alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Bantah Hutan Gundul Picu Banjir

LAMONGAN, Radar Lamongan – Sejumlah wilayah di Lamongan mengalami banjir bandang Kamis lalu (5/11), meski musim hujan baru mulai. Paling parah terjadi di Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang. Beberapa pihak terkait mengklaim banjir bandang tersebut dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi, dan menepis karena faktor kondisi hutan yang gundul.  
”Penyebabnya hujan tinggi, sehingga kali (sungai) tidak bisa menampung air. Kalau wilayah (hutan) Perhutani masih rindang pohonnya,” kata Kepala Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang kemarin (7/11).
Menurut dia, peristiwa banjir bandang tersebut sudah empat kali terjadi di desanya. Khususnya di Dusun Bujel. Yakni sejak 1986. Terakhir terjadi sekitar 2002.
akrabnya.
Sedangkan Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Mohamad Muslimin menilai, sumber air dari wilayah hutan Perhutani. ‘’(Banjir bandang di Desa Sendangrejo Ngimbang) hanya luberan air dari lereng gunung wilayah Perhutani yang hanya berlangsung dua jam. Itu tidak termasuk banjir bandang,’’ katanya.
Menurut dia, sejumlah saluran air di sekitarnya tersumbat, yang membuat air tidak bisa mengalir secara lancar. Sehingga, hal itu membuat luberan air ke permukiman warga. ‘’Kemungkinannya juga tanaman baru atau alih fungsi di wilayah perhutani, sehingga resapan itu tidak bisa maksimal. Jadi air langsung turun ke bawah,’’ ucapnya.
Meski membantah terjadi banjir bandang, Muslimin minta masyarakat Lamongan mewaspadai terjadinya banjir bandnag. Sebab, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis 6 kabupaten/kota dan 21 kabupaten/ kota di Jatim masuk status siaga dan waspada banjir bandang. ‘’Termasuk Kabupaten Lamongan yang masuk dalam waspada banjir bandang,’’ tukasnya.
Kemudian Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumberdaya Air (PUSDA) Lamongan, M Jufri mengatakan, penyebab utama banjir bandang di Ngimbang akibat intensitas hujan yang mencapai 93 mililiter per detik. Sehingga, aliran-aliran di anak Kali Lamong tidak mampu menampung tingginya air. ‘’Daerah Ngimbang tidak masuk daerah irigasi (DI). Itu kan dari atas dari wilayah perhutani. Mungkin di sana tidak bisa meresap sehingga meluber,’’ ucap Jufri.
Sedangkan Humas KPH Mojokerto, Dwi Wahyono mengaku langsung mengkonfirmasi Asper Perhutani Ngimbang ketika mendengar informasi adanya banjir bandang di Ngimbang. ‘’Saya kontak Pak Asper di sana, apakah itu berasal dari hutan kita. Ternyata jawabannya juga sama, tidak. Kita pastikan kawasan hutan tidak ada luberan dari sana, tapi luberan dari aliran kali,’’ terang Dwi.
Dia memastikan jika kawasan hutan di Ngimbang tidak ada yang gundul. Sebab, lanjut dia, KPH Mojokerto selalu melakukan reboisasi sebanyak 10 ribu pohon tiap tahun. ‘’Jadi karena intensitas hujan tinggi, jadi luberan bukan dari hutan. Itu kan luapan aliran kali menuju Kali Lamong. Tapi kalau di kawasan hutan, tegakan kita rapat,’’ ucap Dwi.
Seperti diberitakan, awal musim hujan memicu banjir bandang di sejumlah tempat di Lamongan Kamis lalu (4/11). Antara lain beberapa rumah terendam oleh luapan banjir bandang di sungai Bujel Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang. Juga di Kecamatan Sugio. Bahkan ada tanggul sungai jebol di tiga tempat.

Baca Juga :  Rotasi Lini Pertahanan

LAMONGAN, Radar Lamongan – Sejumlah wilayah di Lamongan mengalami banjir bandang Kamis lalu (5/11), meski musim hujan baru mulai. Paling parah terjadi di Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang. Beberapa pihak terkait mengklaim banjir bandang tersebut dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi, dan menepis karena faktor kondisi hutan yang gundul.  
”Penyebabnya hujan tinggi, sehingga kali (sungai) tidak bisa menampung air. Kalau wilayah (hutan) Perhutani masih rindang pohonnya,” kata Kepala Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang kemarin (7/11).
Menurut dia, peristiwa banjir bandang tersebut sudah empat kali terjadi di desanya. Khususnya di Dusun Bujel. Yakni sejak 1986. Terakhir terjadi sekitar 2002.
akrabnya.
Sedangkan Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Mohamad Muslimin menilai, sumber air dari wilayah hutan Perhutani. ‘’(Banjir bandang di Desa Sendangrejo Ngimbang) hanya luberan air dari lereng gunung wilayah Perhutani yang hanya berlangsung dua jam. Itu tidak termasuk banjir bandang,’’ katanya.
Menurut dia, sejumlah saluran air di sekitarnya tersumbat, yang membuat air tidak bisa mengalir secara lancar. Sehingga, hal itu membuat luberan air ke permukiman warga. ‘’Kemungkinannya juga tanaman baru atau alih fungsi di wilayah perhutani, sehingga resapan itu tidak bisa maksimal. Jadi air langsung turun ke bawah,’’ ucapnya.
Meski membantah terjadi banjir bandang, Muslimin minta masyarakat Lamongan mewaspadai terjadinya banjir bandnag. Sebab, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis 6 kabupaten/kota dan 21 kabupaten/ kota di Jatim masuk status siaga dan waspada banjir bandang. ‘’Termasuk Kabupaten Lamongan yang masuk dalam waspada banjir bandang,’’ tukasnya.
Kemudian Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumberdaya Air (PUSDA) Lamongan, M Jufri mengatakan, penyebab utama banjir bandang di Ngimbang akibat intensitas hujan yang mencapai 93 mililiter per detik. Sehingga, aliran-aliran di anak Kali Lamong tidak mampu menampung tingginya air. ‘’Daerah Ngimbang tidak masuk daerah irigasi (DI). Itu kan dari atas dari wilayah perhutani. Mungkin di sana tidak bisa meresap sehingga meluber,’’ ucap Jufri.
Sedangkan Humas KPH Mojokerto, Dwi Wahyono mengaku langsung mengkonfirmasi Asper Perhutani Ngimbang ketika mendengar informasi adanya banjir bandang di Ngimbang. ‘’Saya kontak Pak Asper di sana, apakah itu berasal dari hutan kita. Ternyata jawabannya juga sama, tidak. Kita pastikan kawasan hutan tidak ada luberan dari sana, tapi luberan dari aliran kali,’’ terang Dwi.
Dia memastikan jika kawasan hutan di Ngimbang tidak ada yang gundul. Sebab, lanjut dia, KPH Mojokerto selalu melakukan reboisasi sebanyak 10 ribu pohon tiap tahun. ‘’Jadi karena intensitas hujan tinggi, jadi luberan bukan dari hutan. Itu kan luapan aliran kali menuju Kali Lamong. Tapi kalau di kawasan hutan, tegakan kita rapat,’’ ucap Dwi.
Seperti diberitakan, awal musim hujan memicu banjir bandang di sejumlah tempat di Lamongan Kamis lalu (4/11). Antara lain beberapa rumah terendam oleh luapan banjir bandang di sungai Bujel Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang. Juga di Kecamatan Sugio. Bahkan ada tanggul sungai jebol di tiga tempat.

Baca Juga :  Nilai Perkara Perdata yang Dipidanakan

Artikel Terkait

Most Read

Pojok Baca Terminal Kurang Optimal

Tahun Depan Haji Masih Tanda Tanya

Serahkan  279 Mesin Perahu BBG 

Klaim Belum Terpengaruh

Artikel Terbaru


/