alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Tak Tertib, Masih Banyak yang Enggan Bayar Reklame

BOJONEGORO – Penerimaan pajak reklame pada pertengahan triwulan II tahun ini cukup progresif. Hanya, masih banyak masyarakat enggan bayar pajak. Dan memilih menertibkan reklame mereka sendiri daripada bayar pajak. “Saat ketahuan, pemilik lebih memilih menertibkan sendiri daripada bayar,” kata Kabid Pajak Daerah Bapenda Bojonegoro Dilli Tri Wibowo rabu (7/6).

Dilli sapaannya tidak memungkiri jika kini muncul fenomena baru di ranah reklame Bojonegoro. Yakni, saat ketahuan melanggar atau belum bayar pajak, pemilik reklame cenderung menertibkan sendiri reklame yang terpasang.

Secara ekonomi, kata dia, tentu lebih merugikan pihak pemilik reklame. Sebab, kehilangan potensi beriklan. “Banyak yang tidak paham. Lebih memilih menertibkan sendiri daripada bayar pajak,” tegasnya.

Baca Juga :  Jembatan Malo Magnet Warga Berkumpul

Dia menambahkan, tahun ini penerimaan pajak reklame tren bagus. Sebab, penyisiran di ruas jalan serta sosialisasi gencar dilakukan. Dulu banyak tidak bayar karena belum semua tahu definisi reklame.

“Setelah dijelaskan, definisi reklame bisa dimengerti dengan baik dan mayoritas mau bayar pajak,” ucapnya.

Dari data dia miliki, untuk pajak reklame, pemkab menarget satu tahun mendapat Rp 1,8 miliar. Meski baru 5 bulan atau pertengahan triwulan kedua, uang dikumpulkan sudah mencapai Rp 974 juta. Ini menunjukkan grafik positif.

BOJONEGORO – Penerimaan pajak reklame pada pertengahan triwulan II tahun ini cukup progresif. Hanya, masih banyak masyarakat enggan bayar pajak. Dan memilih menertibkan reklame mereka sendiri daripada bayar pajak. “Saat ketahuan, pemilik lebih memilih menertibkan sendiri daripada bayar,” kata Kabid Pajak Daerah Bapenda Bojonegoro Dilli Tri Wibowo rabu (7/6).

Dilli sapaannya tidak memungkiri jika kini muncul fenomena baru di ranah reklame Bojonegoro. Yakni, saat ketahuan melanggar atau belum bayar pajak, pemilik reklame cenderung menertibkan sendiri reklame yang terpasang.

Secara ekonomi, kata dia, tentu lebih merugikan pihak pemilik reklame. Sebab, kehilangan potensi beriklan. “Banyak yang tidak paham. Lebih memilih menertibkan sendiri daripada bayar pajak,” tegasnya.

Baca Juga :  Latihan Mandiri

Dia menambahkan, tahun ini penerimaan pajak reklame tren bagus. Sebab, penyisiran di ruas jalan serta sosialisasi gencar dilakukan. Dulu banyak tidak bayar karena belum semua tahu definisi reklame.

“Setelah dijelaskan, definisi reklame bisa dimengerti dengan baik dan mayoritas mau bayar pajak,” ucapnya.

Dari data dia miliki, untuk pajak reklame, pemkab menarget satu tahun mendapat Rp 1,8 miliar. Meski baru 5 bulan atau pertengahan triwulan kedua, uang dikumpulkan sudah mencapai Rp 974 juta. Ini menunjukkan grafik positif.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/