alexametrics
32.6 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Gagal di Indonesia Open, Justru Menang di Robofest Japan Open

GAGAL menjadi hal biasa. Mengikuti Indonesia Open, robot sempat korsleting. Namun, justru menjadi juara 1 transporter senior superteam dan juara 2 programming transporter, serta gathering senior ketika lomba di Jepang.

Sudah ke sekian kalinya Jawa Pos Radar Bojonegoro mengunjungi sekolah di Jalan Pattimura itu. Namun, baru kali pertama melihat tempat siswa-siswi jurusan mekatronika praktik. Ruangannya cukup luas. Pelajar jurusan mekatronika didominasi laki-laki. Mereka duduk rapi dengan beberapa laptop di meja belajar. Terlihat asyik beraktivitas.

Dua lemari ukuran besar memisahkan antara ruang belajar dengan praktik. Dua etalase kaca di dekat pintu masuk digunakan menyimpan robot-robot mini karya siswa. Dua kotak papan kayu seukuran papan tulis diletakkan dengan posisi miring ke dinding. Digunakan untuk lintasan robot.

Beberapa saat kemudian empat siswa SMKN 2 Bojonegoro yang meraih juara di Negeri Sakura menghampiri ruang praktik. Mereka terbagi dua tim. Satu tim programming transporter dengan anggota Gammaray Iridian,18, dan Dimas Vito Abdillah, 17. Sedangkan, tim programming gathering M. Andik Saputra,17, dan Taufiq Septiawan, 17.

Baca Juga :  Di Bojonegoro, Pedagang Kecil Masih Bertumpu Minyak Goreng Curah

Tim transporter memiliki tugas membuat program robot agar bisa memindahkan, mengangkat, dan menumpuk objek. Sementara tim gathering menggeser objek ke titik yang sudah ditentukan.

Walau tergolong remaja dan berawal dari ketertarikan pada robotik, keempat siswa SMKN 2 Bojonegoro ini mahir menggunakan bahasa pemrograman. Sesekali terlihat asyik berbicara membahas pengalaman menakjubkan ketika duduk bersama-sama membuat program.

Gammaray mengatakan, harus bisa membuat program sesuai perintah dalam satu jam. ’’Sebenarnya satu jam itu nggak cukup kalau buat program,’’ kata siswa asal Kelurahan Sumbang, Kecamatan Kota itu.

Andik, siswa lain mengatakan, robot pernah sampai terbakar karena korsleting. ’’Itu kejadiannya saat latihan. Karena mesinnya terlalu panas,’’ ucap siswa asal Desa Ngablak, Kecamatan Dander itu.

Menurut siswa yang mahir berbahasa Jepang itu, kesulitan yang pernah dialami tidak hanya persoalan teknis saja. Bahkan, bisa dari situasi. Ketika ada cahaya cukup silau, robot tidak bisa menerima perintah.

Baca Juga :  Keajaiban Kecil Abadi

’’Kita angkatan pertama dan ini tahun ketiga,’’ ungkap Dimas. Saat ketiga temannya saling menimpali pembicaraan. Dimas terlihat menikmati pembicaraan mereka dan menimpali sedikit. Pribadinya lebih pemalu dibanding ketiga temannya.

Taufik menunjukkan dokumentasi foto dan video ketika perlombaan di Jepang. Dia menjelaskan, robot yang digunakan memiliki spesifikasi khusus standar Jepang. ’’Kita tidak membuat robot. Hanya membuat programnya saja agar robot bisa bergerak sesuai perintah,’’ kata siswa asal Kecamatan Malo itu.

Sementara, robot yang mereka gunakan adalah hasil karya dari senior. Ketika video diputar, robot kecil seperti ekskavator terlihat bergerak melintas sesuai garis hitam. Menuju titik-titik yang sudah diletakkan kubus. Satu per satu kubus digeser, dipindahkan, diangkat, kemudian ditumpuk.

’’Ini sebenarnya ada perlombaan lagi di Australia. Inginnya ikut, tapi belum mendapat sponsor,’’ ujarnya penuh harap. (*/rij)

GAGAL menjadi hal biasa. Mengikuti Indonesia Open, robot sempat korsleting. Namun, justru menjadi juara 1 transporter senior superteam dan juara 2 programming transporter, serta gathering senior ketika lomba di Jepang.

Sudah ke sekian kalinya Jawa Pos Radar Bojonegoro mengunjungi sekolah di Jalan Pattimura itu. Namun, baru kali pertama melihat tempat siswa-siswi jurusan mekatronika praktik. Ruangannya cukup luas. Pelajar jurusan mekatronika didominasi laki-laki. Mereka duduk rapi dengan beberapa laptop di meja belajar. Terlihat asyik beraktivitas.

Dua lemari ukuran besar memisahkan antara ruang belajar dengan praktik. Dua etalase kaca di dekat pintu masuk digunakan menyimpan robot-robot mini karya siswa. Dua kotak papan kayu seukuran papan tulis diletakkan dengan posisi miring ke dinding. Digunakan untuk lintasan robot.

Beberapa saat kemudian empat siswa SMKN 2 Bojonegoro yang meraih juara di Negeri Sakura menghampiri ruang praktik. Mereka terbagi dua tim. Satu tim programming transporter dengan anggota Gammaray Iridian,18, dan Dimas Vito Abdillah, 17. Sedangkan, tim programming gathering M. Andik Saputra,17, dan Taufiq Septiawan, 17.

Baca Juga :  Tembakau Jawa Tak Diminati

Tim transporter memiliki tugas membuat program robot agar bisa memindahkan, mengangkat, dan menumpuk objek. Sementara tim gathering menggeser objek ke titik yang sudah ditentukan.

Walau tergolong remaja dan berawal dari ketertarikan pada robotik, keempat siswa SMKN 2 Bojonegoro ini mahir menggunakan bahasa pemrograman. Sesekali terlihat asyik berbicara membahas pengalaman menakjubkan ketika duduk bersama-sama membuat program.

Gammaray mengatakan, harus bisa membuat program sesuai perintah dalam satu jam. ’’Sebenarnya satu jam itu nggak cukup kalau buat program,’’ kata siswa asal Kelurahan Sumbang, Kecamatan Kota itu.

Andik, siswa lain mengatakan, robot pernah sampai terbakar karena korsleting. ’’Itu kejadiannya saat latihan. Karena mesinnya terlalu panas,’’ ucap siswa asal Desa Ngablak, Kecamatan Dander itu.

Menurut siswa yang mahir berbahasa Jepang itu, kesulitan yang pernah dialami tidak hanya persoalan teknis saja. Bahkan, bisa dari situasi. Ketika ada cahaya cukup silau, robot tidak bisa menerima perintah.

Baca Juga :  Pemkab Lamongan Aktifkan Satgas Bencana

’’Kita angkatan pertama dan ini tahun ketiga,’’ ungkap Dimas. Saat ketiga temannya saling menimpali pembicaraan. Dimas terlihat menikmati pembicaraan mereka dan menimpali sedikit. Pribadinya lebih pemalu dibanding ketiga temannya.

Taufik menunjukkan dokumentasi foto dan video ketika perlombaan di Jepang. Dia menjelaskan, robot yang digunakan memiliki spesifikasi khusus standar Jepang. ’’Kita tidak membuat robot. Hanya membuat programnya saja agar robot bisa bergerak sesuai perintah,’’ kata siswa asal Kecamatan Malo itu.

Sementara, robot yang mereka gunakan adalah hasil karya dari senior. Ketika video diputar, robot kecil seperti ekskavator terlihat bergerak melintas sesuai garis hitam. Menuju titik-titik yang sudah diletakkan kubus. Satu per satu kubus digeser, dipindahkan, diangkat, kemudian ditumpuk.

’’Ini sebenarnya ada perlombaan lagi di Australia. Inginnya ikut, tapi belum mendapat sponsor,’’ ujarnya penuh harap. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/