jadi beralih memproduksi minyak kayu putih, setidaknya bupati Fathul Huda juga bisa tidur nyenyak karena satu masalah pelik yang dihadapi terselesaikan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/