alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Harga Jagung Merosot, Petani Merugi

BOJONEGORO – Harga jagung di tingkat petani berada pada harga terendah, yakni Rp 2.100 per kilogram (kg). Kondisi itu bisa membuat petani merugi karena ongkos tanam dan perawatan juga mahal.

Kepala Bidang (Kabid) Produksi Pertanian dan Holtikultura Dinas Pertanian Zaenal Fanani mengatakan, saat ini adalah masa panen raya. Namun, harganya tidak begitu bagus. Sebab, harga jagung saat ini banyak ditentukan oleh mekanisme pasar. Sehingga, harganya kerap naik turun sesuai dengan kebutuhan.

Zaenal menjelaskan, sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 58 Tahun 2018 sebesar Rp 4.000 per kg. Harga tersebut di tingkat petani. Selain itu, harga hanya bisa diterapkan jika yang membeli adalah pemerintah melalui Bulog. “Namun, saat ini pemerintah tidak menyerap jagung,” ujarnya.

Baca Juga :  Parkir Dikelola Karang Taruna

Zaenal menuturkan murahnya harga jagung itu di satu sisi membuat konsumen senang. Sebab, harga bahan baku lebih murah. Namun, pada sisi lain membuat petani merugi. Mereka harus rugi banyak biaya dan tenaga.

Kondisi seperti ini memang harus ada langkah tersendiri dari pusat. Sehingga, petani tidak merugi. “Hal itu sama dengan ketika harga tinggi di mana pemerintah pusat langsung turun tangan,” jelasnya.

Selama ini pemerintah pusat memang hanya bergerak ketika harga mahal. Namun, ketika harga murah, maka pemerintah pusat juga harus menstabilkan. Sehingga, petani tidak menanggung kerugian terlalu besar.

Di Bojonegoro luas areal tanam jagung mencapai 28.969 hektare. Jumlah itu masih kurang jauh dari target tahun ini yang mencapai 49.297 hektare.  Dari jumlah itu sudah ada yang dipanen seluas 1.168 hektare. “Itu tersebar di berbagai kecamatan. Mulai Sekar hingga Margomulyo,” jelasnya.

Baca Juga :  Disdik Warning SD-SMP agar Taat Juknis

Sedangkan panen raya padi diperkirakan baru akan terjadi pada Maret mendatang. Sebab, musim tanam padi baru dimulai Januari lalu. Itu akibat musim hujan yang sedikit mundur.

 

 

 

BOJONEGORO – Harga jagung di tingkat petani berada pada harga terendah, yakni Rp 2.100 per kilogram (kg). Kondisi itu bisa membuat petani merugi karena ongkos tanam dan perawatan juga mahal.

Kepala Bidang (Kabid) Produksi Pertanian dan Holtikultura Dinas Pertanian Zaenal Fanani mengatakan, saat ini adalah masa panen raya. Namun, harganya tidak begitu bagus. Sebab, harga jagung saat ini banyak ditentukan oleh mekanisme pasar. Sehingga, harganya kerap naik turun sesuai dengan kebutuhan.

Zaenal menjelaskan, sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 58 Tahun 2018 sebesar Rp 4.000 per kg. Harga tersebut di tingkat petani. Selain itu, harga hanya bisa diterapkan jika yang membeli adalah pemerintah melalui Bulog. “Namun, saat ini pemerintah tidak menyerap jagung,” ujarnya.

Baca Juga :  Dapat Predikat Mumtaz, Tangis Meledak

Zaenal menuturkan murahnya harga jagung itu di satu sisi membuat konsumen senang. Sebab, harga bahan baku lebih murah. Namun, pada sisi lain membuat petani merugi. Mereka harus rugi banyak biaya dan tenaga.

Kondisi seperti ini memang harus ada langkah tersendiri dari pusat. Sehingga, petani tidak merugi. “Hal itu sama dengan ketika harga tinggi di mana pemerintah pusat langsung turun tangan,” jelasnya.

Selama ini pemerintah pusat memang hanya bergerak ketika harga mahal. Namun, ketika harga murah, maka pemerintah pusat juga harus menstabilkan. Sehingga, petani tidak menanggung kerugian terlalu besar.

Di Bojonegoro luas areal tanam jagung mencapai 28.969 hektare. Jumlah itu masih kurang jauh dari target tahun ini yang mencapai 49.297 hektare.  Dari jumlah itu sudah ada yang dipanen seluas 1.168 hektare. “Itu tersebar di berbagai kecamatan. Mulai Sekar hingga Margomulyo,” jelasnya.

Baca Juga :  Janjikan Perubahan vs Program Berkelanjutan

Sedangkan panen raya padi diperkirakan baru akan terjadi pada Maret mendatang. Sebab, musim tanam padi baru dimulai Januari lalu. Itu akibat musim hujan yang sedikit mundur.

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/