alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Pengoperasian Angkot Tergantung Anggaran

KOTA – Meningkatnya kemacetan di Bojonegoro tidak hanya disebabkan membeludaknya kendaraan roda dua. Lebih dari itu, hilangnya fungsi angkutan kota (angkot) juga memicu tingginya tingkat pengendara motor. Sebab, banyak penumpang angkutan yang beralih mengendarai kendaraan roda dua tersebut. 

’’Kalau di kota-kota besar, kendaraan umum itu dimaksimalkan. Tujuannya untuk menekan jumlah pengguna motor,” kata Adi Wardhana, salah seorang warga kemarin (6/9).

Adi mengatakan, sejak dua tahun terakhir, dirinya sudah sangat jarang melihat keberadaan angkot. Padahal, kata dia, keberadaan angkot sebenarnya masih sangat diperlukan. Terutama untuk mengkaver para penumpang di sekitaran kota. Seperti pelajar dan ibu-ibu pergi ke pasar. Sebab, saat ini sudah jarang ada pelajar berangkat ke sekolah naik angkot.

Menurut dia, dengan difungsikan kembali angkot, banyak pelajar dan orang yang ingin pergi berbelanja bisa memanfaatkannya. Sehingga, tidak selalu menggunakan kendaraan pribadi. Mengingat, selain menyumbang polusi, pelajar yang menggunakan motor juga sangat mempengaruhi tingkat kemacetan. 

Baca Juga :  Bagi Gadis ini, Remaja Harus Berkarakter

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro Iskandar mengaku, saat ini fungsi angkot mulai menghilang. Hal itu disebabkan banyaknya angkutan yang memang tidak konsisten dengan waktu pelayanannya. Dari pengamatannya, banyak angkot yang kadang jalan dan terkadang tidak jalan. Padahal, para penumpang sudah menunggu.

’’Nah, karena para penumpang tidak mendapat kepastian, akhirnya beralih ke kendaraan pribadi,” kata Iskandar. 

Dari data yang dia miliki, sebenarnya di Bojonegoro terdapat sekitar 30 angkot yang berjalan di seputaran kota. Namun, yang masih aktif hingga saat ini sebanyak 8 angkot. Itupun, masih sering angin-anginan. Artinya, kadang jalan kadang tidak. Kondisi itu memicu mulai ditinggalkannya angkot oleh para penumpang.   

Baca Juga :  Suara Caleg PAN Tertukar

Lebih lanjut, Iskandar mengatakan, jika masyarakat mulai menggunakan angkot, tentu bisa menekan kemacetan. Sebab, para pengendara yang sebelumnya menggunakan motor pribadi, bisa beralih menggunakan kendaraan umum. Sayangnya, kondisi itu dinilai berat. Sebab, dari pihak pengelola angkot juga tidak bisa diharapkan karena sepi. 

Disinggung terkait rencana memaksimalkan kembali angkot, dia mengaku kesulitan. Sebab, meski sempat diwacanakan, namun sulit diaplikasikan. Alasannya, minimnya anggaran yang dimiliki. Sehingga, pihaknya tidak bisa memberi banyak perhatian ataupun intervensi terkait memaksimalkan angkot tersebut. ’’Memang harusnya bisa kembali dimaksimalkan. Tetapi, kita tidak ada anggaran,” pungkasnya.

KOTA – Meningkatnya kemacetan di Bojonegoro tidak hanya disebabkan membeludaknya kendaraan roda dua. Lebih dari itu, hilangnya fungsi angkutan kota (angkot) juga memicu tingginya tingkat pengendara motor. Sebab, banyak penumpang angkutan yang beralih mengendarai kendaraan roda dua tersebut. 

’’Kalau di kota-kota besar, kendaraan umum itu dimaksimalkan. Tujuannya untuk menekan jumlah pengguna motor,” kata Adi Wardhana, salah seorang warga kemarin (6/9).

Adi mengatakan, sejak dua tahun terakhir, dirinya sudah sangat jarang melihat keberadaan angkot. Padahal, kata dia, keberadaan angkot sebenarnya masih sangat diperlukan. Terutama untuk mengkaver para penumpang di sekitaran kota. Seperti pelajar dan ibu-ibu pergi ke pasar. Sebab, saat ini sudah jarang ada pelajar berangkat ke sekolah naik angkot.

Menurut dia, dengan difungsikan kembali angkot, banyak pelajar dan orang yang ingin pergi berbelanja bisa memanfaatkannya. Sehingga, tidak selalu menggunakan kendaraan pribadi. Mengingat, selain menyumbang polusi, pelajar yang menggunakan motor juga sangat mempengaruhi tingkat kemacetan. 

Baca Juga :  Mustakim Harus Kooperatif

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro Iskandar mengaku, saat ini fungsi angkot mulai menghilang. Hal itu disebabkan banyaknya angkutan yang memang tidak konsisten dengan waktu pelayanannya. Dari pengamatannya, banyak angkot yang kadang jalan dan terkadang tidak jalan. Padahal, para penumpang sudah menunggu.

’’Nah, karena para penumpang tidak mendapat kepastian, akhirnya beralih ke kendaraan pribadi,” kata Iskandar. 

Dari data yang dia miliki, sebenarnya di Bojonegoro terdapat sekitar 30 angkot yang berjalan di seputaran kota. Namun, yang masih aktif hingga saat ini sebanyak 8 angkot. Itupun, masih sering angin-anginan. Artinya, kadang jalan kadang tidak. Kondisi itu memicu mulai ditinggalkannya angkot oleh para penumpang.   

Baca Juga :  Suara Caleg PAN Tertukar

Lebih lanjut, Iskandar mengatakan, jika masyarakat mulai menggunakan angkot, tentu bisa menekan kemacetan. Sebab, para pengendara yang sebelumnya menggunakan motor pribadi, bisa beralih menggunakan kendaraan umum. Sayangnya, kondisi itu dinilai berat. Sebab, dari pihak pengelola angkot juga tidak bisa diharapkan karena sepi. 

Disinggung terkait rencana memaksimalkan kembali angkot, dia mengaku kesulitan. Sebab, meski sempat diwacanakan, namun sulit diaplikasikan. Alasannya, minimnya anggaran yang dimiliki. Sehingga, pihaknya tidak bisa memberi banyak perhatian ataupun intervensi terkait memaksimalkan angkot tersebut. ’’Memang harusnya bisa kembali dimaksimalkan. Tetapi, kita tidak ada anggaran,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/