alexametrics
23.6 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Penasihat Hukum Klaim Korban Tidak Alami Trauma

LAMONGAN, Radar Lamongan – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Shanty Elda Mayasari dan Sri Septi Haryanti kemarin (7/10) mengajukan saksi ahli seorang psikolog. Saksi tersebut bertugas menjelaskan tentang kondisi psikis korban – korban pencabulan yang dilakukan Slamet, 42, guru SD di wilayah selatan Lamongan.

Namun keterangan ahli di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan tersebut disangkal terdakwa yang diwakili penasihat hukumnya,  Agus Sahid Mabruri.

Menurut dia, setelah psikolog memaparkan hasil pemeriksaannya terhadap korban, kliennya membantah bahwa mereka mengalami trauma.

‘’Terlepas saya bukan ahli dalam bidang psikologi, tapi tadi sudah ditanggapi terdakwa. Bahwa kalau dibilang mengalami trauma itu tidak,’’ klaim pengacara asal Surabaya ini.

Baca Juga :  Dari Kulit, Tas Buatan Tangan ini Banyak Diburu Perempuan

Dia menambahkan, sejak awal kasus ini bergulir, korban yang menjalani pemeriksaan serta terapi psikologis hanya dua orang. Sedangkan enam saksi korban lainnya yang turut dihadirkan di persidangan bukan merupakan korban. Mereka sedang dihukum Slamet.

‘’Saksi-saksi yang lain bukan korban pencabulan. Hanya korban karena dia dihukum. Jadi dihukum karena pertama tidak memperhatikan dan tidak fokus saat jam pelajaran. Kedua, dia tidak mematuhi arahan terdakwa sebagai guru. Ketiga, saat murid melakukan kesalahan diberi pilihan, kamu dihukum lari atau dicubit,’’ jelas Agus.

Dia dan terdakwa menilai, di antara dua korban yang melakukan terapi psikologis, hanya satu korban yang benar-benar mengalami pencabulan.

Setelah keterangan dari saksi ahli dirasa cukup, majelis hakim Muhammad Sainal, Ery Acoka Bharata, dan Jantiani Longli Naetasi memberi kesempatan bagi pihak terdakwa untuk menghadirkan saksi yang meringankan.

Baca Juga :  70 Siswa Belajar Energi Migas 

‘’Terima kasih kepada majelis hakim sudah dikasih kesempatan menghadirkan saksi yang meringankan. Kita lihat sama-sama besok, jika kami tidak mengajukan saksi bisa langsung dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa,’’ katanya.

LAMONGAN, Radar Lamongan – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Shanty Elda Mayasari dan Sri Septi Haryanti kemarin (7/10) mengajukan saksi ahli seorang psikolog. Saksi tersebut bertugas menjelaskan tentang kondisi psikis korban – korban pencabulan yang dilakukan Slamet, 42, guru SD di wilayah selatan Lamongan.

Namun keterangan ahli di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan tersebut disangkal terdakwa yang diwakili penasihat hukumnya,  Agus Sahid Mabruri.

Menurut dia, setelah psikolog memaparkan hasil pemeriksaannya terhadap korban, kliennya membantah bahwa mereka mengalami trauma.

‘’Terlepas saya bukan ahli dalam bidang psikologi, tapi tadi sudah ditanggapi terdakwa. Bahwa kalau dibilang mengalami trauma itu tidak,’’ klaim pengacara asal Surabaya ini.

Baca Juga :  Beli Seribu Pil Koplo, Dituntut Enam Tahun

Dia menambahkan, sejak awal kasus ini bergulir, korban yang menjalani pemeriksaan serta terapi psikologis hanya dua orang. Sedangkan enam saksi korban lainnya yang turut dihadirkan di persidangan bukan merupakan korban. Mereka sedang dihukum Slamet.

‘’Saksi-saksi yang lain bukan korban pencabulan. Hanya korban karena dia dihukum. Jadi dihukum karena pertama tidak memperhatikan dan tidak fokus saat jam pelajaran. Kedua, dia tidak mematuhi arahan terdakwa sebagai guru. Ketiga, saat murid melakukan kesalahan diberi pilihan, kamu dihukum lari atau dicubit,’’ jelas Agus.

Dia dan terdakwa menilai, di antara dua korban yang melakukan terapi psikologis, hanya satu korban yang benar-benar mengalami pencabulan.

Setelah keterangan dari saksi ahli dirasa cukup, majelis hakim Muhammad Sainal, Ery Acoka Bharata, dan Jantiani Longli Naetasi memberi kesempatan bagi pihak terdakwa untuk menghadirkan saksi yang meringankan.

Baca Juga :  Marwita Oktaviana, Guru Sekaligus Penulis dari Sekaran

‘’Terima kasih kepada majelis hakim sudah dikasih kesempatan menghadirkan saksi yang meringankan. Kita lihat sama-sama besok, jika kami tidak mengajukan saksi bisa langsung dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa,’’ katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/