alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Wisudawan Terbaik Stikes Maboro Bikin Aplikasi Rumah Sakit

Radar Bojonegoro – Cukup ulet meniti kuliah. Ingin ubah sistem rumah sakit masih manual menjadi berbasis teknologi. Sehingga pelayanan lebih cepat. Hasilnya, aplikasinya membuat dosen pembimbingnya kagum.

Hestik Ottafiyah masih menan dakan keceriaan usai menjalani wisuda Kamis (5/11). Tak menyangka, penelitian terkait membuat aplikasi pendaftaran pasien rawat jalan membawanya menjadi wisudawan terbaik. Menjadi mahasiswa Stikes Maboro dengan IPK 3,82 atau cumlaude.

Salah satu dosen pembimbing mengatakan nilai tugas akhir mahasiwi asal Desa Kunci, Kecamatan Dander, itu nyaris sempurna. Hastik membuat penelitian dengan judul Rancang Bangun Sistem Informasi Pendaftaran Pasien Rawat Jalan di RS Ibnu Sina Bojonegoro. Dilatarbelakangi masih banyak rumah sakit (RS) menggunakan sistem manual.

Wisudawan 21 tahun berpikir mengikuti perkembangan zaman mengharuskan semua pelayanan rumah sakit harus cepat dan efisien. Tentu agar pasien merasa puas. Sehingga pelayanan sistem informasi pendaftaran dibutuhkan. “Memang dari pihak kampus sendiri ditekankan untuk ambil penelitian berbau IT,” ungkap wisudawan sering mendapat beasiswa itu. Hestik berharap aplikasinya bisa digunakan di rumah sakit agar berguna untuk pelayanan.

Baca Juga :  Ledok Kulon dan Ledok Wetan Awalnya Satu Tlatah

Bisa lebih cepat, efisien dan sesuai standar. “Pendapatan dari rumah sakit sendiri bisa lebih meningkat,” ungkap wisudawan mengelola bisnis sejak semester dua itu. Aplikasi buatan Hestik sudah diuji pembimbing dan penguji. Dan sudah siap digunakan. Namun, belum diterapkan karena penelitian hanya sampai pembuatan, tidak sampai penerapan. Selain itu, izin uji coba di RS cukup sulit.

“Alhamdulillah untuk aplikasi sudah bagus, bahkan sudah mirip aplikasi rumah sakit lain. Desain juga sudah bagus, tinggal diaplikasikan saja,” jelas anak kedua itu. Tak mudah membuat aplikasi itu, mengingat Hestik juga sebagai aktivis kampus. Mantan ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM) membuat aplikasi belajar tutorial di YouTube. Selain itu berdiskusi dengan temanteman berkuliah jurusan IT.

Baca Juga :  Hanya Lima Caleg Perempuan Terpilih

“Karena dari Stikes hanya dasarnya saja,” ujar wisudawan jurusan D3 perekam dan informasi kesehatan itu. Hestik merasa jadi wisudawan terbaik hanya bonus. Karena pengalaman ketika menempuh kuliah jauh lebih banyak dan berharga. Mulai pernah mengikuti banyak perlombaan, aktif di berbagai organiasi hingga belajar berbisnis.

“Pernah berangkat ke Singapura karena bisnis ditekuni,” ungkap wisudawan pernah menjadi Ketua PK IMM As-Syifa Stikes Maboro itu. Wisudawan dengan IPK tertinggi itu kini bekerja di RSIM Sumberrejo bagian rekam medis dan informasi. Bahkan bekerja sejak Juli lalu setelah sidang seminar. (irv)

Radar Bojonegoro – Cukup ulet meniti kuliah. Ingin ubah sistem rumah sakit masih manual menjadi berbasis teknologi. Sehingga pelayanan lebih cepat. Hasilnya, aplikasinya membuat dosen pembimbingnya kagum.

Hestik Ottafiyah masih menan dakan keceriaan usai menjalani wisuda Kamis (5/11). Tak menyangka, penelitian terkait membuat aplikasi pendaftaran pasien rawat jalan membawanya menjadi wisudawan terbaik. Menjadi mahasiswa Stikes Maboro dengan IPK 3,82 atau cumlaude.

Salah satu dosen pembimbing mengatakan nilai tugas akhir mahasiwi asal Desa Kunci, Kecamatan Dander, itu nyaris sempurna. Hastik membuat penelitian dengan judul Rancang Bangun Sistem Informasi Pendaftaran Pasien Rawat Jalan di RS Ibnu Sina Bojonegoro. Dilatarbelakangi masih banyak rumah sakit (RS) menggunakan sistem manual.

Wisudawan 21 tahun berpikir mengikuti perkembangan zaman mengharuskan semua pelayanan rumah sakit harus cepat dan efisien. Tentu agar pasien merasa puas. Sehingga pelayanan sistem informasi pendaftaran dibutuhkan. “Memang dari pihak kampus sendiri ditekankan untuk ambil penelitian berbau IT,” ungkap wisudawan sering mendapat beasiswa itu. Hestik berharap aplikasinya bisa digunakan di rumah sakit agar berguna untuk pelayanan.

Baca Juga :  Mutasi 21 Pejabat dan 11 Kepala SMP, Ini Nama-Namanya

Bisa lebih cepat, efisien dan sesuai standar. “Pendapatan dari rumah sakit sendiri bisa lebih meningkat,” ungkap wisudawan mengelola bisnis sejak semester dua itu. Aplikasi buatan Hestik sudah diuji pembimbing dan penguji. Dan sudah siap digunakan. Namun, belum diterapkan karena penelitian hanya sampai pembuatan, tidak sampai penerapan. Selain itu, izin uji coba di RS cukup sulit.

“Alhamdulillah untuk aplikasi sudah bagus, bahkan sudah mirip aplikasi rumah sakit lain. Desain juga sudah bagus, tinggal diaplikasikan saja,” jelas anak kedua itu. Tak mudah membuat aplikasi itu, mengingat Hestik juga sebagai aktivis kampus. Mantan ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM) membuat aplikasi belajar tutorial di YouTube. Selain itu berdiskusi dengan temanteman berkuliah jurusan IT.

Baca Juga :  Diperpanjang, Batas Penyerapan APBD 

“Karena dari Stikes hanya dasarnya saja,” ujar wisudawan jurusan D3 perekam dan informasi kesehatan itu. Hestik merasa jadi wisudawan terbaik hanya bonus. Karena pengalaman ketika menempuh kuliah jauh lebih banyak dan berharga. Mulai pernah mengikuti banyak perlombaan, aktif di berbagai organiasi hingga belajar berbisnis.

“Pernah berangkat ke Singapura karena bisnis ditekuni,” ungkap wisudawan pernah menjadi Ketua PK IMM As-Syifa Stikes Maboro itu. Wisudawan dengan IPK tertinggi itu kini bekerja di RSIM Sumberrejo bagian rekam medis dan informasi. Bahkan bekerja sejak Juli lalu setelah sidang seminar. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Panen Kelengkeng di Tegalan

Buru Dua Striker Lokal

KOMUNIKASI PENDIDIKAN 

Artikel Terbaru

/