alexametrics
22.6 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Diberi Julukan The Eleven, Berbahan Baku Limbah

IMAJINASI dan ketekunan dapat menyulap pelbagai hal menjadi karya yang ciamik. Seperti miniatur robot berbahan limbah tempat oli, kaleng cat, tempat es krim, dan botol pupuk. Adib Nurdiyanto menjadi penggagas di balik terciptanya The Eleven.

Miniatur robot ini terkesan unik. Tingginya sekitar 158 sentimeter (cm). Dipasang di depan rumah seorang warga Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas. Setelah diamati lebih dekat, miniatur robot tersebut tak terbuat dari besi atau sejenisnya.

Namun, miniatur tersebut berbahan barang bekas atau limbah. Cukup unik dan mengesankan. Sebab, bahan tak memiliki daya jual tinggi itu mampu menghasilkan karya. Tak lama, keluarlah seorang pria bernama Adib Nurdiyanto. Cukup familiar di kalangan masyarakat desa setempat.

Maklum, pria Ketua RT 11 itu merupakan penggagas pelbagai inovasi karya yang cukup melambungkan desanya. ’’Pembuatan dilakukan oleh warga RT 11, robot itu diberi nama The Eleven. Terbagi menjadi The Eleven Type 1, 2, dan 3,” kata Adib, sapaannya.

Menurut dia, robot ini terinspirasi saat mengikuti perlombaan bertemakan lingkungan. Terdapat salah satu karya viral, yaitu gapura berbahan botol plastik. Setelah melalui proses pengamatan, karya tersebut membutuhkan bahan, tenaga, waktu, dan modal cukup banyak.

Baca Juga :  PPP Dijatah Ketua Fraksi

’’Lalu membuat suatu karya dengan poin yang sama, yakni 3R. Reuse, reduce dan recycle,’’ ujarnya.

Dari sekian ide yang dimiliki, Adib akhirnya membuat miniatur robot. Imajinasinya sejak kecil tak jauh tentang dunia robotik. Sehingga dia memutuskan menggunakan bahan dasar kaleng bekas cat, tempat es krim, botol pupuk, dan botol oli.

’’Jadi ukuran robotnya sesuai dengan tinggi badan saya. Terutama bagian pinggang ke bawah,’’ ujar pria juga pemerhati lingkungan tersebut.

Kebanyakan botol oli, menurut Adib, inspirasinya ketika berada di sebuah bengkel. Terpampang tumpukan tempat botol oli. Terlebih ketika dijual botol oli laku murah. Sekitar Rp 3.000 atau Rp 4.000 per kilogram.

’’Pengepul tergolong memilih atau mau membeli jika kondisi tempat oli masih bagus dan bersih. Akhirnya dengan pertimbangan itu saya membelinya,’’ ujarnya.

Untuk mengaitkan dari satu botol ke lainnya, Adib dan rekan-rekannya butuh sekrup. Dan pipa bekas berukuran kecil sebagai penyempurna. Sekrup mematenkan berbagai bahan dasar, sedangkan pipa bekas sebagai rangka tulang penghubung.

’’Satu robot membutuhkan 6 tempat oli, 2 botol pupuk, 6 tempat es krim, dan 8 kaleng cat pewarna,” imbuhnya.

Baca Juga :  Berstatus Profesional, Kursi Manajemen Persibo Masih Kosong

Menurut Adib, minimal butuh tiga sampai empat orang untuk mengerjakan satu miniatur robot. Biasanya yang turut mengerjakan sekitar 13-15 orang. Maklum, mayoritas masyarakat sekitar berprofesi sebagai pekerja bangunan dan buruh.

’’Mereka pulang bekerja pukul 16.00. Sehingga pengerjaan malam sekitar pukul 20.00 atau 21.30. Sedangkan berakhirnya antara pukul 24.00 atau 01.00,’’ jelasnya dikerjakan dengan guyub.

Ketiga robot tersebut mulai dikerjakan sejak dua minggu lalu. Satu robot butuh proses pengerjaan cukup lama. Biasanya tiga hari telah rampung. Terberat dan memakan waktu lama saat membersihkan bahan dasar.

’’Terutama bekas tempat cat. Sebab, kita berulang kali mengganti sabun pembersih karena tidak cocok atau kurang bersih. Serta membersihkannya lebih lama dibanding tempat oli,’’ jelasnya.

Sementara ini, cukup banyak peminat untuk membeli dari The Eleven. Rerata dari luar Desa Mojodeso. Sedangkan dari masyarakat sekitar hanya antusias membantu dan berswafoto. Terutama anak kecil.

Meski begitu, belum ada yang benar-benar ingin membeli. Sehingga, ke depannya Adib berencana memajang tiga miniatur robot dalam sebuah pameran, festival, dan bahkan saat car free day (CFD) di seputaran alun-alun Kota Ledre.

IMAJINASI dan ketekunan dapat menyulap pelbagai hal menjadi karya yang ciamik. Seperti miniatur robot berbahan limbah tempat oli, kaleng cat, tempat es krim, dan botol pupuk. Adib Nurdiyanto menjadi penggagas di balik terciptanya The Eleven.

Miniatur robot ini terkesan unik. Tingginya sekitar 158 sentimeter (cm). Dipasang di depan rumah seorang warga Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas. Setelah diamati lebih dekat, miniatur robot tersebut tak terbuat dari besi atau sejenisnya.

Namun, miniatur tersebut berbahan barang bekas atau limbah. Cukup unik dan mengesankan. Sebab, bahan tak memiliki daya jual tinggi itu mampu menghasilkan karya. Tak lama, keluarlah seorang pria bernama Adib Nurdiyanto. Cukup familiar di kalangan masyarakat desa setempat.

Maklum, pria Ketua RT 11 itu merupakan penggagas pelbagai inovasi karya yang cukup melambungkan desanya. ’’Pembuatan dilakukan oleh warga RT 11, robot itu diberi nama The Eleven. Terbagi menjadi The Eleven Type 1, 2, dan 3,” kata Adib, sapaannya.

Menurut dia, robot ini terinspirasi saat mengikuti perlombaan bertemakan lingkungan. Terdapat salah satu karya viral, yaitu gapura berbahan botol plastik. Setelah melalui proses pengamatan, karya tersebut membutuhkan bahan, tenaga, waktu, dan modal cukup banyak.

Baca Juga :  54 Penderita TB-MDR, 10 Orang Meninggal

’’Lalu membuat suatu karya dengan poin yang sama, yakni 3R. Reuse, reduce dan recycle,’’ ujarnya.

Dari sekian ide yang dimiliki, Adib akhirnya membuat miniatur robot. Imajinasinya sejak kecil tak jauh tentang dunia robotik. Sehingga dia memutuskan menggunakan bahan dasar kaleng bekas cat, tempat es krim, botol pupuk, dan botol oli.

’’Jadi ukuran robotnya sesuai dengan tinggi badan saya. Terutama bagian pinggang ke bawah,’’ ujar pria juga pemerhati lingkungan tersebut.

Kebanyakan botol oli, menurut Adib, inspirasinya ketika berada di sebuah bengkel. Terpampang tumpukan tempat botol oli. Terlebih ketika dijual botol oli laku murah. Sekitar Rp 3.000 atau Rp 4.000 per kilogram.

’’Pengepul tergolong memilih atau mau membeli jika kondisi tempat oli masih bagus dan bersih. Akhirnya dengan pertimbangan itu saya membelinya,’’ ujarnya.

Untuk mengaitkan dari satu botol ke lainnya, Adib dan rekan-rekannya butuh sekrup. Dan pipa bekas berukuran kecil sebagai penyempurna. Sekrup mematenkan berbagai bahan dasar, sedangkan pipa bekas sebagai rangka tulang penghubung.

’’Satu robot membutuhkan 6 tempat oli, 2 botol pupuk, 6 tempat es krim, dan 8 kaleng cat pewarna,” imbuhnya.

Baca Juga :  Median Jalan Kurang Tinggi 

Menurut Adib, minimal butuh tiga sampai empat orang untuk mengerjakan satu miniatur robot. Biasanya yang turut mengerjakan sekitar 13-15 orang. Maklum, mayoritas masyarakat sekitar berprofesi sebagai pekerja bangunan dan buruh.

’’Mereka pulang bekerja pukul 16.00. Sehingga pengerjaan malam sekitar pukul 20.00 atau 21.30. Sedangkan berakhirnya antara pukul 24.00 atau 01.00,’’ jelasnya dikerjakan dengan guyub.

Ketiga robot tersebut mulai dikerjakan sejak dua minggu lalu. Satu robot butuh proses pengerjaan cukup lama. Biasanya tiga hari telah rampung. Terberat dan memakan waktu lama saat membersihkan bahan dasar.

’’Terutama bekas tempat cat. Sebab, kita berulang kali mengganti sabun pembersih karena tidak cocok atau kurang bersih. Serta membersihkannya lebih lama dibanding tempat oli,’’ jelasnya.

Sementara ini, cukup banyak peminat untuk membeli dari The Eleven. Rerata dari luar Desa Mojodeso. Sedangkan dari masyarakat sekitar hanya antusias membantu dan berswafoto. Terutama anak kecil.

Meski begitu, belum ada yang benar-benar ingin membeli. Sehingga, ke depannya Adib berencana memajang tiga miniatur robot dalam sebuah pameran, festival, dan bahkan saat car free day (CFD) di seputaran alun-alun Kota Ledre.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/