alexametrics
33.2 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Hujan Rendah, Malah Siaga Merah

Radar Lamongan – Intensitas hujan di Lamongan minggu ini melandai. Namun debit air Bengawan Solo di wilayah Kota Soto tersebut justru meningkat. Bahkan di titik pantau Bendung Gerak (BG) Babat mencapai siaga merah. ‘’Tadi pagi (kemarin pagi, Red) di (titik pantau) Karanggeneng dan Laren siaga merah, tapi siang ini sudah turun menjadi siaga kuning, dan di Kuro masih siaga hijau.

Tapi di BG Babat terjadi kenaikan dan masih merah,’’ kata Kasi Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Muslimin kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (7/2).

Menurut dia, berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo ketinggian air di BG Babat mencapai 6,85 meter di hulu dan 6,75 meter di hilir hingga kemarin sore. ‘’Sudah bisa dikatakan siaga merah bila ketinggian air di BG Babat 6,72 meter,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan, potensi kenaikan debit air di DAS Bengawan Solo Lamongan akibat kiriman air dari hulu. Meskipun di Lamongan curah hujan tidak setinggi bulan lalu, namun hujan deras menyelimuti wilayah barat (hulu Bengawan Solo). ‘’Kami terus meng-update informasi terbaru debit air di Bengawan Solo,’’ katanya.

Baca Juga :  Ujian Susulan Minggu

Menurut dia, debit air Bengawan Solo juga masih berpotensi naik. Hal itu imbas dari sejumlah kabupaten/ kota di Jateng yang dilanda banjir. Sehingga, air di sana akan dibuang secara masif ke Bengawan Solo. ‘’Tapi tidak menutup kemungkinan akan terjadi tren naik lagi, karena kondisi di Jateng masih hujan,’’ imbuhnya.

Informasi yang dia terima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terjadi potensi hujan saat sore hari. Namun, terang dia, guyuran hujan dalam beberapa hari ke depan tidak merata. ‘’Tapi diperkirakan curah hujan bulan ini lebih tinggi dari sebelumnya. Jadi kita masih terus meningkatkan kewaspadaan,’’ tutur Muslimin.

Terpisah Kepala Divisi Perum Jasa Tirta (PJT) BojonegoroLamongan, Anang menambahkan, status Bengawan Solo sebenarnya siaga merah sejak Sabtu malam (6/2). Karena berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan di Pulau Jawa selatan intensitasnya tinggi. Sehingga wilayah hulu Bengawan Solo, seperti Solo, Madiun, Sragen, masih siaga merah. Karena debit air melonjak. Namun mi nggu pagi mulai surut.

Baca Juga :  Gambarnya Identik Ayam dan Bebek, Ada Tingkat Kerumitan

Menurut dia, harapannya curah hujan di Lamongan –Bojonegoro tidak tinggi, supaya debit Bengawan Solo tidak terjadi kenaikan. “Kalau kiriman dari Kali Madiun dan Sragen tidak akan berdampak besar untuk Bojonegoro-Lamongan. Tapi kalau dua wilayah ini terjadi hujan intensitas tinggi, dimungkinkan akan bertambah debitnya sehingga statusnya bisa naik,’’ terangnya.

Karena itu, Anang tetap mengingatkan bagi mereka yang tinggal di wilayah bantaran Bengawan Solo sebaiknya mengurangi aktivitas di sekitar be ngawan. Sebab kondisi de bit bengawan tidak bisa diprediksi.

Radar Lamongan – Intensitas hujan di Lamongan minggu ini melandai. Namun debit air Bengawan Solo di wilayah Kota Soto tersebut justru meningkat. Bahkan di titik pantau Bendung Gerak (BG) Babat mencapai siaga merah. ‘’Tadi pagi (kemarin pagi, Red) di (titik pantau) Karanggeneng dan Laren siaga merah, tapi siang ini sudah turun menjadi siaga kuning, dan di Kuro masih siaga hijau.

Tapi di BG Babat terjadi kenaikan dan masih merah,’’ kata Kasi Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Muslimin kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (7/2).

Menurut dia, berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo ketinggian air di BG Babat mencapai 6,85 meter di hulu dan 6,75 meter di hilir hingga kemarin sore. ‘’Sudah bisa dikatakan siaga merah bila ketinggian air di BG Babat 6,72 meter,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan, potensi kenaikan debit air di DAS Bengawan Solo Lamongan akibat kiriman air dari hulu. Meskipun di Lamongan curah hujan tidak setinggi bulan lalu, namun hujan deras menyelimuti wilayah barat (hulu Bengawan Solo). ‘’Kami terus meng-update informasi terbaru debit air di Bengawan Solo,’’ katanya.

Baca Juga :  Gambarnya Identik Ayam dan Bebek, Ada Tingkat Kerumitan

Menurut dia, debit air Bengawan Solo juga masih berpotensi naik. Hal itu imbas dari sejumlah kabupaten/ kota di Jateng yang dilanda banjir. Sehingga, air di sana akan dibuang secara masif ke Bengawan Solo. ‘’Tapi tidak menutup kemungkinan akan terjadi tren naik lagi, karena kondisi di Jateng masih hujan,’’ imbuhnya.

Informasi yang dia terima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terjadi potensi hujan saat sore hari. Namun, terang dia, guyuran hujan dalam beberapa hari ke depan tidak merata. ‘’Tapi diperkirakan curah hujan bulan ini lebih tinggi dari sebelumnya. Jadi kita masih terus meningkatkan kewaspadaan,’’ tutur Muslimin.

Terpisah Kepala Divisi Perum Jasa Tirta (PJT) BojonegoroLamongan, Anang menambahkan, status Bengawan Solo sebenarnya siaga merah sejak Sabtu malam (6/2). Karena berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan di Pulau Jawa selatan intensitasnya tinggi. Sehingga wilayah hulu Bengawan Solo, seperti Solo, Madiun, Sragen, masih siaga merah. Karena debit air melonjak. Namun mi nggu pagi mulai surut.

Baca Juga :  Pengurus Persela Terpaksa Patungan Untuk Bayar Gaji Pemain dan Pelatih

Menurut dia, harapannya curah hujan di Lamongan –Bojonegoro tidak tinggi, supaya debit Bengawan Solo tidak terjadi kenaikan. “Kalau kiriman dari Kali Madiun dan Sragen tidak akan berdampak besar untuk Bojonegoro-Lamongan. Tapi kalau dua wilayah ini terjadi hujan intensitas tinggi, dimungkinkan akan bertambah debitnya sehingga statusnya bisa naik,’’ terangnya.

Karena itu, Anang tetap mengingatkan bagi mereka yang tinggal di wilayah bantaran Bengawan Solo sebaiknya mengurangi aktivitas di sekitar be ngawan. Sebab kondisi de bit bengawan tidak bisa diprediksi.

Artikel Terkait

Most Read

Jalan Jalan ke Turki (1)

Manajemen Akan Membubarkan Tim

Artikel Terbaru


/