alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Sempat Populer dan Vakum, Berharap Breakdance Bisa Hidup Lagi

FEATURES – Bojonegoro pernah populer dengan subkebudayaan breakdance-nya. Salah satu tokohnya adalah Reza Kurnia Adytia.

Instrumen lagu breakbeat terdengar ritmis di salah satu rumah di Gg. Kuncoro I Jalan WR. Supratman kemarin (6/3). Di depan meja kayu berwarna cokelat, gayeng bercerita. 

Lelaki itu bernama Reza Kurnia Adytia. Kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro, 29, banyak bercerita tentang Bojonegoro Breakin. “Dulu memang ada namanya Bojonegoro Breakin, kita dirikan pada 2008 lalu,” kata Reza. 

Meski tergolong kota kecil, Bojonegoro memiliki budaya breakdance cukup populer. Terutama pada era 2010-an. Sejak dibentuk pada 2008 lalu, salah satu pendiri Bojonegoro Breakin itu menceritakan,  breakdance sangat dinamis di Bojonegoro.

Hanya, karena banyak para b-boy (sebutan penari breakdance) bekerja dan belajar di luar kota, kegiatan breakdance vakum. 

Bojonegoro Breakin merupakan komunitas breakdance pertama di Bojonegoro. Itu menjadi alasan popularitasnya di luar kota selalu membawa nama Bojonegoro.

Reza yang kala itu mendirikan komunitas tersebut memang tidak memiliki visi muluk-muluk. Hanya ingin memperkenalkan budaya pop tersebut di Bojonegoro.

Baca Juga :  Dimediasi Kacabdisdik, Polemik PPDB SMKN Tambakboyo Berakhir

Namun, seiring perjalanannya, jumlah anggota dan peminat meningkat. Kegiatan breakdance pun tidak hanya di dalam kota. Melainkan di berbagai kota di Jawa Timur pernah disinggahi.

Ramai-ramainya breakdance, kata Reza, terjadi pada kurun waktu 2010 hingga 2015. Pada masa itu, nama Bojonegoro Breakin sempat mengudara. Kerap tampil luar kota pernah dilakukan.

Kota-kota seperti Madiun, Malang, Surabaya, Jogjakarta, hingga Bali menjadi kota langganan yang mendatangkan Bojonegoro Breakin untuk perform.

Bahkan, meski sangat jarang berorientasi prestasi, Bojonegoro Breakin pernah menjadi juara 3 kontes breakdance se-Jawa Timur. 

Secara pribadi, pengalaman Reza tampil di berbagai event breakdance memang sudah sangat banyak. Pendiri Bojonegoro Breakin itu mengaku, para b-boy dari Bojonegoro memang memiliki nama besar di luar kota.

Sebab, kala itu, selain jumlahnya banyak, berbagai event luar kota banyak yang diikuti. Pria yang pernah bergabung dengan kelompok breakdance kota Gresik itu mengaku, dulu banyak b-boy dari berbagai kota untuk berlatih bersama di Bojonegoro. 

Secara filosofi, breakdance menggambarkan kebebasan dan keinginan untuk hidup merdeka. Hanya, dia tidak memungkiri jika banyak orang takut belajar breakdance karena khawatir cedera. 

Baca Juga :  Sebabkan Polusi, Pemkab Bentuk Tim Pengawas Produksi Batching Plant

“Cedera tentu wajar. Dalam berbagai olahraga pasti juga ada ancaman cedera. Tapi, itu tidak terjadi jika dilakukan dengan hati-hati,” kata dia. 

Salah satu kesan paling tak terlupakan selama membidangi Bojonegoro Breakin adalah saat Bojonegoro mampu mengundang b-boy dari berbagai daerah pada 2013 lalu.

Menurut dia, itu event breakin terbesar pernah terselenggara di Bojonegoro.Saat itu, sejumlah b-boy dari berbagai kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, Lumajang, hingga Bali berdatangan ke Bojonegoro untuk melakukan battle bersama.

Sejak saat itu, nama Bojonegoro dalam hal breakin sejajar dengan kota-kota lainnya. “Sangat bangga karena membawa nama Bojonegoro dari sudut apresiasi yang berbeda,” kata dia 

Saat ini, Bojonegoro Breakin memang sedang break. Sebab, banyak anggota yang memilih bekerja dan melanjutkan sekolah. Namun, Reza percaya jika berbagai unsur di dalam Bojonegoro Breakin masih bernyawa dan akan kembali bergerak. Hanya, saat ini masih menunggu momentum.

FEATURES – Bojonegoro pernah populer dengan subkebudayaan breakdance-nya. Salah satu tokohnya adalah Reza Kurnia Adytia.

Instrumen lagu breakbeat terdengar ritmis di salah satu rumah di Gg. Kuncoro I Jalan WR. Supratman kemarin (6/3). Di depan meja kayu berwarna cokelat, gayeng bercerita. 

Lelaki itu bernama Reza Kurnia Adytia. Kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro, 29, banyak bercerita tentang Bojonegoro Breakin. “Dulu memang ada namanya Bojonegoro Breakin, kita dirikan pada 2008 lalu,” kata Reza. 

Meski tergolong kota kecil, Bojonegoro memiliki budaya breakdance cukup populer. Terutama pada era 2010-an. Sejak dibentuk pada 2008 lalu, salah satu pendiri Bojonegoro Breakin itu menceritakan,  breakdance sangat dinamis di Bojonegoro.

Hanya, karena banyak para b-boy (sebutan penari breakdance) bekerja dan belajar di luar kota, kegiatan breakdance vakum. 

Bojonegoro Breakin merupakan komunitas breakdance pertama di Bojonegoro. Itu menjadi alasan popularitasnya di luar kota selalu membawa nama Bojonegoro.

Reza yang kala itu mendirikan komunitas tersebut memang tidak memiliki visi muluk-muluk. Hanya ingin memperkenalkan budaya pop tersebut di Bojonegoro.

Baca Juga :  Dua Gedung Baru DPRD Telan Rp 80 Miliar

Namun, seiring perjalanannya, jumlah anggota dan peminat meningkat. Kegiatan breakdance pun tidak hanya di dalam kota. Melainkan di berbagai kota di Jawa Timur pernah disinggahi.

Ramai-ramainya breakdance, kata Reza, terjadi pada kurun waktu 2010 hingga 2015. Pada masa itu, nama Bojonegoro Breakin sempat mengudara. Kerap tampil luar kota pernah dilakukan.

Kota-kota seperti Madiun, Malang, Surabaya, Jogjakarta, hingga Bali menjadi kota langganan yang mendatangkan Bojonegoro Breakin untuk perform.

Bahkan, meski sangat jarang berorientasi prestasi, Bojonegoro Breakin pernah menjadi juara 3 kontes breakdance se-Jawa Timur. 

Secara pribadi, pengalaman Reza tampil di berbagai event breakdance memang sudah sangat banyak. Pendiri Bojonegoro Breakin itu mengaku, para b-boy dari Bojonegoro memang memiliki nama besar di luar kota.

Sebab, kala itu, selain jumlahnya banyak, berbagai event luar kota banyak yang diikuti. Pria yang pernah bergabung dengan kelompok breakdance kota Gresik itu mengaku, dulu banyak b-boy dari berbagai kota untuk berlatih bersama di Bojonegoro. 

Secara filosofi, breakdance menggambarkan kebebasan dan keinginan untuk hidup merdeka. Hanya, dia tidak memungkiri jika banyak orang takut belajar breakdance karena khawatir cedera. 

Baca Juga :  Wisata Masih Tutup, Siasati Buka Kafe

“Cedera tentu wajar. Dalam berbagai olahraga pasti juga ada ancaman cedera. Tapi, itu tidak terjadi jika dilakukan dengan hati-hati,” kata dia. 

Salah satu kesan paling tak terlupakan selama membidangi Bojonegoro Breakin adalah saat Bojonegoro mampu mengundang b-boy dari berbagai daerah pada 2013 lalu.

Menurut dia, itu event breakin terbesar pernah terselenggara di Bojonegoro.Saat itu, sejumlah b-boy dari berbagai kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, Lumajang, hingga Bali berdatangan ke Bojonegoro untuk melakukan battle bersama.

Sejak saat itu, nama Bojonegoro dalam hal breakin sejajar dengan kota-kota lainnya. “Sangat bangga karena membawa nama Bojonegoro dari sudut apresiasi yang berbeda,” kata dia 

Saat ini, Bojonegoro Breakin memang sedang break. Sebab, banyak anggota yang memilih bekerja dan melanjutkan sekolah. Namun, Reza percaya jika berbagai unsur di dalam Bojonegoro Breakin masih bernyawa dan akan kembali bergerak. Hanya, saat ini masih menunggu momentum.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/