alexametrics
22.6 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Ujian Berlipat Produsen Tahu, Menghadapi Pandemi & Kedelai Impor Mahal

Nasib para produsen tahu maupun tempe makin mengenaskan. Harga bahan baku kedelai impor bukannya turun. Justru, harga melonjak. Kemarin (7/2) harga kedelai tembus Rp 9.600 per kilogram. Begitu pula, harga minyak goreng masih kisaran Rp 13.000 per kilogram. 

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

Zainudin merasa heran dan geregetan, harga kedelai belum kunjung turun. Sejak akhir November, hingga saat ini belum ada titik terang kedelai impor turun. Ia hanya bisa menggerutu dengan pekerjanya saat merendam tahu untuk proses pembuatan tahu. ‘’Sekarang kedelai impor justru tembus Rp 9.600 per kilogram (normalnya Rp 6.500). Coba bayangkan? Bagaimana nasib kami,’’ ujar produsen tahu asal Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota, itu kemarin.

Kesabaran produsen tahu berlipat. Selain bertahan menghadapi pandemi Covid-19, tutur dia, produsen tahu juga menghadapi harga bahan baku yang mahal. Kondisi ini, Zainudin berharap pihak terkait agar segera mencarikan solusi.

Kerugian sudah dijalaninya. Upaya tak berjualan cukup riskan kehilangan pelanggan. Arifin produsen tahu lainnya mengaku masih bertahan dengan memperkecil ukuran tahu. Pria berjualan di Pasar Bojonegoro Kota itu masih belum berani menaikkan harga tahu, takut kehilangan pelanggan.

Baca Juga :  Harga Beras di Pasaran Tinggi, Bulog Belum Agresif

Menurutnya, butuh peran dari pemerintah untuk mengumpulkan para produsen tahu agar bisa secara kompak menaikkan harga. “Kami pun butuh solusi agar usaha produksi tahu ini bisa tetap berjalan. Apabila hendak menaikkan harga tahu butuh kekompakan dari seluruh produsen. Semoga ada solusi dari pemerintah,” ujar produsen tahu juga asal Kelurahan Ledok Kulon.

Ketua Paguyuban Produsen Tahu Ledok Kulon Pranyoto pun merasa menaikkan harga tahu secara serentak ini sulit diimplementasikan. Mengingat jumlah produsen tahu di Ledok Kulon ada sekitar 159 produsen. Tiap produsen itu menyebar di pasar seputar Bojonegoro, Tuban, Cepu, hingga Gresik. Jadi, tiap produsen punya pelanggannya sendiri-sendiri.

“Jadi sebenarnya meskipun ada paguyuban ini, setiap produsen tahu juga tetap saling bersaing soal harga. Masing-masing produsen punya pelanggan sendiri,” ujar produsen dan berjualan tahu di pasar di wilayah Kabupaten Blora itu. Harga kedelai impor pada akhir Januari lalu sempat turun menjadi Rp 8.900 per kilogram. Namun, tiba-tiba naik menjadi Rp 9.600 per kilogram sejak Sabtu malam lalu (6/2).

Baca Juga :  Mati di Parit

Pihaknya pun ingin mengadu ke Komisi B DPRD Bojonegoro, agar dicarikan solusi. Karena kondisinya semakin memprihatinkan. Beberapa produsen tahu sudah berhenti produksi dan menjual sapinya.

“Jumlah secara pasti produsen tahu yang sudah berhenti produksi, saya belum bisa memastikan. Tentunya ada dan beberapa juga mulai menjual sapi,” katanya.

Pranyoto hanya bisa gigit jari. Karena ketersediaan stok kedelai impor asal Argentina, Amerika Serikat, atau Brasil ini tidak langka. Tapi, harga tak kunjung turun. “Jadi ini sebenarnya yang menaikkan harga ini orang yang di Indonesia atau orang Amerika sana?,” keluhnya.

Nasib para produsen tahu maupun tempe makin mengenaskan. Harga bahan baku kedelai impor bukannya turun. Justru, harga melonjak. Kemarin (7/2) harga kedelai tembus Rp 9.600 per kilogram. Begitu pula, harga minyak goreng masih kisaran Rp 13.000 per kilogram. 

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

Zainudin merasa heran dan geregetan, harga kedelai belum kunjung turun. Sejak akhir November, hingga saat ini belum ada titik terang kedelai impor turun. Ia hanya bisa menggerutu dengan pekerjanya saat merendam tahu untuk proses pembuatan tahu. ‘’Sekarang kedelai impor justru tembus Rp 9.600 per kilogram (normalnya Rp 6.500). Coba bayangkan? Bagaimana nasib kami,’’ ujar produsen tahu asal Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota, itu kemarin.

Kesabaran produsen tahu berlipat. Selain bertahan menghadapi pandemi Covid-19, tutur dia, produsen tahu juga menghadapi harga bahan baku yang mahal. Kondisi ini, Zainudin berharap pihak terkait agar segera mencarikan solusi.

Kerugian sudah dijalaninya. Upaya tak berjualan cukup riskan kehilangan pelanggan. Arifin produsen tahu lainnya mengaku masih bertahan dengan memperkecil ukuran tahu. Pria berjualan di Pasar Bojonegoro Kota itu masih belum berani menaikkan harga tahu, takut kehilangan pelanggan.

Baca Juga :  Prediksi Penurunan DBH Tidak Logis

Menurutnya, butuh peran dari pemerintah untuk mengumpulkan para produsen tahu agar bisa secara kompak menaikkan harga. “Kami pun butuh solusi agar usaha produksi tahu ini bisa tetap berjalan. Apabila hendak menaikkan harga tahu butuh kekompakan dari seluruh produsen. Semoga ada solusi dari pemerintah,” ujar produsen tahu juga asal Kelurahan Ledok Kulon.

Ketua Paguyuban Produsen Tahu Ledok Kulon Pranyoto pun merasa menaikkan harga tahu secara serentak ini sulit diimplementasikan. Mengingat jumlah produsen tahu di Ledok Kulon ada sekitar 159 produsen. Tiap produsen itu menyebar di pasar seputar Bojonegoro, Tuban, Cepu, hingga Gresik. Jadi, tiap produsen punya pelanggannya sendiri-sendiri.

“Jadi sebenarnya meskipun ada paguyuban ini, setiap produsen tahu juga tetap saling bersaing soal harga. Masing-masing produsen punya pelanggan sendiri,” ujar produsen dan berjualan tahu di pasar di wilayah Kabupaten Blora itu. Harga kedelai impor pada akhir Januari lalu sempat turun menjadi Rp 8.900 per kilogram. Namun, tiba-tiba naik menjadi Rp 9.600 per kilogram sejak Sabtu malam lalu (6/2).

Baca Juga :  Mati di Parit

Pihaknya pun ingin mengadu ke Komisi B DPRD Bojonegoro, agar dicarikan solusi. Karena kondisinya semakin memprihatinkan. Beberapa produsen tahu sudah berhenti produksi dan menjual sapinya.

“Jumlah secara pasti produsen tahu yang sudah berhenti produksi, saya belum bisa memastikan. Tentunya ada dan beberapa juga mulai menjual sapi,” katanya.

Pranyoto hanya bisa gigit jari. Karena ketersediaan stok kedelai impor asal Argentina, Amerika Serikat, atau Brasil ini tidak langka. Tapi, harga tak kunjung turun. “Jadi ini sebenarnya yang menaikkan harga ini orang yang di Indonesia atau orang Amerika sana?,” keluhnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/