alexametrics
26.7 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Air Bengawan Solo Tak Layak Konsumsi

KOTA – Tingginya curah hujan berpengaruh terhadap kualitas air Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro. Penyebabnya, banyak material dari dataran tinggi ikut masuk ke area sungai. Selain pupuk, air terkontaminasi sampah. 

Kasi Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Nur Rahmawati KD mengatakan, tingginya curah hujan berdampak secara langsung pada buruknya kualitas air Bengawan Solo. Alasannya, tingginya curah hujan juga membawa sejumlah material seperti tanah, pupuk hingga sampah menuju sungai. Sehingga, berdampak pada kualitas air. ’’Air menjadi keruh dan tingkat kekentalannya tinggi, tentunya ini membahayakan kesehatan,” kata Rahmawati kemarin (7/12)

Menurutnya, saat ini, kondisi air sungai berubah kelas menjadi kelas 2. Dalam artian, sudah tidak diperuntukan untuk kebutuhan air minum maupun mandi. Namun, hanya untuk prasarana wahana pariwisata ataupun peternakan. Sedangkan air untuk kebutuhan konsumsi masuk pada kategori kelas 1. Dengan status air kelas 2, tentu berbahaya jika diminum. 

Baca Juga :  Diperlukan Pojok Baca untuk Menjangkau Literasi

Berdasarkan Laporan Pemantauan Kualitas Air Wilayah Solo triwulan 3 tahun ini, kondisi air di Bojonegoro tergolong buruk. Sebab, saat diambil sampel di dua kawasan, yakni jembatan Padangan dan jembatan Kalikethek, unsur biochemical oxigen demand (BOD) dan chemical oxigen demand (COD) keduanya melebihi batas baku.

Untuk kawasan jembatan Padangan misalnya, dengan batas baku mutu BOD sebesar 3 miligram per liter, kandungan BOD nya mencapai 9,40 miligram per liter. Sedangkan CODnya, dengan batas baku 25 miligram per liter, kandungannya mencapai 48,68 miligram per liter.

Untuk kawasan jembatan Kalikethek, dengan batas baku mutu BOD sebesar 3 miligram per liter, unsur BOD tercatat mencapai 9,38 miligram per liter. Sedangkan CODnya, dengan batas baku sebesar 25 miligram per liter, kandungannya mencapai 41,01 miligram per liter. ’’Tentunya, semakin tinggi kualitas, semakin buruk, karena kian keruh dan kental,” imbuh dia. 

Baca Juga :  Jalan Desa Putus, 45 Ha Padi Terendam 

Sementara itu, Kepala DLH Bojonegoro Nurul Azizah mengatakan, buruknya kualitas air sungai di berbagai wilayah, tak terkecuali Bojonegoro, dipicu maraknya pembuangan limbah sembaranga. Limbah industri, limbah rumah tangga, limbah kegiatan pertanian hingga sampah berpengaruh secara langsung pada kondisi kualitas sungai.

Karena itu, dia berharap agar masyarakat mulai memikirkan dampak buruk dari pembuangan limbah secara sembarangan. ’’Setidaknya jangan diperparah dengan membuang sampah secara sembarangan,” pungkas Nurul.

KOTA – Tingginya curah hujan berpengaruh terhadap kualitas air Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro. Penyebabnya, banyak material dari dataran tinggi ikut masuk ke area sungai. Selain pupuk, air terkontaminasi sampah. 

Kasi Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Nur Rahmawati KD mengatakan, tingginya curah hujan berdampak secara langsung pada buruknya kualitas air Bengawan Solo. Alasannya, tingginya curah hujan juga membawa sejumlah material seperti tanah, pupuk hingga sampah menuju sungai. Sehingga, berdampak pada kualitas air. ’’Air menjadi keruh dan tingkat kekentalannya tinggi, tentunya ini membahayakan kesehatan,” kata Rahmawati kemarin (7/12)

Menurutnya, saat ini, kondisi air sungai berubah kelas menjadi kelas 2. Dalam artian, sudah tidak diperuntukan untuk kebutuhan air minum maupun mandi. Namun, hanya untuk prasarana wahana pariwisata ataupun peternakan. Sedangkan air untuk kebutuhan konsumsi masuk pada kategori kelas 1. Dengan status air kelas 2, tentu berbahaya jika diminum. 

Baca Juga :  Ini Akibatnya Kalau Nekad Seberangi Bengawan Solo dengan Berenang

Berdasarkan Laporan Pemantauan Kualitas Air Wilayah Solo triwulan 3 tahun ini, kondisi air di Bojonegoro tergolong buruk. Sebab, saat diambil sampel di dua kawasan, yakni jembatan Padangan dan jembatan Kalikethek, unsur biochemical oxigen demand (BOD) dan chemical oxigen demand (COD) keduanya melebihi batas baku.

Untuk kawasan jembatan Padangan misalnya, dengan batas baku mutu BOD sebesar 3 miligram per liter, kandungan BOD nya mencapai 9,40 miligram per liter. Sedangkan CODnya, dengan batas baku 25 miligram per liter, kandungannya mencapai 48,68 miligram per liter.

Untuk kawasan jembatan Kalikethek, dengan batas baku mutu BOD sebesar 3 miligram per liter, unsur BOD tercatat mencapai 9,38 miligram per liter. Sedangkan CODnya, dengan batas baku sebesar 25 miligram per liter, kandungannya mencapai 41,01 miligram per liter. ’’Tentunya, semakin tinggi kualitas, semakin buruk, karena kian keruh dan kental,” imbuh dia. 

Baca Juga :  Siaga Merah Tuban, Bergantung Bendung Gerak

Sementara itu, Kepala DLH Bojonegoro Nurul Azizah mengatakan, buruknya kualitas air sungai di berbagai wilayah, tak terkecuali Bojonegoro, dipicu maraknya pembuangan limbah sembaranga. Limbah industri, limbah rumah tangga, limbah kegiatan pertanian hingga sampah berpengaruh secara langsung pada kondisi kualitas sungai.

Karena itu, dia berharap agar masyarakat mulai memikirkan dampak buruk dari pembuangan limbah secara sembarangan. ’’Setidaknya jangan diperparah dengan membuang sampah secara sembarangan,” pungkas Nurul.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/