alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Harga Jagung Naik, Petani Diuntungkan 

BOJONEGORO – Petani jagung kini bisa tersenyum lega. Sebab, tahun ini harga jagung mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya. Tahun lalu, harga jagung basah hanya Rp 2.300 hingga Rp 2.500  per kilogram (kg). 

”Sekarang harga jagung basah mencapai Rp 3.300 per kilogram,” kata Parno, salah satu petani jagung asal Desa Growok, Kecamatan Dander, kemarin (6/8).

Meski kenaikan harga jagung basah dari petani mengalami kenaikan Rp 800 hingga Rp 1.000, lelaki berkulit cokelat itu mengaku senang. Sebab, petani merasa diuntungkan. Dibanding tahun lalu, petani jagung hanya kembali modal.

”Baru tahun ini petani jagung merasa diuntungkan. Sebelumnya, hanya kembali modal saja,” kata petani berumur 45 tahun itu.

Uang hasil panen jagung tahun lalu hanya cukup untuk mengembalikan biaya perawatan. Seperti, pengairan, pemupukan, dan lain-lain. Sekarang, kata dia, petani bisa tersenyum semringah. Merasa diuntungkan.

Dia menambahkan, tahun ini, hama jagung tidak begitu seberapa dibandingkan tahun lalu. Pasalnya, tahun ini, hama jagung seperti kepik hijau dan ulat daun tidak banyak menyerang. Tahun lalu, hama tersebut banyak menyerang tanaman jagung. 

Baca Juga :  Aturan Terbaru, Larangan Mudik Lebih Lama

”Hama itu tidak pasti, kadang banyak menyerang, kadang juga sedikit menyerang tanaman jagung. Ndak tau apa sebabnya,” kara Parno.

Ulat daun, tambahnya, merupakan hama penting yang harus di perhatikan petani jagung. Ulat tersebut memakan buah jagung. Sehingga, kualitas jagung bisa menurun. Juga memakan daun dan batang jagung. Sedangkan, kepik hijau membuat tanaman jagung layu.

”Cara antisipasinya disemprot menggunakan pestisida,” ucapnya.

Harmuji, petani jagung lainnya asal Desa/Kecamatan Temayang, mengatakan, tahun ini merupakan tahun yang membahagiakan petani jagung. Sebab, harga jagung basah mengalami kenaikan. ”Dua tahun menunggu, akhirnya harga jagung naik juga,” katanya.

Dia mengaku, tahun ini jagung basah miliknya di beli tengkulak seharga Rp 3.400 per kilogramnya. Tahun lalu, di beli tengkulak hanya Rp 2.500 per kilogram. ”Tahun lalu, petani jagung merasa resah. Karena, hanya kembali modal,” ujar dia.

Baca Juga :  Pendistribusian Program Sembako di Soko Layak, Sesuai Keinginan KPM

Petani berumur 50 tahun itu tahun lalu mengaku kesal dengan pemerintah. Pasalnya, petani merasa dirugikan. Harga jagung basah tak kunjung naik. Sedangkan, tenaga dan biaya perawatan (pupuk) banyak dikeluarkan. ”Kesal, karena harga jagung tidak naik,” ucapnya.

Penantian itu terjawab. Kini, harga jagung naik. Tahun ini, petani bisa tersenyum lebar. Ia berharap, ke depan harga jagung basah mengalami kenaikan atau stabil. Karena, petani merasa diuntungkan. ”Dengan begitu, petani jagung bisa tersenyum terus,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Bojonegoro Basuki mengatakan, harga pembelian pemerintah (HPP) jagung basah sekitar Rp 3.200 per kilogram. Sehingga, tengkulak yang hendak membeli jagung basah petani, harus berpatokan dengan HPP.

Sedangkan harga jagung kering kisaran Rp 3.500 hingga Rp 3.800 per kilogram. Salah satu penyebab harga jagung naik karena jagung impor sudah dihentikan untuk pemaksimalan petani jagung lokal. Selain itu, lahan jagung mulai meluas. ”Diperkirakan, tahun depan harga jagung stabil,” imbuhnya. 

BOJONEGORO – Petani jagung kini bisa tersenyum lega. Sebab, tahun ini harga jagung mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya. Tahun lalu, harga jagung basah hanya Rp 2.300 hingga Rp 2.500  per kilogram (kg). 

”Sekarang harga jagung basah mencapai Rp 3.300 per kilogram,” kata Parno, salah satu petani jagung asal Desa Growok, Kecamatan Dander, kemarin (6/8).

Meski kenaikan harga jagung basah dari petani mengalami kenaikan Rp 800 hingga Rp 1.000, lelaki berkulit cokelat itu mengaku senang. Sebab, petani merasa diuntungkan. Dibanding tahun lalu, petani jagung hanya kembali modal.

”Baru tahun ini petani jagung merasa diuntungkan. Sebelumnya, hanya kembali modal saja,” kata petani berumur 45 tahun itu.

Uang hasil panen jagung tahun lalu hanya cukup untuk mengembalikan biaya perawatan. Seperti, pengairan, pemupukan, dan lain-lain. Sekarang, kata dia, petani bisa tersenyum semringah. Merasa diuntungkan.

Dia menambahkan, tahun ini, hama jagung tidak begitu seberapa dibandingkan tahun lalu. Pasalnya, tahun ini, hama jagung seperti kepik hijau dan ulat daun tidak banyak menyerang. Tahun lalu, hama tersebut banyak menyerang tanaman jagung. 

Baca Juga :  Pemudik Datang Dengan Gejala Harus Segera Diisolasi

”Hama itu tidak pasti, kadang banyak menyerang, kadang juga sedikit menyerang tanaman jagung. Ndak tau apa sebabnya,” kara Parno.

Ulat daun, tambahnya, merupakan hama penting yang harus di perhatikan petani jagung. Ulat tersebut memakan buah jagung. Sehingga, kualitas jagung bisa menurun. Juga memakan daun dan batang jagung. Sedangkan, kepik hijau membuat tanaman jagung layu.

”Cara antisipasinya disemprot menggunakan pestisida,” ucapnya.

Harmuji, petani jagung lainnya asal Desa/Kecamatan Temayang, mengatakan, tahun ini merupakan tahun yang membahagiakan petani jagung. Sebab, harga jagung basah mengalami kenaikan. ”Dua tahun menunggu, akhirnya harga jagung naik juga,” katanya.

Dia mengaku, tahun ini jagung basah miliknya di beli tengkulak seharga Rp 3.400 per kilogramnya. Tahun lalu, di beli tengkulak hanya Rp 2.500 per kilogram. ”Tahun lalu, petani jagung merasa resah. Karena, hanya kembali modal,” ujar dia.

Baca Juga :  Kades Pusnomo Edy Pimpin Rakor Persiapan Penutupan TMMD

Petani berumur 50 tahun itu tahun lalu mengaku kesal dengan pemerintah. Pasalnya, petani merasa dirugikan. Harga jagung basah tak kunjung naik. Sedangkan, tenaga dan biaya perawatan (pupuk) banyak dikeluarkan. ”Kesal, karena harga jagung tidak naik,” ucapnya.

Penantian itu terjawab. Kini, harga jagung naik. Tahun ini, petani bisa tersenyum lebar. Ia berharap, ke depan harga jagung basah mengalami kenaikan atau stabil. Karena, petani merasa diuntungkan. ”Dengan begitu, petani jagung bisa tersenyum terus,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Bojonegoro Basuki mengatakan, harga pembelian pemerintah (HPP) jagung basah sekitar Rp 3.200 per kilogram. Sehingga, tengkulak yang hendak membeli jagung basah petani, harus berpatokan dengan HPP.

Sedangkan harga jagung kering kisaran Rp 3.500 hingga Rp 3.800 per kilogram. Salah satu penyebab harga jagung naik karena jagung impor sudah dihentikan untuk pemaksimalan petani jagung lokal. Selain itu, lahan jagung mulai meluas. ”Diperkirakan, tahun depan harga jagung stabil,” imbuhnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/