alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Warga Keluhkan Penyakit Kulit

LAMONGAN, Radar Lamongan – Warga Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng juga menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari air daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. Termasuk untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak. 

Dalam tiga hari ini, warga sekitar mengeluhkan penyakit kulit setelah mandi menggunakan air DAS Bengawan Solo.  Itu juga menjadi indikasi sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut tercemar limbah elain dari warna, bau, dan berbusa.

‘’Setelah mandi air ini, langsung merasakan gatal-gatal. Seperti digigit tomcat,’’ tutur salah satu warga sekitar, Supri sembari menunjukkan penyakit kulit dikakinya. 

Supri menyatakan, penyakit kulit juga dikeluhkan banyak warga setelah mandi. Itu yang membuat pria paro baya itu cukup yakin jika air Bengawan Solo terindikasi tercemar limbah. 

Baca Juga :  Butuh ¬≠Perda Tekan Penderita Tuberkulosis

‘’Sangat merugikan warga sekitar. Karena kami menggantungkan hanya dari air ini untuk kebutuhan sehari-hari,’’ tukasnya. 

Selanjutnya, Supri menunjukkan kondisi air dipemukiman warga sekitar. Berdasarkan pantauan wartawan koran ini, air dipemukiman warga warnanya kehitaman dan berbau. Supri mengatakan, warna air lebih gelap dua hari lalu. 

‘’Sekarang sudah mendingan dibanding dua hari lalu. Selain itu, untungnya di sini ada penyaringan air,’’ imbuhnya. 

Penyakit kulit juga dialami Muriyoto. Selain itu, terang Muriyoto, pakaian yang menggunakan air tetap berbau meski sudah kering. Sedangkan, warga sekitar tigak berani menggunakan air Bengawan Solo untuk minum. 

‘’Kalau untuk kebutuhan minum dan memasak, ya sekarang terpaksa beli air isi ulang,’’ pungkas Muriyoto.

Baca Juga :  Jumlah Kunjungan Puskesmas Menurun

LAMONGAN, Radar Lamongan – Warga Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng juga menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari air daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. Termasuk untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak. 

Dalam tiga hari ini, warga sekitar mengeluhkan penyakit kulit setelah mandi menggunakan air DAS Bengawan Solo.  Itu juga menjadi indikasi sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut tercemar limbah elain dari warna, bau, dan berbusa.

‘’Setelah mandi air ini, langsung merasakan gatal-gatal. Seperti digigit tomcat,’’ tutur salah satu warga sekitar, Supri sembari menunjukkan penyakit kulit dikakinya. 

Supri menyatakan, penyakit kulit juga dikeluhkan banyak warga setelah mandi. Itu yang membuat pria paro baya itu cukup yakin jika air Bengawan Solo terindikasi tercemar limbah. 

Baca Juga :  Lamban, Verifikasi PBI-JKN secara Manual

‘’Sangat merugikan warga sekitar. Karena kami menggantungkan hanya dari air ini untuk kebutuhan sehari-hari,’’ tukasnya. 

Selanjutnya, Supri menunjukkan kondisi air dipemukiman warga sekitar. Berdasarkan pantauan wartawan koran ini, air dipemukiman warga warnanya kehitaman dan berbau. Supri mengatakan, warna air lebih gelap dua hari lalu. 

‘’Sekarang sudah mendingan dibanding dua hari lalu. Selain itu, untungnya di sini ada penyaringan air,’’ imbuhnya. 

Penyakit kulit juga dialami Muriyoto. Selain itu, terang Muriyoto, pakaian yang menggunakan air tetap berbau meski sudah kering. Sedangkan, warga sekitar tigak berani menggunakan air Bengawan Solo untuk minum. 

‘’Kalau untuk kebutuhan minum dan memasak, ya sekarang terpaksa beli air isi ulang,’’ pungkas Muriyoto.

Baca Juga :  Butuh ¬≠Perda Tekan Penderita Tuberkulosis

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/