alexametrics
25.1 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Among Bejo, Komunitas Ngaji Kontemporer Ngaji Fikih via Chat WA

TIDAK selamanya aplikasi chat WhatsApp (WA) digunakan untuk kegiatan berorientasi pekerjaan dan kerja iseng. Tapi, bisa juga dijadikan media mengkaji tema-tema fikih. Among Bejo membuktikan itu. PONSEL Ahmad Ihya Ulumuddin bergetar berkali-kali. Setelah melakukan pengecekan pada layar ponsel, laki-laki yang akrab disapa Ahyan itu tersenyum lebar. Dengan antusias, dia membolak-balik kitab dan mencari sejumlah referensi ulasan untuk dikutip. Dengan penuh ketenangan, dia mengetik beberapa kalimat yang tertera dari kitab itu dan mengirim ke grup WA untuk kemudian didiskusikan. “Jadi memang diskusinya itu melalui chat WA. Tapi benar-benar diskusi, lho.

Bukan ngerumpi,” kata Ahyan sambil tersenyum Ketua Among Bejo itu menceritakan, nama Among Bejo akronim dari Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro. Sebab, komunitas tersebut, anggota berasal dari tiga kabupaten. Tapi, secara falsafah, Among Bejo dimaknai sebagai orangorang ingin hidup bejo di dunia dan akhirat. Dari intensitas geliat ngaji di grup WA tersebut, kopdar tiga bulanan dan berbagai agenda pun akhirnya dijalankan layaknya komunitas biasa. Hanya, Ahyan tidak pernah mengira jika grup kecil itu menjadi kian besar. “Tiap tiga bulan kopdar secara bergantian. Dari Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan,” tutur Ahyan. Di Among Bejo sendiri, ngaji dilakukan setiap hari. Hanya, pada jam-jam tertentu.

Baca Juga :  25 Desa di 6 Kecamatan Rawan Kekeringan¬†

Seperti pukul 8 malam hingga 10 malam dengan objek kajian beragam. Namun, umumnya perihal fikih, karena selalu ada kasus bisa dibahas. Ahyan memberikan contoh kecil. Salah satu pembahasan di Among Bejo adalah hukum menyikapi pakaian. Dia mengilus trasikan, seseorang memakai sarung sedang naik sepeda. Karena sedang hujan, sarung terkena cipratan genangan air. Nah, hukum menggunakan sarung itu untuk beribadah menjadi pembahasan cukup panjang. Istilahnya, dilalatul ibarah (ketetapan dan prinsip hukum) harus jelas.

“Jadi setiap kali ada pertanyaan, pembahas harus siap menjelaskan jawaban beserta sumber. Pakai kitab apa, siapa yang ngomong, dan ada bukti kutipan kitab,” imbuh dia. Dari sana, para anggota berlatih rajin membaca kitab sekaligus mencari berbagai referensi bacaan terkait fikih. Sebab, jika tidak membaca kitab tentu bakal sulit menjawab dan ikut berdiskusi. Komunitas beranggotakan lebih dari seratus orang itu memang dari berbagai latar belakang usia. Dari anak muda hingga orang tua. Baik perempuan dan laki-laki. Untuk menjaga stabilitas grup agar tetap dinamis, ada 6 admin bertugas menyiapkan tema pembahasan sekaligus menyiapkan kitab untuk dijadikan sumber diskusi.

Baca Juga :  Bojonegoro Lancar, Lamongan Internet Sempat Trouble¬†

TIDAK selamanya aplikasi chat WhatsApp (WA) digunakan untuk kegiatan berorientasi pekerjaan dan kerja iseng. Tapi, bisa juga dijadikan media mengkaji tema-tema fikih. Among Bejo membuktikan itu. PONSEL Ahmad Ihya Ulumuddin bergetar berkali-kali. Setelah melakukan pengecekan pada layar ponsel, laki-laki yang akrab disapa Ahyan itu tersenyum lebar. Dengan antusias, dia membolak-balik kitab dan mencari sejumlah referensi ulasan untuk dikutip. Dengan penuh ketenangan, dia mengetik beberapa kalimat yang tertera dari kitab itu dan mengirim ke grup WA untuk kemudian didiskusikan. “Jadi memang diskusinya itu melalui chat WA. Tapi benar-benar diskusi, lho.

Bukan ngerumpi,” kata Ahyan sambil tersenyum Ketua Among Bejo itu menceritakan, nama Among Bejo akronim dari Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro. Sebab, komunitas tersebut, anggota berasal dari tiga kabupaten. Tapi, secara falsafah, Among Bejo dimaknai sebagai orangorang ingin hidup bejo di dunia dan akhirat. Dari intensitas geliat ngaji di grup WA tersebut, kopdar tiga bulanan dan berbagai agenda pun akhirnya dijalankan layaknya komunitas biasa. Hanya, Ahyan tidak pernah mengira jika grup kecil itu menjadi kian besar. “Tiap tiga bulan kopdar secara bergantian. Dari Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan,” tutur Ahyan. Di Among Bejo sendiri, ngaji dilakukan setiap hari. Hanya, pada jam-jam tertentu.

Baca Juga :  Basuki Unggul di TPS-nya

Seperti pukul 8 malam hingga 10 malam dengan objek kajian beragam. Namun, umumnya perihal fikih, karena selalu ada kasus bisa dibahas. Ahyan memberikan contoh kecil. Salah satu pembahasan di Among Bejo adalah hukum menyikapi pakaian. Dia mengilus trasikan, seseorang memakai sarung sedang naik sepeda. Karena sedang hujan, sarung terkena cipratan genangan air. Nah, hukum menggunakan sarung itu untuk beribadah menjadi pembahasan cukup panjang. Istilahnya, dilalatul ibarah (ketetapan dan prinsip hukum) harus jelas.

“Jadi setiap kali ada pertanyaan, pembahas harus siap menjelaskan jawaban beserta sumber. Pakai kitab apa, siapa yang ngomong, dan ada bukti kutipan kitab,” imbuh dia. Dari sana, para anggota berlatih rajin membaca kitab sekaligus mencari berbagai referensi bacaan terkait fikih. Sebab, jika tidak membaca kitab tentu bakal sulit menjawab dan ikut berdiskusi. Komunitas beranggotakan lebih dari seratus orang itu memang dari berbagai latar belakang usia. Dari anak muda hingga orang tua. Baik perempuan dan laki-laki. Untuk menjaga stabilitas grup agar tetap dinamis, ada 6 admin bertugas menyiapkan tema pembahasan sekaligus menyiapkan kitab untuk dijadikan sumber diskusi.

Baca Juga :  Perusakan Pohon Marak

Artikel Terkait

Most Read

Bertabur Prestasi Akademik dan Nonakademik

Banjir Meluas : 1.691 Rumah Tergenang

Menunggu Kepastian Jadwal CAT

Artikel Terbaru


/