alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Wednesday, May 18, 2022

Aktif Menginspirasi, Doa Perlu Dibarengi dengan Restu Katanya

SOSOK perempuan progresif dan sangat senang memberikan inspirasi itu bernama Febrin Kirana Pamela Putri. Dia suka sekali berbagi cerita kepada siapa pun selama bisa dipetik pesan moralnya. Febrin, sapaan akrabnya, meski  dia mengajar mata pelajaran fisika di salah satu SMA yang di Surabaya, namun dia tak pernah lupa berkontribusi untuk Bojonegoro.

Dia pernah ikut Kelas Inspirasi Bojonegoro yang menurutnya bisa menguatkan mimpi kawan-kawan yang berada jauh dari wilayah perkotaan.

Dengan cara itulah, dia berharap tidak ada anak muda yang takut bermimpi.

Perempuan asal Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, itu bercerita pengalaman dirinya yang cukup seru untuk dinikmati.

Febrin percaya, setiap langkahnya berdasarkan restu kedua orang tuanya.

Baca Juga :  Sosok KH Sholeh, Imam Masjid Darussalam

Dia pun saat lulus SMA sebenarnya ingin sekali kuliah mengambil jurusan hukum, namun ternyata gagal. 

Tetapi, orang tua selalu mendorong Febrin untuk mengambil jurusan fisika saja yang notabene Febrin sangat tidak suka dengan pelajaran fisika.

’’Saya ini termasuk anak yang nurut, karena saya melakukan keinginan kedua orang tua saya tanpa ada rasa beban, walaupun sebenarnya saya tidak suka fisika, saya sukanya biologi,” tutur perempuan kelahiran 20 Februari 1995 itu.

Namun, kenyataannya, Febrin lolos masuk Unesa jurusan fisika dan gagal juga masuk jurusan hukum. 

Meski dia sudah masuk di jurusan fisika, Febrin masih memiliki keinginan masuk jurusan hukum.

Tetapi, usahanya selalu gagal. Dia pun memilih untuk menjalani kuliahnya sebaik mungkin, walau di semester awal indeks prestasi (IP) hanya 2,45.

Baca Juga :  Terus Eksplorasi

Tetapi dia berusaha adaptasi sebaik mungkin, hingga akhirnya bisa lulus tepat waktu, kini dia menunggu jadwal wisuda. 

Saat sudah lulus, ternyata ayah Febrin baru bilang padanya kalau dia tidak setuju kalau Febrin masuk ke jurusan hukum.

’’Padahal, awalnya orang tua saya dukung banget, tapi ternyata tidak.

Akhirnya saya paham, setiap langkah ini tak cukup hanya berdoa saja, namun juga restu kedua orang tua,” jelasnya.

SOSOK perempuan progresif dan sangat senang memberikan inspirasi itu bernama Febrin Kirana Pamela Putri. Dia suka sekali berbagi cerita kepada siapa pun selama bisa dipetik pesan moralnya. Febrin, sapaan akrabnya, meski  dia mengajar mata pelajaran fisika di salah satu SMA yang di Surabaya, namun dia tak pernah lupa berkontribusi untuk Bojonegoro.

Dia pernah ikut Kelas Inspirasi Bojonegoro yang menurutnya bisa menguatkan mimpi kawan-kawan yang berada jauh dari wilayah perkotaan.

Dengan cara itulah, dia berharap tidak ada anak muda yang takut bermimpi.

Perempuan asal Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, itu bercerita pengalaman dirinya yang cukup seru untuk dinikmati.

Febrin percaya, setiap langkahnya berdasarkan restu kedua orang tuanya.

Baca Juga :  Security Tepergok Judi di Jembatan

Dia pun saat lulus SMA sebenarnya ingin sekali kuliah mengambil jurusan hukum, namun ternyata gagal. 

Tetapi, orang tua selalu mendorong Febrin untuk mengambil jurusan fisika saja yang notabene Febrin sangat tidak suka dengan pelajaran fisika.

’’Saya ini termasuk anak yang nurut, karena saya melakukan keinginan kedua orang tua saya tanpa ada rasa beban, walaupun sebenarnya saya tidak suka fisika, saya sukanya biologi,” tutur perempuan kelahiran 20 Februari 1995 itu.

Namun, kenyataannya, Febrin lolos masuk Unesa jurusan fisika dan gagal juga masuk jurusan hukum. 

Meski dia sudah masuk di jurusan fisika, Febrin masih memiliki keinginan masuk jurusan hukum.

Tetapi, usahanya selalu gagal. Dia pun memilih untuk menjalani kuliahnya sebaik mungkin, walau di semester awal indeks prestasi (IP) hanya 2,45.

Baca Juga :  Wow! Rp 3,3 Miliar Anggaran Panwaskab Belum Cair

Tetapi dia berusaha adaptasi sebaik mungkin, hingga akhirnya bisa lulus tepat waktu, kini dia menunggu jadwal wisuda. 

Saat sudah lulus, ternyata ayah Febrin baru bilang padanya kalau dia tidak setuju kalau Febrin masuk ke jurusan hukum.

’’Padahal, awalnya orang tua saya dukung banget, tapi ternyata tidak.

Akhirnya saya paham, setiap langkah ini tak cukup hanya berdoa saja, namun juga restu kedua orang tua,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/