alexametrics
23.6 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Dinas Peternakan Didesak Serius Atasi Produksi Telur Yang Minim

Radar Bojonegoro – Kekurangan produksi telur di Bojonegoro harus segera dirancang. Kemandirian produksi telur harus diatasi dengan peternakan yang masif. Dinas terkait memiliki pekerjaan rumah (PR) besar untuk merealisasikannya. Serta mendorong warga tertarik peternakan ayam petelur. Atau merangsang pengusaha membuat peternakan besar di Bojonegoro.

Langkah ini untuk mengatasi kebutuhan telur yang selalu dipasok dari luar daerah. Berdasar data Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, produksi telur 2019 hanya mencapai 1.409.867 kilogram per tahun. Padahal, kebutuhan telur pertahun mencapai 6.684.965 kilogram. Ada kekurangan sekitar 5 juta telur.

Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Sigit Kusharyanto mengatakan, masyakarat Bojonegoro masih belum tertarik peternakan ayam petelur. Terkendala cuaca panas, namun pasti bisa diatasi dengan adanya teknologi.

Sigit mengatakan, disnakikan harus mendorong masyarakat mengem bangkan peternakan ayam petelur. Bisa berupa pelatihan, pembinaan atau bantuan modal. Mempermudah pinjaman modal bagi para peternak. “Tidak hanya berupa hibah,” jelasnya.

Menurut dia, kebutuhan telur belum tercukupi produksi lokal menjadi kesempatan bagus bagi warga. Kebutuhan telur cukup banyak di Bojonegoro masih membuka lebar pasar untuk penjualan. Hanya, butuh meningkat kan produksi telur lokal saja.

Baca Juga :  Akan Dibubarkan, PD Pasar Setor PAD BesarĀ 

“Mengubah pemikiran masyarakat agar tertarik pada peternakan ayam petelur,” ujar politikus Partai Golkar ini. Pihaknya mengaku selalu menyampaikan pada disnakkan untuk membuat program-program inovasi. Agar produksi telur di Bojonegoro terus meningkat.

“Sekarang untuk Jawa Timur Kabupaten Blitar manjadi yang terbaik, menyupali kebutuhan telur di tingkat provinsi,” ujarnya. Sementara itu, Awaludin Ridwan dosen Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena Tuban mengatakan, Kabupaten Bojonegoro membutuhkan peternakan ayam petelur yang besar. Bisa dari pengusaha lokal maupun luar kota yang membuat peternakan besar. Atau memperbanyak peternakan di kelola BUMDes.

“Peternakan ayam petelur masih sporadis. Dikelola BUMDes hanya 1.000 hingga 2.000 ekor ayam. Termasuk kecil, tentu untungnya juga kecil. Peternakan harusnya memiliki populasi sekitar 20 ribu ekor ayam,” ungkapnya.

Ridwan menjelaskan, pemerintah harus memberi rangsangan pada pengusaha atau BUMDes agar tertarik peternakan ayam petelur. Terlebih pasar penjualan telur ayam masih terbuka lebar. Karena belum terpenuhi kebutuhan telur dari produksi lokal.

Baca Juga :  Siaga Ancaman Bahaya Longsor, BPBD Benahi Tanggul

“Selama ini masih impor dari luar kota,” jelasnya. Menurut dia, pemanfaatan BUMDes bisa diarahkan mengelola peternakan. Beberapa desa bisa mengelola peternakan ayam petelur bisa mejadi solusi. Sekaligus bermitra dengan masyarakat sekitar untuk beternak. Sehingga meningkatkan populasi dari ayam petelur.

“Bisa dibentuk perkumpulan peternak ayam petelur,” ujar dosen tinggal di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander itu. Dia menerangkan, jika populasi ayam petelur banyak, membuat biaya pakan murah.

Sebab ketika pembelian pakan secara banyak harganya akan lebih murah. Atau bisa melakukan produksi pakan sendiri. Sehingga keuntungan juga meningkat. Namun, menurut dia butuh pendampingan dan pembinaan dari dinas tekait.

Sehingga manajemen kandang, meliputi pakan dan kesehatan ternak berjalan baik. Sebab cuaca panas bukan masalah jika manajemen dilakukan dengan benar. “Butuh integrasi dari berbagai pihak,” ujar alumnus Universitas Brawijaya itu. (irv)

Radar Bojonegoro – Kekurangan produksi telur di Bojonegoro harus segera dirancang. Kemandirian produksi telur harus diatasi dengan peternakan yang masif. Dinas terkait memiliki pekerjaan rumah (PR) besar untuk merealisasikannya. Serta mendorong warga tertarik peternakan ayam petelur. Atau merangsang pengusaha membuat peternakan besar di Bojonegoro.

Langkah ini untuk mengatasi kebutuhan telur yang selalu dipasok dari luar daerah. Berdasar data Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, produksi telur 2019 hanya mencapai 1.409.867 kilogram per tahun. Padahal, kebutuhan telur pertahun mencapai 6.684.965 kilogram. Ada kekurangan sekitar 5 juta telur.

Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Sigit Kusharyanto mengatakan, masyakarat Bojonegoro masih belum tertarik peternakan ayam petelur. Terkendala cuaca panas, namun pasti bisa diatasi dengan adanya teknologi.

Sigit mengatakan, disnakikan harus mendorong masyarakat mengem bangkan peternakan ayam petelur. Bisa berupa pelatihan, pembinaan atau bantuan modal. Mempermudah pinjaman modal bagi para peternak. “Tidak hanya berupa hibah,” jelasnya.

Menurut dia, kebutuhan telur belum tercukupi produksi lokal menjadi kesempatan bagus bagi warga. Kebutuhan telur cukup banyak di Bojonegoro masih membuka lebar pasar untuk penjualan. Hanya, butuh meningkat kan produksi telur lokal saja.

Baca Juga :  Federasi Panjat Tebing Indonesia Lamongan Tak Bedakan Program Latihan

“Mengubah pemikiran masyarakat agar tertarik pada peternakan ayam petelur,” ujar politikus Partai Golkar ini. Pihaknya mengaku selalu menyampaikan pada disnakkan untuk membuat program-program inovasi. Agar produksi telur di Bojonegoro terus meningkat.

“Sekarang untuk Jawa Timur Kabupaten Blitar manjadi yang terbaik, menyupali kebutuhan telur di tingkat provinsi,” ujarnya. Sementara itu, Awaludin Ridwan dosen Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena Tuban mengatakan, Kabupaten Bojonegoro membutuhkan peternakan ayam petelur yang besar. Bisa dari pengusaha lokal maupun luar kota yang membuat peternakan besar. Atau memperbanyak peternakan di kelola BUMDes.

“Peternakan ayam petelur masih sporadis. Dikelola BUMDes hanya 1.000 hingga 2.000 ekor ayam. Termasuk kecil, tentu untungnya juga kecil. Peternakan harusnya memiliki populasi sekitar 20 ribu ekor ayam,” ungkapnya.

Ridwan menjelaskan, pemerintah harus memberi rangsangan pada pengusaha atau BUMDes agar tertarik peternakan ayam petelur. Terlebih pasar penjualan telur ayam masih terbuka lebar. Karena belum terpenuhi kebutuhan telur dari produksi lokal.

Baca Juga :  Studi Kelayakan Flyover Bojonegoro Dianggarkan Rp 449 Juta

“Selama ini masih impor dari luar kota,” jelasnya. Menurut dia, pemanfaatan BUMDes bisa diarahkan mengelola peternakan. Beberapa desa bisa mengelola peternakan ayam petelur bisa mejadi solusi. Sekaligus bermitra dengan masyarakat sekitar untuk beternak. Sehingga meningkatkan populasi dari ayam petelur.

“Bisa dibentuk perkumpulan peternak ayam petelur,” ujar dosen tinggal di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander itu. Dia menerangkan, jika populasi ayam petelur banyak, membuat biaya pakan murah.

Sebab ketika pembelian pakan secara banyak harganya akan lebih murah. Atau bisa melakukan produksi pakan sendiri. Sehingga keuntungan juga meningkat. Namun, menurut dia butuh pendampingan dan pembinaan dari dinas tekait.

Sehingga manajemen kandang, meliputi pakan dan kesehatan ternak berjalan baik. Sebab cuaca panas bukan masalah jika manajemen dilakukan dengan benar. “Butuh integrasi dari berbagai pihak,” ujar alumnus Universitas Brawijaya itu. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/