alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Air PDAM Tinggal Sebulan Lagi

LAMONGAN, Radar Lamongan – Dampak menyusutnya debit air Bengawan Solo di Lamongan semakin meluas. Tidak hanya mengancam kebutuhan air untuk irigasi. Namun juga untuk kebutuhan air minum. Bahkan debit air sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut hanya cukup memenuhi air baku PDAM Lamongan sampai awal bulan depan saja.

Direktur PDAM Lamongan, Ali Mahfud menuturkan, kondisi air Bengawan Solo yang menyusut berimbas pada bahan baku untuk PDAM Lamongan. Karena air baku perusahaan plat merah tersebut masih mengandalkan air Bengawan Solo yang diambil di Babat. “Awal November depan sudah berada di level terendah untuk ketersediaan bahan baku,” ujarnya kemarin (6/10).

Baca Juga :  Ajang Unjuk Gigi Atlet Nasional-Internasional

Dia mengaku sudah mendapat info perkembangan debit air Bengawan Solo setiap minggu dari Balai Besawa Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Dengan kondisi debit yang semakin menipis, berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi. Upaya yang dilakukan, antara lain dengan pemasangan pompa intake (penyedot air baku) di jembatan Babat, agar bisa mencapai bagian bengawan yang terdalam. Pompa apung (ponton) ini nantinya akan diletakkan di titik terendah supaya air baku masih tetap ada. Pompa ini akan dipindah ke lokasi yang masih berpotensi ada sumber. Kemudian itambah kolaran (pipa hisab). Pipa ini akan dimasukkan hingga kedalaman 22 meter. Biasanya hanya 15-17 meter. ‘’Selain itu sumur pengumpul juga diaktifkan untuk memaksimalkan ketersediaan air baku,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Kebobolan Cepat Menjadi Momok

Menurut Ali, jika bahan baku berkurang, otomatis ketersediaan stok air untuk didistribusikan kepada pelanggan juga terganggu. Juga ditambah sejumlah wilayah di Lamongan yang tidak memiliki jalur PDAM yang mengalami kekeringan juga mengajukan dropping air bersih kepada PDAM. Karena itu, dia berharap pengeboran atau pemasangan pompa intake di bawah jembatan Babat itu bisa menambah debit air baku. “Kita sudah berusaha mulai sekarang, sebelum air benar-benar habis,” terangnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga sangat tergantung dari bending gerak Babat dan Bojonegoro. Karena kedua bending itu mengatur ketersediaan air Bengawan Solo, khususnya saat kemarau seperti saat ini. ‘’Mudah-mudahan sebelum sampai habisnya air baku, hujan sudah turun,’’ tuturnya.

LAMONGAN, Radar Lamongan – Dampak menyusutnya debit air Bengawan Solo di Lamongan semakin meluas. Tidak hanya mengancam kebutuhan air untuk irigasi. Namun juga untuk kebutuhan air minum. Bahkan debit air sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut hanya cukup memenuhi air baku PDAM Lamongan sampai awal bulan depan saja.

Direktur PDAM Lamongan, Ali Mahfud menuturkan, kondisi air Bengawan Solo yang menyusut berimbas pada bahan baku untuk PDAM Lamongan. Karena air baku perusahaan plat merah tersebut masih mengandalkan air Bengawan Solo yang diambil di Babat. “Awal November depan sudah berada di level terendah untuk ketersediaan bahan baku,” ujarnya kemarin (6/10).

Baca Juga :  Lamongan Bertekad Zero Stunting

Dia mengaku sudah mendapat info perkembangan debit air Bengawan Solo setiap minggu dari Balai Besawa Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Dengan kondisi debit yang semakin menipis, berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi. Upaya yang dilakukan, antara lain dengan pemasangan pompa intake (penyedot air baku) di jembatan Babat, agar bisa mencapai bagian bengawan yang terdalam. Pompa apung (ponton) ini nantinya akan diletakkan di titik terendah supaya air baku masih tetap ada. Pompa ini akan dipindah ke lokasi yang masih berpotensi ada sumber. Kemudian itambah kolaran (pipa hisab). Pipa ini akan dimasukkan hingga kedalaman 22 meter. Biasanya hanya 15-17 meter. ‘’Selain itu sumur pengumpul juga diaktifkan untuk memaksimalkan ketersediaan air baku,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  UPT Dihapus, Kajian Akademis Belum Rampung 

Menurut Ali, jika bahan baku berkurang, otomatis ketersediaan stok air untuk didistribusikan kepada pelanggan juga terganggu. Juga ditambah sejumlah wilayah di Lamongan yang tidak memiliki jalur PDAM yang mengalami kekeringan juga mengajukan dropping air bersih kepada PDAM. Karena itu, dia berharap pengeboran atau pemasangan pompa intake di bawah jembatan Babat itu bisa menambah debit air baku. “Kita sudah berusaha mulai sekarang, sebelum air benar-benar habis,” terangnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga sangat tergantung dari bending gerak Babat dan Bojonegoro. Karena kedua bending itu mengatur ketersediaan air Bengawan Solo, khususnya saat kemarau seperti saat ini. ‘’Mudah-mudahan sebelum sampai habisnya air baku, hujan sudah turun,’’ tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/