alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Sunday, July 3, 2022

Modal Awal Rp 900 Ribu, Ingin Manfaatkan Barang Bekas

DALAM kondisi terbatas dapat mendorong seseorang menunjukkan kreativitasnya. Setelah suaminya di-PHK, Lilik Faizah, 26, akhirnya menemukan jalan menciptakan kostum karnaval untuk penghasilan keluarganya.

Di teras dan ruang tamu rumahnya, tampak gulungan kawat dan busa yang berserakan. Sementara di dinding, tergantung sayap-sayap indah hasil karyanya yang siap diambil pemesan. Dia sudah setahun terakhir memroduksi kostum karnaval ala Jember Fashion Carnival.

‘’Sekarang lagi mau bikin kostum gurita. Ukurannya besar sekali sekitar tiga meter. Rangka kawatnya baru jadi,’’ tutur Lilik Faizah kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (6/8).

Ibu dari dua anak ini mengenang saat suaminya Dwi Iryono mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaannya. Dia bersama suami mencoba berbagai jenis usaha agar tetap bisa menyambung hidup. Lilik memutuskan kursus rias sekaligus menjadi perantara bagi masyarakat yang membutuhkan kostum karnaval. Tempat tinggalnya yang berada di pelosok membuatnya harus wira-wiri ke Kecamatan Lamongan untuk mengambil pesanan konsumen.

Dia merasa susah membagi waktu. Apalagi, dirinya harus mengasuh anak-anaknya yang masih balita. Sang suami lantas menyarankan agar Lilik mencoba memroduksi kostum karnaval sendiri. Dia belajar mendesain dan memroduksi kostum karnaval ini dari guru rias.

‘’Saya mencoba belajar bikin sayap-sayap. Modal awal Rp 900 ribu. Suami juga bantu bikin pola dan rangkanya. Alhamdulillah satu hari jadi,’’ kenangnya.

Baca Juga :  Perbup Baru, Uang Saku Perdin DPRD Tumbuh

Lilik mendapat inspirasi desain kostum karnaval dari hasil browsing gambar di media sosial maupun permintaan  para pemesan.

Dia menuturkan, pernah ada mahasiswa asal Surabaya datang ke rumahnya minta dibuatkan kostum karnaval dengan desain khusus. Kostum itu nantinya dijadikan bahan tugas akhir kuliah. Lilik semula merasa ragu dapat menyelesaikan kostum sesuai desain yang diminta mahasiswa tadi.

‘’Pokoknya setiap ada permintaan desain apapun saya berusaha menyanggupi. Hitung-hitung bisa untuk belajar. Alhamdulillah saya dikabari ternyata kostumnya pas dan dia akhirnya bisa lulus. Padahal saya bukan lulusan sekolah seni, dulu saya kuliah jurusan akutansi,’’ ujarnya.

Setiap memroduksi kostum karnaval, Lilik membutuhkan bahan-bahan berupa kawat seberat lima kilogram, busa lima lembar, kain berbagai warna, dan hiasan manik-manik. Beruntung bahan-bahan tersebut mudah didapatkan. Tahap awal, Lilik harus membuat desain pola di busa kemudian dipotong. Sang suami lantas membuat rangkaian kawat berdasarkan pola tersebut agar kostum terbentuk dimensinya.

Di proses inilah, Lilik membutuhkan bantuan tukang las untuk menyambung dan merekatkan rangka kawat. Pola desain dan rangka kawat lantas ditempel menggunakan lem tembak.

‘’Setelah itu baru diberi warna sesuai keinginan. Bisa pakai pilok atau kain warna-warni. Tapi saya lebih suka pakai pilok. Cara mewarnainya harus satu arah, biasanya saya habis dua botol pilok. Finishingnya diberi manik-manik dan permata agar terlihat lebih cantik,’’ jelas Lilik.

Baca Juga :  Aksi Mahasiswa untuk Rohingya

Cara perawatan kostum karnaval ini cukup mudah. Hanya perlu digantung dan dibersihkan dengan lap kering. Di akhir pembuatan kostum, selalu menyisakan kawat dan busa. Sisa-sisa bahan itu ternyata masih cukup untuk dibuat aksesori penunjang kostum seperti mahkota, samir dada, dan hiasan pinggang. Sejak awal, Lilik memang berprinsip tidak ingin ada bahan yang terbuang sia-sia.

Sebelum kostum sampai di tangan pemesan, Lilik menguji kostum buatannya. Dia harus memastikan kostum itu nyaman digunakan untuk berjalan jauh, ringan, serta kuat. Beberapa kostum dimodifikasi bisa dibongkar pasang kawat penyangganya supaya mudah dikemas.

‘’Kendalanya sejak awal di pengepakan. Ada masyarakat dari jauh ingin pesan. Tapi setelah dihitung ongkos kirim dan biaya produksinya hampir sama. Sementara kita belum punya kendaraan pikap untuk mengangkut,’’ tutur Lilik.

Dia tidak butuh waktu lama untuk bisa balik modal. Dia pun enggan membeberkan omzet yang diterimanya dari hasil produksi kostum karnaval ini. Saat melihat kostum rancangannya mampu menghibur masyarakat yang menonton, Lilik merasa mendapat kepuasan tersendiri. Terlebih segmentasi pengguna kostumnya memang ditujukan untuk semua kalangan. 

Dalam waktu dekat ini, Lilik ingin memproduksi kostum karnaval dari barang-barang bekas dan bisa didaur ulang. Sebab banyak pemesan yang tertarik memakai kostum karnaval berbahan ramah lingkungan.

DALAM kondisi terbatas dapat mendorong seseorang menunjukkan kreativitasnya. Setelah suaminya di-PHK, Lilik Faizah, 26, akhirnya menemukan jalan menciptakan kostum karnaval untuk penghasilan keluarganya.

Di teras dan ruang tamu rumahnya, tampak gulungan kawat dan busa yang berserakan. Sementara di dinding, tergantung sayap-sayap indah hasil karyanya yang siap diambil pemesan. Dia sudah setahun terakhir memroduksi kostum karnaval ala Jember Fashion Carnival.

‘’Sekarang lagi mau bikin kostum gurita. Ukurannya besar sekali sekitar tiga meter. Rangka kawatnya baru jadi,’’ tutur Lilik Faizah kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (6/8).

Ibu dari dua anak ini mengenang saat suaminya Dwi Iryono mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaannya. Dia bersama suami mencoba berbagai jenis usaha agar tetap bisa menyambung hidup. Lilik memutuskan kursus rias sekaligus menjadi perantara bagi masyarakat yang membutuhkan kostum karnaval. Tempat tinggalnya yang berada di pelosok membuatnya harus wira-wiri ke Kecamatan Lamongan untuk mengambil pesanan konsumen.

Dia merasa susah membagi waktu. Apalagi, dirinya harus mengasuh anak-anaknya yang masih balita. Sang suami lantas menyarankan agar Lilik mencoba memroduksi kostum karnaval sendiri. Dia belajar mendesain dan memroduksi kostum karnaval ini dari guru rias.

‘’Saya mencoba belajar bikin sayap-sayap. Modal awal Rp 900 ribu. Suami juga bantu bikin pola dan rangkanya. Alhamdulillah satu hari jadi,’’ kenangnya.

Baca Juga :  Diterpa Angin, Jendela Menara Pantau Hilal Pretel

Lilik mendapat inspirasi desain kostum karnaval dari hasil browsing gambar di media sosial maupun permintaan  para pemesan.

Dia menuturkan, pernah ada mahasiswa asal Surabaya datang ke rumahnya minta dibuatkan kostum karnaval dengan desain khusus. Kostum itu nantinya dijadikan bahan tugas akhir kuliah. Lilik semula merasa ragu dapat menyelesaikan kostum sesuai desain yang diminta mahasiswa tadi.

‘’Pokoknya setiap ada permintaan desain apapun saya berusaha menyanggupi. Hitung-hitung bisa untuk belajar. Alhamdulillah saya dikabari ternyata kostumnya pas dan dia akhirnya bisa lulus. Padahal saya bukan lulusan sekolah seni, dulu saya kuliah jurusan akutansi,’’ ujarnya.

Setiap memroduksi kostum karnaval, Lilik membutuhkan bahan-bahan berupa kawat seberat lima kilogram, busa lima lembar, kain berbagai warna, dan hiasan manik-manik. Beruntung bahan-bahan tersebut mudah didapatkan. Tahap awal, Lilik harus membuat desain pola di busa kemudian dipotong. Sang suami lantas membuat rangkaian kawat berdasarkan pola tersebut agar kostum terbentuk dimensinya.

Di proses inilah, Lilik membutuhkan bantuan tukang las untuk menyambung dan merekatkan rangka kawat. Pola desain dan rangka kawat lantas ditempel menggunakan lem tembak.

‘’Setelah itu baru diberi warna sesuai keinginan. Bisa pakai pilok atau kain warna-warni. Tapi saya lebih suka pakai pilok. Cara mewarnainya harus satu arah, biasanya saya habis dua botol pilok. Finishingnya diberi manik-manik dan permata agar terlihat lebih cantik,’’ jelas Lilik.

Baca Juga :  RS Darurat Covid-19 Jadi Aset Daerah

Cara perawatan kostum karnaval ini cukup mudah. Hanya perlu digantung dan dibersihkan dengan lap kering. Di akhir pembuatan kostum, selalu menyisakan kawat dan busa. Sisa-sisa bahan itu ternyata masih cukup untuk dibuat aksesori penunjang kostum seperti mahkota, samir dada, dan hiasan pinggang. Sejak awal, Lilik memang berprinsip tidak ingin ada bahan yang terbuang sia-sia.

Sebelum kostum sampai di tangan pemesan, Lilik menguji kostum buatannya. Dia harus memastikan kostum itu nyaman digunakan untuk berjalan jauh, ringan, serta kuat. Beberapa kostum dimodifikasi bisa dibongkar pasang kawat penyangganya supaya mudah dikemas.

‘’Kendalanya sejak awal di pengepakan. Ada masyarakat dari jauh ingin pesan. Tapi setelah dihitung ongkos kirim dan biaya produksinya hampir sama. Sementara kita belum punya kendaraan pikap untuk mengangkut,’’ tutur Lilik.

Dia tidak butuh waktu lama untuk bisa balik modal. Dia pun enggan membeberkan omzet yang diterimanya dari hasil produksi kostum karnaval ini. Saat melihat kostum rancangannya mampu menghibur masyarakat yang menonton, Lilik merasa mendapat kepuasan tersendiri. Terlebih segmentasi pengguna kostumnya memang ditujukan untuk semua kalangan. 

Dalam waktu dekat ini, Lilik ingin memproduksi kostum karnaval dari barang-barang bekas dan bisa didaur ulang. Sebab banyak pemesan yang tertarik memakai kostum karnaval berbahan ramah lingkungan.

Artikel Terkait

Most Read

Hari Bahagia Itu Jadi Petaka

Pendirian Mall di Tuban Kembali Dikebut

Suhu Tuban Serasa Malang

Artikel Terbaru

Makin Sombong, Makin Bernilai

Kehilangan Akun Line


/