alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Kuning Menggiurkan, Pohon Pisang yang Setiap Hari Panen

DAUN-daun pohon pisang melambai terhempas angin. Antardaun saling bertabrakan. Suaranyanya seperti bertepuk karena daun saling berbenturan. Itulah khas ketika memasuki Desa Mojo, Kecamatan Kalitidu.

Permukiman berhimpitan dengan aliran Sungai Bengawan Solo itu ternyata memiliki kebun pisang yang luas. Areal kebunnya sekitar 30 hektare. Jarang ada areal pertanian padi. Sebaliknya beragam jenis pisang tumbuh subur. 

Pohon pisang itu tumbuh berdampingan dengan belimbing madu. Kebetulan warga setempat memanfaatkan areal lahan sebagai kebun pisang dan belimbing. Pengembangan budidaya aneka pisang tergolong masih baru, yakni sejak 2015. 

Warga Desa Mojo memanfaatkan sisa lahan belimbing untuk budidaya aneka pisang. “Di seluruh lahan belimbing di Desa Mojo pasti ada pohon pisangnya. Beberapa ada juga yang tanam jambu kristal, tapi belum banyak,” kata Sujono salah satu petani ditemui di lokasi.

Jenis pisang yang ditanam petani beragam. Seperti pisang raja, uli (biasa disebut ulin), dan susu. Panennya pun tak mengenal musim. Sama seperti belimbing. Sepanjang tahun bisa panen aneka pisang di Desa Mojo. Setiap hari selalu ada panen pisang. 

Baca Juga :  Proyek Pipa Jadi Tontonan Warga

Setiap hari pasti ada tengkulak mampir ke Desa Mojo untuk beli pisang. Karena memang hasil panen pisang Desa Mojo sudah didengar banyak tengkulak. Tengkulak banyak datang dari sekitaran Tuban, Rembang, dan Blora. 

Harga satu tandan pisang raja rata-rata Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Pisang uli antara Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu per tandan, dan pisang susu antara Rp 90 ribu hingga Rp 130 ribu per tandan. Desa juga wilayah bantaran Bengawan Solo itu terus berkembang di bidang agrobisnis.

“Pengembangan terus kami lakukan. Kami juga sempat kerja sama dengan salah satu supermarket, namun warga mengeluh karena ribet ada proses sortir. Sehingga, mereka fokus melayani tengkulak,” jelas Sujono.

Baca Juga :  Selangkah Lagi Rekrut Wilkson

Pengembangan budidaya aneka pisang bergulir secara natural. Bukan dorongan dari pemerintah desa. “Warga satu menanam pisang, lalu tahu hasil penjualannya bagus, otomatis tetangganya juga ingin mengikuti jejaknya dan akhirnya semua warga meniru,” jelas pria juga ketua BUMDes Mojo Makmur itu.

Sujono pun mengajak Jawa Pos Radar Bojonegoro keliling Desa Mojo melihat hamparan luas lahan-lahan pisang. Setiap lahan pisang pasti ada buahnya. Kebetulan di salah satu sudut jalan ada seorang tengkulak baru saja beli puluhan tandan pisang. 

Bandi, seorang tengkulak dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, itu usai membeli 22 tandan pisang dengan berbagai jenis. Ia membawa pisang-pisang menggunakan motor. Rencananya pisang akan dijual di wilayah Kabupaten Rembang.

 “Tengkulak dari Rembang seperti saya juga selalu beli pisang di Desa Mojo,” ujar Bandi ditemui di antara kebun pisang.

DAUN-daun pohon pisang melambai terhempas angin. Antardaun saling bertabrakan. Suaranyanya seperti bertepuk karena daun saling berbenturan. Itulah khas ketika memasuki Desa Mojo, Kecamatan Kalitidu.

Permukiman berhimpitan dengan aliran Sungai Bengawan Solo itu ternyata memiliki kebun pisang yang luas. Areal kebunnya sekitar 30 hektare. Jarang ada areal pertanian padi. Sebaliknya beragam jenis pisang tumbuh subur. 

Pohon pisang itu tumbuh berdampingan dengan belimbing madu. Kebetulan warga setempat memanfaatkan areal lahan sebagai kebun pisang dan belimbing. Pengembangan budidaya aneka pisang tergolong masih baru, yakni sejak 2015. 

Warga Desa Mojo memanfaatkan sisa lahan belimbing untuk budidaya aneka pisang. “Di seluruh lahan belimbing di Desa Mojo pasti ada pohon pisangnya. Beberapa ada juga yang tanam jambu kristal, tapi belum banyak,” kata Sujono salah satu petani ditemui di lokasi.

Jenis pisang yang ditanam petani beragam. Seperti pisang raja, uli (biasa disebut ulin), dan susu. Panennya pun tak mengenal musim. Sama seperti belimbing. Sepanjang tahun bisa panen aneka pisang di Desa Mojo. Setiap hari selalu ada panen pisang. 

Baca Juga :  Usai Perbaikan Trotoar, Puluhan Pohon Besar Mulai Ditanam

Setiap hari pasti ada tengkulak mampir ke Desa Mojo untuk beli pisang. Karena memang hasil panen pisang Desa Mojo sudah didengar banyak tengkulak. Tengkulak banyak datang dari sekitaran Tuban, Rembang, dan Blora. 

Harga satu tandan pisang raja rata-rata Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Pisang uli antara Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu per tandan, dan pisang susu antara Rp 90 ribu hingga Rp 130 ribu per tandan. Desa juga wilayah bantaran Bengawan Solo itu terus berkembang di bidang agrobisnis.

“Pengembangan terus kami lakukan. Kami juga sempat kerja sama dengan salah satu supermarket, namun warga mengeluh karena ribet ada proses sortir. Sehingga, mereka fokus melayani tengkulak,” jelas Sujono.

Baca Juga :  Tewas Dihantam Gandengan Truk Silog

Pengembangan budidaya aneka pisang bergulir secara natural. Bukan dorongan dari pemerintah desa. “Warga satu menanam pisang, lalu tahu hasil penjualannya bagus, otomatis tetangganya juga ingin mengikuti jejaknya dan akhirnya semua warga meniru,” jelas pria juga ketua BUMDes Mojo Makmur itu.

Sujono pun mengajak Jawa Pos Radar Bojonegoro keliling Desa Mojo melihat hamparan luas lahan-lahan pisang. Setiap lahan pisang pasti ada buahnya. Kebetulan di salah satu sudut jalan ada seorang tengkulak baru saja beli puluhan tandan pisang. 

Bandi, seorang tengkulak dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, itu usai membeli 22 tandan pisang dengan berbagai jenis. Ia membawa pisang-pisang menggunakan motor. Rencananya pisang akan dijual di wilayah Kabupaten Rembang.

 “Tengkulak dari Rembang seperti saya juga selalu beli pisang di Desa Mojo,” ujar Bandi ditemui di antara kebun pisang.

Artikel Terkait

Most Read

214 Ribu Warga Belum E-KTP

Tes Tentukan Rapor Atlet Porprov

Dibacok, Penambang Kritis

Artikel Terbaru

/