alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Sunday, July 3, 2022

Dipisah, Strategi Baru Bos Arak

SEMANDING – Bisnis arak sudah mendarah daging bagi sebagian besar produsennya. Meski digempur habis-habisan, para produsen minuman keras hasil fermentasi beras ini selalu menemukan beragam cara untuk melancarkan bisnis haramnya. Kini, banyak pemilik industri rumahan minuman beralkohol ini yang mempunyai strategi baru dengan memisah antara alat produksi dan bahan baku. Pemisahan alat produksi dan bahan baku tersebut bukan tanpa tujuan.

Praktis, jika dilakukan razia dan petugas hanya menemukan baceman (bahan baku arak) tanpa alat produksi, sang produsen hanya dijerat tindak pidana ringan (tipiring). Begitu pula jika hanya ditemukan alat produksi tanpa bahan bakunya. Jika dikenakan tipiring, produsen hanya membayar denda kurang dari Rp 500 ribu. Setelah itu, dia bisa melenggang bebas dan tidak ditahan. Kapolsek Semanding AKP Desis Susilo mengatakan, mayoritas yang menggunakan strategi pemisahan alat produksi dan bahan baku tersebut merupakan para pemain lama atau bos arak.

Baca Juga :  Sawah Mengering, Petani Gagal Panen

Seakan sudah paham dengan jeratan hukum yang diterapkan, mereka lantas mengelabuhi petugas. Meski demikian, satuannya mengaku tidak akan lengah dan tertipu begitu saja. ‘’Sekarang modusnya seperti itu. Alat produksi dan baceman dipisah, ketika dirazia selalu berkelit,’’ tuturnya. Jika alat produksi dan baceman ditemukan di tempat terpisah, Desis menegaskan, para produsen tidak akan dikenakan tipiring.

Melainkan tetap dikenakan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan pasal 204 KUHP. Bahkan, jika terbukti mempersulit petugas, satuannya mengancam akan menambah pasal yang memperberat hukuman. ‘’Usai razia, kami terus melakukan pengembangan penyelidikan agar alat produksi dan bahan baku lengkap,’’ tegasnya Seperti dalam razia tempat produksi arak milik Suwarno di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding. Ketika dirazia Rabu (4/4), hanya ditemukan baceman sebanyak 530 liter di dalam gudang rumahnya.

Ketika ditanya alat produksinya, dia berkelit. Suwarno mengatakan kalau baceman tersebut merupakan sisa produksinya tahun lalu sebelum digerebek. ‘’Modus semacam ini sudah beberapa kali dilakukan para pengusaha arak. Jadi kami tidak percaya begitu saja,’’ tutur mantan Kapolsek Rengel ini. Kasus serupa juga terjadi dalam penggerebekan di rumah trio ibu rumah tangga Suwarni, Sulasih, dan Rawi yang mengoperasikan pabrik arak berkapasitas ribuan liter pada 19 Desember 2017.

Baca Juga :  Bantu Satgas TMMD, Istri Tri Iswono Lakukan Pengecetan Rumahnya

Dari dalam rumah Suwarni dan Sulasih di Desa Perunggahan Kulon, Kecamatan Semanding hanya ditemukan 4.000 liter baceman dan 130 arak siap edar. Tidak ditemukan alat produksinya. Belakangan diketahui alat produksi tersebut ditempatkan terpisah di sebuah rumah kosong Desa Bejagung, Kecamatan Semanding. Di rumah ini, polisi menyita sejumlah peranti produksi, seperti tungku, elpiji, kompor, pendingin, dan lainnya. Dalam penyelidikan terungkap alat produksi tersebut milik Suwarni dan Sulasih yang sengaja dipisahkan dari bahan dan hasil produksinya untuk mengelabuhi petugas.

SEMANDING – Bisnis arak sudah mendarah daging bagi sebagian besar produsennya. Meski digempur habis-habisan, para produsen minuman keras hasil fermentasi beras ini selalu menemukan beragam cara untuk melancarkan bisnis haramnya. Kini, banyak pemilik industri rumahan minuman beralkohol ini yang mempunyai strategi baru dengan memisah antara alat produksi dan bahan baku. Pemisahan alat produksi dan bahan baku tersebut bukan tanpa tujuan.

Praktis, jika dilakukan razia dan petugas hanya menemukan baceman (bahan baku arak) tanpa alat produksi, sang produsen hanya dijerat tindak pidana ringan (tipiring). Begitu pula jika hanya ditemukan alat produksi tanpa bahan bakunya. Jika dikenakan tipiring, produsen hanya membayar denda kurang dari Rp 500 ribu. Setelah itu, dia bisa melenggang bebas dan tidak ditahan. Kapolsek Semanding AKP Desis Susilo mengatakan, mayoritas yang menggunakan strategi pemisahan alat produksi dan bahan baku tersebut merupakan para pemain lama atau bos arak.

Baca Juga :  23 Warga Adukan Karaoke Ilegal ke Bupati

Seakan sudah paham dengan jeratan hukum yang diterapkan, mereka lantas mengelabuhi petugas. Meski demikian, satuannya mengaku tidak akan lengah dan tertipu begitu saja. ‘’Sekarang modusnya seperti itu. Alat produksi dan baceman dipisah, ketika dirazia selalu berkelit,’’ tuturnya. Jika alat produksi dan baceman ditemukan di tempat terpisah, Desis menegaskan, para produsen tidak akan dikenakan tipiring.

Melainkan tetap dikenakan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan pasal 204 KUHP. Bahkan, jika terbukti mempersulit petugas, satuannya mengancam akan menambah pasal yang memperberat hukuman. ‘’Usai razia, kami terus melakukan pengembangan penyelidikan agar alat produksi dan bahan baku lengkap,’’ tegasnya Seperti dalam razia tempat produksi arak milik Suwarno di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding. Ketika dirazia Rabu (4/4), hanya ditemukan baceman sebanyak 530 liter di dalam gudang rumahnya.

Ketika ditanya alat produksinya, dia berkelit. Suwarno mengatakan kalau baceman tersebut merupakan sisa produksinya tahun lalu sebelum digerebek. ‘’Modus semacam ini sudah beberapa kali dilakukan para pengusaha arak. Jadi kami tidak percaya begitu saja,’’ tutur mantan Kapolsek Rengel ini. Kasus serupa juga terjadi dalam penggerebekan di rumah trio ibu rumah tangga Suwarni, Sulasih, dan Rawi yang mengoperasikan pabrik arak berkapasitas ribuan liter pada 19 Desember 2017.

Baca Juga :  Pepohonan Trotoar Mati Mengering, DPKPCK Minta Ganti

Dari dalam rumah Suwarni dan Sulasih di Desa Perunggahan Kulon, Kecamatan Semanding hanya ditemukan 4.000 liter baceman dan 130 arak siap edar. Tidak ditemukan alat produksinya. Belakangan diketahui alat produksi tersebut ditempatkan terpisah di sebuah rumah kosong Desa Bejagung, Kecamatan Semanding. Di rumah ini, polisi menyita sejumlah peranti produksi, seperti tungku, elpiji, kompor, pendingin, dan lainnya. Dalam penyelidikan terungkap alat produksi tersebut milik Suwarni dan Sulasih yang sengaja dipisahkan dari bahan dan hasil produksinya untuk mengelabuhi petugas.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Makin Sombong, Makin Bernilai

Kehilangan Akun Line


/