alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Keluhkan Hama Tikus

TIKUNG, Radar Lamongan – Petani kangkung di  Kecamatan Tikung mengeluh. Gara – garanya, tanaman mereka diserang hama tikus.

‘’Ada serangan hama. Meski tidak banyak yang dimakan, tapi petani sempat heran karena sebelumnya tidak pernah,” ujar Ani, salah satu petani kangkung asal Desa Wonokromo.

Dia memilih kangkung biji karena tidak membutuhkan banyak air. Sebab wilayah Tikung paling sulit mendapatkan air ketika kemarau. Petani harus sigap agar lahannya tetap berfungsi. Menurut Ani, sebagian petani memilih mengkosongkan lahan, sebagian lagi menanami kangkung.

Dengan luas areal tanam satu hektare, petani bisa meraup untung Rp 30 juta hingga Rp 40 juta.

Baca Juga :  Ayah sekaligus Guru

Petani lainnya, Srini, menuturkan, tanaman kangkung biji menjadi andalan petani wilayah Tikung. Khususnya, saat kemarau. Apalagi, petani memiliki kerjasama dengan tengkulak yang membeli untuk memasok kebutuhan bahan baku kosmetik. “Sistemnya ditebas sama seperti padi sehingga petani tidak mengetahui dikirim kemana,” ujarnya.

Dia menambahkan, serangan hama memang ada. Petani menelan kerugian yang berbeda-beda. Menurut Srini, tanaman kangkung perawatannya mudah. Tidak membutuhkan pupuk dalam jumlah banyak.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Lamongan, Djohan Budiman, menuturkan, tanaman kangkung biji memang andalan sebagian petani wilayah Tikung, Sarirejo, Kembangbahu, dan Mantup. Ada sekitar 2.800 hektare lahan yang ditanami.

Dinas hanya memberikan pembinaan terkait budidaya tanaman tersebut. Dia tidak mengetahui pemasaran dan kebutuhan bibit petani. “Kita hanya pembinaan, dan belum ada alokasi bibit atau obat,” katanya.

Baca Juga :  Aditya, Dalang Muda Aktif Jadi Sutradara Film

TIKUNG, Radar Lamongan – Petani kangkung di  Kecamatan Tikung mengeluh. Gara – garanya, tanaman mereka diserang hama tikus.

‘’Ada serangan hama. Meski tidak banyak yang dimakan, tapi petani sempat heran karena sebelumnya tidak pernah,” ujar Ani, salah satu petani kangkung asal Desa Wonokromo.

Dia memilih kangkung biji karena tidak membutuhkan banyak air. Sebab wilayah Tikung paling sulit mendapatkan air ketika kemarau. Petani harus sigap agar lahannya tetap berfungsi. Menurut Ani, sebagian petani memilih mengkosongkan lahan, sebagian lagi menanami kangkung.

Dengan luas areal tanam satu hektare, petani bisa meraup untung Rp 30 juta hingga Rp 40 juta.

Baca Juga :  Generasi Y dan Z Paling Hobi Traveling

Petani lainnya, Srini, menuturkan, tanaman kangkung biji menjadi andalan petani wilayah Tikung. Khususnya, saat kemarau. Apalagi, petani memiliki kerjasama dengan tengkulak yang membeli untuk memasok kebutuhan bahan baku kosmetik. “Sistemnya ditebas sama seperti padi sehingga petani tidak mengetahui dikirim kemana,” ujarnya.

Dia menambahkan, serangan hama memang ada. Petani menelan kerugian yang berbeda-beda. Menurut Srini, tanaman kangkung perawatannya mudah. Tidak membutuhkan pupuk dalam jumlah banyak.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Lamongan, Djohan Budiman, menuturkan, tanaman kangkung biji memang andalan sebagian petani wilayah Tikung, Sarirejo, Kembangbahu, dan Mantup. Ada sekitar 2.800 hektare lahan yang ditanami.

Dinas hanya memberikan pembinaan terkait budidaya tanaman tersebut. Dia tidak mengetahui pemasaran dan kebutuhan bibit petani. “Kita hanya pembinaan, dan belum ada alokasi bibit atau obat,” katanya.

Baca Juga :  Setelah Terbukti Bersalah, Kades Karangwedoro Ditahan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/