alexametrics
32.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Perajin Dompet dan Tas Kulit, Cari Bahan Baku ke Luar Kota

Berbekal ilmu usai belajar membuat kerajinan berbahan kulit di Jogjakarta, akhirnya Moch Bachtiar Riza Fahma memproduksi sendiri. Itu dilakukan setelah bingung harus bekerja apa ketika kembali ke Bojonegoro.  

M.IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro

Empat tahun berada di Jogjakarta, akhirnya Moch Bachtiar Riza Fahma memutuskan pulang kampung. Kembali tinggal di kampung halamannya di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas. Kegundahan menderap karena usai lulus kuliah harus bekerja apa.

Namun, pemuda 23 tahun itu akhirnya memutuskan memproduksi tas, dompet, dan sapatu berbahan kulit. Ketegasan itu bermodal pengalaman setelah belajar membuat aksesori berbahan kulit di Jogjakarta. Pengalaman itu diperoleh disela kuliah di Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK).

Saat itu, Riza membantu kakak tingkatnya memproduksi hingga pameran hasil karya dilakukannya sekitar dua tahun. Tekad yang kuat, akhirnya Riza memutuskan mengaplikasikan ilmunya dengan memproduksi dompet dan tas berbahan kulit. Pengalaman selama di Jogja akhirnya diterapkan di rumah. “Sudah lulus, pulang bingung kerja di mana?” tuturnya dengan senyum kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (7/3).

Baca Juga :  Pemkab Lamongan Izinkan ASN dengan Komorbid Kerja di Rumah

Riza tak sendirian. Dalam memproduksi tas dan dompet, alumni MAN 2 Bojonegoro itu menggandeng dua pengrajin berpengalaman. Sehingga produksi bisa berjalan. Bahkan tanpa harus mengajari proses produksi. Namun, untuk memperoleh bahan baku tentu harus ke luar kota. Riza harus mengambil bahan baku di Magetan dan Sidoarjo. Setiap sebulan hingga dua bulan sekali. Sebab di Bojonegoro belum terdapat penyamakan kulit. Mulai kulit sapi, domba, ular, bahkan biawak.

“Sekali mengambil bisa satu hingga tiga rol kulit. Satu rol berisi 10 lembar kulit,” tutur pemuda suka makan nasi pecel itu.

Dalam waktu semingggu, Riza mampu memproduksi satu lusin atau 12 buah tas maupun dompet. Meskipun banyak kendala dihadapi dalam produksi. Seperti dari peralatan belum memiliki mesin jahit cangklong maupun mesin press kulit. Dari segi bahan baku masih mengambil di luar Bojonegoro. Sehingga ketika bahan baku kurang waktu produksi akan bertambah. Untuk kendala dari segi peralatan, Riza mampu mencari solusi. Beberapa model tas harus menggunakan mesin jahit cangklong, disiasati dengan mesin jahit biasa. Namun hasilnya kurang maksimal.

Baca Juga :  Perang Dagang Siapa Menang 

“Sedangkan untuk mesin press masih menumpang di teman yang memiliki,” ujarnya Kesulitan lain yang dialami berupa pemasaran.

Meski sudah memiliki pelanggan tetap, namun tanpa mencantumkan merek. Selain itu masyarakat Bojonegoro belum tahu kualitas tas dan dompet berbahan kulit. Dan membandingkan dengan kulit sentetis yang kualitasnya berbeda. Sehingga butuh waktu mengedukasi masyarakat.

“Tidak mau terus-terusan di belakang orang, ingin merek sendiri berkembang,” jelasnya. Riza ingin memperbaiki mene jemen pemasaran produk nya. Memanfaatkan marketplace. Juga ikut pemeran di mal yang berada di kota-kota besar. “Ingin memper kenalkan dan membesarkan merek (brand) produk nya,” ungkapnya.

Berbekal ilmu usai belajar membuat kerajinan berbahan kulit di Jogjakarta, akhirnya Moch Bachtiar Riza Fahma memproduksi sendiri. Itu dilakukan setelah bingung harus bekerja apa ketika kembali ke Bojonegoro.  

M.IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro

Empat tahun berada di Jogjakarta, akhirnya Moch Bachtiar Riza Fahma memutuskan pulang kampung. Kembali tinggal di kampung halamannya di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas. Kegundahan menderap karena usai lulus kuliah harus bekerja apa.

Namun, pemuda 23 tahun itu akhirnya memutuskan memproduksi tas, dompet, dan sapatu berbahan kulit. Ketegasan itu bermodal pengalaman setelah belajar membuat aksesori berbahan kulit di Jogjakarta. Pengalaman itu diperoleh disela kuliah di Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK).

Saat itu, Riza membantu kakak tingkatnya memproduksi hingga pameran hasil karya dilakukannya sekitar dua tahun. Tekad yang kuat, akhirnya Riza memutuskan mengaplikasikan ilmunya dengan memproduksi dompet dan tas berbahan kulit. Pengalaman selama di Jogja akhirnya diterapkan di rumah. “Sudah lulus, pulang bingung kerja di mana?” tuturnya dengan senyum kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (7/3).

Baca Juga :  Narsis Di Puncak Air Terjun

Riza tak sendirian. Dalam memproduksi tas dan dompet, alumni MAN 2 Bojonegoro itu menggandeng dua pengrajin berpengalaman. Sehingga produksi bisa berjalan. Bahkan tanpa harus mengajari proses produksi. Namun, untuk memperoleh bahan baku tentu harus ke luar kota. Riza harus mengambil bahan baku di Magetan dan Sidoarjo. Setiap sebulan hingga dua bulan sekali. Sebab di Bojonegoro belum terdapat penyamakan kulit. Mulai kulit sapi, domba, ular, bahkan biawak.

“Sekali mengambil bisa satu hingga tiga rol kulit. Satu rol berisi 10 lembar kulit,” tutur pemuda suka makan nasi pecel itu.

Dalam waktu semingggu, Riza mampu memproduksi satu lusin atau 12 buah tas maupun dompet. Meskipun banyak kendala dihadapi dalam produksi. Seperti dari peralatan belum memiliki mesin jahit cangklong maupun mesin press kulit. Dari segi bahan baku masih mengambil di luar Bojonegoro. Sehingga ketika bahan baku kurang waktu produksi akan bertambah. Untuk kendala dari segi peralatan, Riza mampu mencari solusi. Beberapa model tas harus menggunakan mesin jahit cangklong, disiasati dengan mesin jahit biasa. Namun hasilnya kurang maksimal.

Baca Juga :  Semangat Baru

“Sedangkan untuk mesin press masih menumpang di teman yang memiliki,” ujarnya Kesulitan lain yang dialami berupa pemasaran.

Meski sudah memiliki pelanggan tetap, namun tanpa mencantumkan merek. Selain itu masyarakat Bojonegoro belum tahu kualitas tas dan dompet berbahan kulit. Dan membandingkan dengan kulit sentetis yang kualitasnya berbeda. Sehingga butuh waktu mengedukasi masyarakat.

“Tidak mau terus-terusan di belakang orang, ingin merek sendiri berkembang,” jelasnya. Riza ingin memperbaiki mene jemen pemasaran produk nya. Memanfaatkan marketplace. Juga ikut pemeran di mal yang berada di kota-kota besar. “Ingin memper kenalkan dan membesarkan merek (brand) produk nya,” ungkapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/