alexametrics
27 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Kantor Semen di Demo, Ini Penyebabnya

KEREK – Ratusan warga yang mengatasnamakan Jaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Mas), kemarin (7/2) menggelar demo di depan kantor Semen Indonesia Group di kompleks pabrik Semen Gresik, Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek. Tuntutannya, agar corporate social responsibility (CSR) tepat sasaran dan transparannya perekrutan tenaga kerja.

Demo tersebut juga mendesak sengketa tanah warga Desa Gaji dituntaskan dan dikembalikan kepada pemilik. Sambil berorasi, para pengunjuk rasa membentangkan sejumlah poster bertuliskan tuntutan. Mereka di antaranya dari desa di ring I.

Meliputi Margorejo, Jarorejo, Gaji, Kedungrejo, Kasiman,  Sumberarum, dan Karanglo, seluruhnya di Kecamatan Kerek.  Berikutnya, Desa Karangasem dan Socorejo, keduanya di Kecamatan Jenu. 

Dalam pernyataaan sikap yang ditandatangani Sugiman, penanggung jawab demo dinyatakan, sejak berdirinya pabrik hingga saat ini warga di lingkungan pabrik belum merasakan kesejahteraan yang maksimal.

Pasalnya, CSR hanya dinikmati kalangan tertentu. Terbukti, masih banyak warga di sekitar pabrik yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Dalam pernyataan sikap tersebut juga disampaikan, keberadaan PT Semen Gresik tidak mampu mendongkrak perekonomian dan membuka lowongan pekerjaan bagi warga ring I.  

Baca Juga :  Aktivis Mahasiswa Janji Kawal Judicial Review Omnibus Law

Terkait dengan tanah Gaji, Jaring Mas meminta perusahaan menuntaskan dan mengembalikan hak kepemilikan tanah kepada warga Gaji. 

‘’Kasus tanah Gaji sampai sekarang belum ada hasilnya,’’ tegas Abu Nasir, salah satu perwakilan warga.

Kabiro Humas dan CSR PT Semen Gresik Kuswadi saat dikonfirmasi mengatakan, selama ini PT Semen Gresik telah berbuat banyak bagi warga sekitar dan masyarakat Tuban pada umumnya.

Salah satunya melalui program CSR yang sudah disalurkan sesuai dengan aturan yang berlaku. ‘’Untuk Program FMK (Forum Masyarakat Kokoh) sudah kita realisasikan’’ tegasnya. 

Pada 2017 ini, terang dia, realisasi FMK tahun kedua sebesar Rp 7,25 miliar untuk 26 Desa. Di antara desa yang menerima adalah Jarorejo, Karanglo, Margorejo, dan Kedungrejo, keempatnya di Kecamatan Kerek.

Juga, Desa Karangasem, Kecamatan Jenu. Masing-masing desa menerima sebesar Rp 250 juta.

Selain itu, tiga kecamatan masing-masing menerima kegiatan senilai Rp 250 juta untuk  bantuan mobil siaga, tandon air, jalan usaha tani, pelatihan pengelasan, sibelisasi dan lainnya. Ketiga kecamatan tersebut, Jenu, Kerek, dan Merakurak.

Baca Juga :  Akibat As Belakang Patah

Bahkan, juga dilakukan bedah rumah sebanyak 40 unit dengan nilai masing-masing Rp 45 juta.

‘’Sumur bor dan pembangunan tandon air di Desa Gaji pemanfaatannya untuk 650 kepala keluarga (KK) dengan  total anggaran yang dikucurkan senilai Rp 300 juta,’’ jelasnya. 

Program lainnya, sembako murah senilai Rp 150 ribu sebanyak 15 ribu paket sembako dan bantuan 32 ekor hewan kurban. 

Kuswadi juga mengungkapkan, perusahaannya juga mengadakan program bimbingan belajar untuk warga prasejahtera sekitar perusahaan. Jumlah penerimanya 40 anak.

Juga, memberikan beasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) untuk 10 anak dari keluarga prasejahtera. Berikutnya, bantuan untuk masjid,  musala, taman pendidikan Alquran sebanyak 9.000 zak semen. ‘’Untuk tahun ini masih dalam progress,’’ imbuh Kuswadi. 

Terkait tenaga kerja, menurut dia, hampir 90 persen personel outsourcing dari warga lokal. Bahkan, tenaga kerja anak perusahaan hampir 70 persen dari warga lokal.

’’Untuk permasalahan tanah di Gaji, kita menghormati proses hukum yang saat ini masih berlangsung di PTUN,’’ imbuh dia.

KEREK – Ratusan warga yang mengatasnamakan Jaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Mas), kemarin (7/2) menggelar demo di depan kantor Semen Indonesia Group di kompleks pabrik Semen Gresik, Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek. Tuntutannya, agar corporate social responsibility (CSR) tepat sasaran dan transparannya perekrutan tenaga kerja.

Demo tersebut juga mendesak sengketa tanah warga Desa Gaji dituntaskan dan dikembalikan kepada pemilik. Sambil berorasi, para pengunjuk rasa membentangkan sejumlah poster bertuliskan tuntutan. Mereka di antaranya dari desa di ring I.

Meliputi Margorejo, Jarorejo, Gaji, Kedungrejo, Kasiman,  Sumberarum, dan Karanglo, seluruhnya di Kecamatan Kerek.  Berikutnya, Desa Karangasem dan Socorejo, keduanya di Kecamatan Jenu. 

Dalam pernyataaan sikap yang ditandatangani Sugiman, penanggung jawab demo dinyatakan, sejak berdirinya pabrik hingga saat ini warga di lingkungan pabrik belum merasakan kesejahteraan yang maksimal.

Pasalnya, CSR hanya dinikmati kalangan tertentu. Terbukti, masih banyak warga di sekitar pabrik yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Dalam pernyataan sikap tersebut juga disampaikan, keberadaan PT Semen Gresik tidak mampu mendongkrak perekonomian dan membuka lowongan pekerjaan bagi warga ring I.  

Baca Juga :  Pertanyaan Retribusi Nelayan

Terkait dengan tanah Gaji, Jaring Mas meminta perusahaan menuntaskan dan mengembalikan hak kepemilikan tanah kepada warga Gaji. 

‘’Kasus tanah Gaji sampai sekarang belum ada hasilnya,’’ tegas Abu Nasir, salah satu perwakilan warga.

Kabiro Humas dan CSR PT Semen Gresik Kuswadi saat dikonfirmasi mengatakan, selama ini PT Semen Gresik telah berbuat banyak bagi warga sekitar dan masyarakat Tuban pada umumnya.

Salah satunya melalui program CSR yang sudah disalurkan sesuai dengan aturan yang berlaku. ‘’Untuk Program FMK (Forum Masyarakat Kokoh) sudah kita realisasikan’’ tegasnya. 

Pada 2017 ini, terang dia, realisasi FMK tahun kedua sebesar Rp 7,25 miliar untuk 26 Desa. Di antara desa yang menerima adalah Jarorejo, Karanglo, Margorejo, dan Kedungrejo, keempatnya di Kecamatan Kerek.

Juga, Desa Karangasem, Kecamatan Jenu. Masing-masing desa menerima sebesar Rp 250 juta.

Selain itu, tiga kecamatan masing-masing menerima kegiatan senilai Rp 250 juta untuk  bantuan mobil siaga, tandon air, jalan usaha tani, pelatihan pengelasan, sibelisasi dan lainnya. Ketiga kecamatan tersebut, Jenu, Kerek, dan Merakurak.

Baca Juga :  Puluhan Warga Tolak Pengukur Lahan Kilang

Bahkan, juga dilakukan bedah rumah sebanyak 40 unit dengan nilai masing-masing Rp 45 juta.

‘’Sumur bor dan pembangunan tandon air di Desa Gaji pemanfaatannya untuk 650 kepala keluarga (KK) dengan  total anggaran yang dikucurkan senilai Rp 300 juta,’’ jelasnya. 

Program lainnya, sembako murah senilai Rp 150 ribu sebanyak 15 ribu paket sembako dan bantuan 32 ekor hewan kurban. 

Kuswadi juga mengungkapkan, perusahaannya juga mengadakan program bimbingan belajar untuk warga prasejahtera sekitar perusahaan. Jumlah penerimanya 40 anak.

Juga, memberikan beasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) untuk 10 anak dari keluarga prasejahtera. Berikutnya, bantuan untuk masjid,  musala, taman pendidikan Alquran sebanyak 9.000 zak semen. ‘’Untuk tahun ini masih dalam progress,’’ imbuh Kuswadi. 

Terkait tenaga kerja, menurut dia, hampir 90 persen personel outsourcing dari warga lokal. Bahkan, tenaga kerja anak perusahaan hampir 70 persen dari warga lokal.

’’Untuk permasalahan tanah di Gaji, kita menghormati proses hukum yang saat ini masih berlangsung di PTUN,’’ imbuh dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/