alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Bus Beroperasi dengan Syarat Khusus, KA Lokal Hanya Satu Perjalanan

Radar Bojonegoro – Pemudik berdatangan kemarin siang. Meski tak ramai, rerata penumpang membawa tas besar dan banyak. Diprediksi kemarin masih ada kelonggaran, karena mulai hari ini (6/5) mulai pengetatan larangan mudik.

Larangan mudik Lebaran 2021 mulai berlaku hari ini hingga 17 Mei mendatang. Sebagian besar moda transportasi tidak diizinkan untuk digunakan sebagai sarana transportasi mudik atau pulang kampung. Namun, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan sejumlah pengecualian penggunaan kendaraan selama masa larangan mudik lebaran.

Koordinator Satuan Pelayanan (Korsepal) Terminal Rajekwesi Bojonegoro Budi Sugiarto menjelaskan, pengecualian bus beroperasi ini disyaratkan memiliki surat izin perjalanan tertulis atau Surat Izin Keluar/Masuk (SIKM). Sehingga akan ada pengetatan data dan pengecekan bagi penumpang bus antar kota dalam provinsi (AKDP) maupun antar kota antar provinsi (AKAP).

“Para penumpang akan menggu nakan bus AKDP maupun AKAP sebagai sarana transportasi harus memiliki surat lengkap agar bisa berlalu lalang,” jelasnya. Nantinya, bus AKDP dan AKAP dipasang stiker yang mana dilakukan pembatasan jumlah penumpang. Adapun pengecualiannya ditujukan bagi penumpang kepentingan mendesak. Di antaranya kepentingan untuk bekerja, perjalanan dinas, kunjungan keluarga sakit, kunjungan duka keluarga meninggal dunia, persalinan, dan pelayanan kesehatan darurat.

Baca Juga :  Peserta Assesmen Nasional Berbeda di Tiap Jenjang Pendidikan

“Intinya kepentingannya bukan untuk mudik, para penumpang itu juga wajib membawa surat keterangan dari kepala desa atau lurah setempat,” imbuh Budi. Kepala Stasiun Bojonegoro Agus Widodo menyampaikan, bahwa kereta api (KA) jarak jauh juga tetap beroperasi dengan pengecualian kepentingan mendesak. Sedangkan, KA lokal jurusan Surabaya yang beroperasi satu perjalanan, yakni pukul 14.28. Sedangkan, KA lokal Cepu-Surabaya tidak beroperasi selama larangan mudik. “Selama larangan mudik pengetatan penumpang dengan kepentingan mendesak,” pungkasnya.

Sementara itu, menjelang Lebaran sejumlah penghuni terminal terdampak adanya larangan mudik. Sopir bus, kenek, peda gang asongan, pemilik warung, ojek, dan pengayuh becak. Pandemi Covid-19 belum usai mengakibatkan pemerintah membuat aturan larangan mudik pada 6-17 Mei.

Budiono salah satu sopir bus jurusan Bojonegoro-Surabaya mengatakan, tanpa adanya larangan mudik, penghasilannya sudah menurun drastis sejak awal Ramadan. Rata-rata dua kali pulang pergi (PP), jumlah penumpangnya tidak pernah lebih dari 50 orang per hari. Misalnya kemarin (5/5), ia mengatakan baru mendapat 10 penumpang setelah satu kali PP. “Benar-benar sepi, susah sekali dapat penumpang sejak awal puasa,” tutur pria asal Desa Pungpungan, Kecamatan Kalitidu itu.

Baca Juga :  Orang Tua Resah Anak Kecanduan Game Online 

Arifin pedagang asongan pun gigit jari dengan karena kon disinya serbasulit. Lalu, ditambah lagi adanya aturan larangan mudik selama 12 hari. Penghasilan hariannya hanya sekitar Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Sedangkan, ketika kondisi normal, pengha silannya minimal Rp 100 ribu per hari. Pria asal Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander itu hanya bisa pasrah. “Dua kali momen Lebaran ini kondisinya masih sulit, hanya bisa pasrah,” katanya.

Terpisah, Sugianto selaku tukang ojek juga merasakan dampak larangan mudik. Jumlah penumpang menurun drastis. Sejak pagi hingga siang kemarin, dia baru dapat satu penumpang. Menurutnya, apabila ada aturan larangan mudik, para penghuni terminal sepertinya diberikan kompensasi oleh pemerintah. “Tidak ada bantuan atau kompensasi sama sekali kepada penghuni terminal yang jelas-jelas terdampak adanya aturan larangan mudik,” tutur dia.

Radar Bojonegoro – Pemudik berdatangan kemarin siang. Meski tak ramai, rerata penumpang membawa tas besar dan banyak. Diprediksi kemarin masih ada kelonggaran, karena mulai hari ini (6/5) mulai pengetatan larangan mudik.

Larangan mudik Lebaran 2021 mulai berlaku hari ini hingga 17 Mei mendatang. Sebagian besar moda transportasi tidak diizinkan untuk digunakan sebagai sarana transportasi mudik atau pulang kampung. Namun, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan sejumlah pengecualian penggunaan kendaraan selama masa larangan mudik lebaran.

Koordinator Satuan Pelayanan (Korsepal) Terminal Rajekwesi Bojonegoro Budi Sugiarto menjelaskan, pengecualian bus beroperasi ini disyaratkan memiliki surat izin perjalanan tertulis atau Surat Izin Keluar/Masuk (SIKM). Sehingga akan ada pengetatan data dan pengecekan bagi penumpang bus antar kota dalam provinsi (AKDP) maupun antar kota antar provinsi (AKAP).

“Para penumpang akan menggu nakan bus AKDP maupun AKAP sebagai sarana transportasi harus memiliki surat lengkap agar bisa berlalu lalang,” jelasnya. Nantinya, bus AKDP dan AKAP dipasang stiker yang mana dilakukan pembatasan jumlah penumpang. Adapun pengecualiannya ditujukan bagi penumpang kepentingan mendesak. Di antaranya kepentingan untuk bekerja, perjalanan dinas, kunjungan keluarga sakit, kunjungan duka keluarga meninggal dunia, persalinan, dan pelayanan kesehatan darurat.

Baca Juga :  Baru Satu Taksi Online yang Mendaftar 

“Intinya kepentingannya bukan untuk mudik, para penumpang itu juga wajib membawa surat keterangan dari kepala desa atau lurah setempat,” imbuh Budi. Kepala Stasiun Bojonegoro Agus Widodo menyampaikan, bahwa kereta api (KA) jarak jauh juga tetap beroperasi dengan pengecualian kepentingan mendesak. Sedangkan, KA lokal jurusan Surabaya yang beroperasi satu perjalanan, yakni pukul 14.28. Sedangkan, KA lokal Cepu-Surabaya tidak beroperasi selama larangan mudik. “Selama larangan mudik pengetatan penumpang dengan kepentingan mendesak,” pungkasnya.

Sementara itu, menjelang Lebaran sejumlah penghuni terminal terdampak adanya larangan mudik. Sopir bus, kenek, peda gang asongan, pemilik warung, ojek, dan pengayuh becak. Pandemi Covid-19 belum usai mengakibatkan pemerintah membuat aturan larangan mudik pada 6-17 Mei.

Budiono salah satu sopir bus jurusan Bojonegoro-Surabaya mengatakan, tanpa adanya larangan mudik, penghasilannya sudah menurun drastis sejak awal Ramadan. Rata-rata dua kali pulang pergi (PP), jumlah penumpangnya tidak pernah lebih dari 50 orang per hari. Misalnya kemarin (5/5), ia mengatakan baru mendapat 10 penumpang setelah satu kali PP. “Benar-benar sepi, susah sekali dapat penumpang sejak awal puasa,” tutur pria asal Desa Pungpungan, Kecamatan Kalitidu itu.

Baca Juga :  Peserta Assesmen Nasional Berbeda di Tiap Jenjang Pendidikan

Arifin pedagang asongan pun gigit jari dengan karena kon disinya serbasulit. Lalu, ditambah lagi adanya aturan larangan mudik selama 12 hari. Penghasilan hariannya hanya sekitar Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Sedangkan, ketika kondisi normal, pengha silannya minimal Rp 100 ribu per hari. Pria asal Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander itu hanya bisa pasrah. “Dua kali momen Lebaran ini kondisinya masih sulit, hanya bisa pasrah,” katanya.

Terpisah, Sugianto selaku tukang ojek juga merasakan dampak larangan mudik. Jumlah penumpang menurun drastis. Sejak pagi hingga siang kemarin, dia baru dapat satu penumpang. Menurutnya, apabila ada aturan larangan mudik, para penghuni terminal sepertinya diberikan kompensasi oleh pemerintah. “Tidak ada bantuan atau kompensasi sama sekali kepada penghuni terminal yang jelas-jelas terdampak adanya aturan larangan mudik,” tutur dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/