alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Pengembangan Kawasan Ekonomi Masyarakat Pesisir

TUBAN – Begitu antusiasnya, bupati dan istri disertai sejumlah jajarannya menaiki kapal pengawas di Pelabuhan Bulu. Dari pelabuhan ini rombongan menuju tengah laut untuk melihat KJA Laut di lepas pantai Kecamatan Bancar, Rabu (2/5). Di lokasi KJA Laut, bupati tidak hanya panen raya perdana. Dia juga ingin tahu persis hitung-hitungannya.

”Jika menguntungkan, akan saya kembangkan di perairan Tuban lainnya. Utamanya di kawasan Boom dan Sowan, Bancar,” kata dia yang berharap sekali panen minimal lima ton dan langsung diangkut kapal. Harapan bupati tersebut bukan tanpa alasan. Eksportir yang siap membeli ikut menyertai dalam panen raya tersebut. 

Program terbaru ini dinilai dinas perikanan dan peternakan setempat sebagai salah satu jawaban atas problem berkurangnya hasil tangkapan nelayan akibatnya penurunan populasi ikan laut yang dirasakan lima tahun terakhir. Pemicunya beragam. Mulai penangkapan yang tidak selektif hingga penangkapan atau pencurian ikan oleh nelayan asing dengan kapal-kapal besar. Ya, berkurangnya hasil tangkapan ikan sangat berdampak pada pendapatan serta kesejahteraan nelayan. 

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Tuban Dr Ir. M. Amenan, MT mengatakan, program KJA diharapkan dapat memberikan manfaat besar di lingkungan dekat nelayan. Meski masih  dalam rintisan, dia optimistis program ini bakal berhasil. Kalau yang jadi obsesinya tersebut tercapai, dia berharap mampu mengembangkan kawasan pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir. Dan, tentu saja pengentasan kemiskinan di kantong-kantong perkampungan nelayan. 

Diakuinya, perubahan rutinitas pola menangkap ikan di laut bebas dan langsung mendapat uang dengan budidaya ikan yang butuh waktu sekitar lima bulan merupakan hal yang tidak mudah. ”Dengan pembinaan dan pendampingan bertahap, upaya perubahan budaya tersebut dapat berjalan dengan baik,” ujar doktor yang disertasinya berjudul Model Pemberdayaan Masyarakat Kawasan Pertanian Terpadu Berbasis Blue Green Economy di Tuban itu.

Dikatakan Amenan, budidaya ikan dengan KJA di laut merupakan kegiatan sampingan. Dalam kegiatan ini, nelayan diberikan wawasan bahwa di lingkungan sekitarnya tersedia potensi ekonomi yang cukup besar dan dapat digali dan dimanfaatkan serta dikombinasikan dengan mata pencarian mereka sebagai nelayan. 

Baca Juga :  Bangun Chemistry Pemain

Dalam filosori dasar program tersebut, terang dia, institusinya berusaha memberdayakan 

komoditas potensial lokal yang dikembangkan dengan lebih menekankan  pada optimalisasi nilai tambah komoditas maupun proses produksi. Dengan demikian, integrasi program institusinya menjadi kata kunci keberhasilan. Yakni, fokus pada outcome dan benefid dari sebuah program. ”Bukan sebatas input dan output sebagai parameter keberhasilan,” tegas dia.

Kegiatan menangkap ikan yang penghasilannya tidak menentu karena pengaruh musim tertentu dan tidak dapat melaut maupun ketersediaan sumber daya ikan yang semakin menyusut, menurutnya, dapat digantikan dengan usaha budidaya KJA. ”Hasil budidaya ini hasilnya lebih bisa diprediksi,” tegas mantan kabag administrasi pembangunan perekonomian kesra setda ini. 

Diterangkan Amenan, bantuan sarana kegiatan budidaya KJA berasal dari Pemprov Jatim melalui dinas kelautan dan perikanan provinsi. Di Bumi Wali, sarana budidaya KJA diberikan kepada dua kelompok. Yakni, kelompok Sendang Marina Bancar dan Bina Bahari Bancar, keduanya berdomisili di Desa Bancar, Kecamatan Bancar. 

Masing-masing kelompok beranggotakan tujuh orang warga yang berdomisili di wilayah sekitar. Sebagian anggota adalah nelayan aktif dan selebihnya tidak melaut lagi. ”Kegiatan ini merupakan percontohan pioner yang diharapkan dapat berhasil dan dijadikan contoh pengembangan selanjutnya,” kata suami Dhian Thaufani ini.

Amenan memaparkan, kegiatan ini dimulai awal Desember 2017. Jumlah sarana budidaya KJA yang diterima masing-masing kelompok sebanyak 2 unit. Rinciannya, 8 lubang budidaya berukuran 3x3x2,5 meter lengkap dengan jangkar dan jaringnya. Selain sarana, masing-masing kelompok diberikan benih 3.500 ekor 

ikan kerapu plus sebagian pakannya. Pembinaan teknis kelompok ini dari dinas perikanan dan peternakan setempat serta dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo yang kebetulan memiliki instalasi di Tuban. 

Analisa hasil usaha budidaya KJA juga dibeberkan detail Amenan. Diterangkan dia, pakan utama ikan kerapu yang dibudidayakan berupa ikan rucah atau ikan yang harganya sangat murah, tersedia banyak di seluruh TPI di Tuban, mulai Bulu, Glondonggede, Palang, hingga Karangagung. ”Ini berarti dapat memanfaatkan potensi limbah menjadi bernilai,” kata pria kelahiran 7 Agustus 52 tahun lalu itu.

Baca Juga :  Mural Sugondo Diapresiasi DPR KP

Dengan menggunakan ikan rucah sebagai pakan, dia mengkonversi pakan (FCR) sebesar 6. Artinya, untuk menghasilkan 1 kilogram (kg) daging ikan kerapu dibutuhkan pakan sebanyak 6kg. Dengan harga ikan rucah Rp 3.500 per kg, maka biaya pakan untuk menghasilkan 1kg ikan kerapu hanya Rp 21 ribu selama budidaya berlangsung lima bulan. Sementara harga jual ikan kerapu saat ini cukup tinggi, Rp 80-90 ribu per kg tergantung dari berat hidup.

Biaya lainnya adalah benih ikan dengan ukuran 8sentimeter (cm) dengan harga Rp 800 per ekor per cm. Dengan kelangsungan hidup 80 persen, diperkirakan hasil panennya sekitar 1,4 ton (untuk ukuran ikan 0,6 kg atau 600 gram per ekor. Karena harga ikan jenis ini Rp 80 ribu per kg, sekali panen diperkirakan bisa menghasilkan pendapatan kotor Rp 112 juta. Setelah dipotong biaya pakan 28 juta,  tenaga kerja 2 orang (10 juta), dan bibit, keuntungan bersihnya berkisar Rp 45,2 juta per unit atau Rp 9.040.000 per bulan.

”Semoga program ini bisa memberi manfaat pada masyarakat luas,” ujar yang kemudian menyampaikan terima kasih atas kerja sama dan dukungan semua pihak. 

Amenan lebih lanjut mengatakan, konsep budidaya KJA merupakan bagian dari inovasi dinasnya. ”Ini bagian dari percepatan indikator utama dinas,” tegas pejabat yang menyelesaikan S-2 manajemen teknis kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu.   

Amenan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas terlaksananya panen raya tersebut. Mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pelabuhan bulu, korps Marinir, camat setempat, dan pihak lain yang tidak bisa disebut satu per satu.

TUBAN – Begitu antusiasnya, bupati dan istri disertai sejumlah jajarannya menaiki kapal pengawas di Pelabuhan Bulu. Dari pelabuhan ini rombongan menuju tengah laut untuk melihat KJA Laut di lepas pantai Kecamatan Bancar, Rabu (2/5). Di lokasi KJA Laut, bupati tidak hanya panen raya perdana. Dia juga ingin tahu persis hitung-hitungannya.

”Jika menguntungkan, akan saya kembangkan di perairan Tuban lainnya. Utamanya di kawasan Boom dan Sowan, Bancar,” kata dia yang berharap sekali panen minimal lima ton dan langsung diangkut kapal. Harapan bupati tersebut bukan tanpa alasan. Eksportir yang siap membeli ikut menyertai dalam panen raya tersebut. 

Program terbaru ini dinilai dinas perikanan dan peternakan setempat sebagai salah satu jawaban atas problem berkurangnya hasil tangkapan nelayan akibatnya penurunan populasi ikan laut yang dirasakan lima tahun terakhir. Pemicunya beragam. Mulai penangkapan yang tidak selektif hingga penangkapan atau pencurian ikan oleh nelayan asing dengan kapal-kapal besar. Ya, berkurangnya hasil tangkapan ikan sangat berdampak pada pendapatan serta kesejahteraan nelayan. 

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Tuban Dr Ir. M. Amenan, MT mengatakan, program KJA diharapkan dapat memberikan manfaat besar di lingkungan dekat nelayan. Meski masih  dalam rintisan, dia optimistis program ini bakal berhasil. Kalau yang jadi obsesinya tersebut tercapai, dia berharap mampu mengembangkan kawasan pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir. Dan, tentu saja pengentasan kemiskinan di kantong-kantong perkampungan nelayan. 

Diakuinya, perubahan rutinitas pola menangkap ikan di laut bebas dan langsung mendapat uang dengan budidaya ikan yang butuh waktu sekitar lima bulan merupakan hal yang tidak mudah. ”Dengan pembinaan dan pendampingan bertahap, upaya perubahan budaya tersebut dapat berjalan dengan baik,” ujar doktor yang disertasinya berjudul Model Pemberdayaan Masyarakat Kawasan Pertanian Terpadu Berbasis Blue Green Economy di Tuban itu.

Dikatakan Amenan, budidaya ikan dengan KJA di laut merupakan kegiatan sampingan. Dalam kegiatan ini, nelayan diberikan wawasan bahwa di lingkungan sekitarnya tersedia potensi ekonomi yang cukup besar dan dapat digali dan dimanfaatkan serta dikombinasikan dengan mata pencarian mereka sebagai nelayan. 

Baca Juga :  Siti Nurul Hidayah Ketua Baru

Dalam filosori dasar program tersebut, terang dia, institusinya berusaha memberdayakan 

komoditas potensial lokal yang dikembangkan dengan lebih menekankan  pada optimalisasi nilai tambah komoditas maupun proses produksi. Dengan demikian, integrasi program institusinya menjadi kata kunci keberhasilan. Yakni, fokus pada outcome dan benefid dari sebuah program. ”Bukan sebatas input dan output sebagai parameter keberhasilan,” tegas dia.

Kegiatan menangkap ikan yang penghasilannya tidak menentu karena pengaruh musim tertentu dan tidak dapat melaut maupun ketersediaan sumber daya ikan yang semakin menyusut, menurutnya, dapat digantikan dengan usaha budidaya KJA. ”Hasil budidaya ini hasilnya lebih bisa diprediksi,” tegas mantan kabag administrasi pembangunan perekonomian kesra setda ini. 

Diterangkan Amenan, bantuan sarana kegiatan budidaya KJA berasal dari Pemprov Jatim melalui dinas kelautan dan perikanan provinsi. Di Bumi Wali, sarana budidaya KJA diberikan kepada dua kelompok. Yakni, kelompok Sendang Marina Bancar dan Bina Bahari Bancar, keduanya berdomisili di Desa Bancar, Kecamatan Bancar. 

Masing-masing kelompok beranggotakan tujuh orang warga yang berdomisili di wilayah sekitar. Sebagian anggota adalah nelayan aktif dan selebihnya tidak melaut lagi. ”Kegiatan ini merupakan percontohan pioner yang diharapkan dapat berhasil dan dijadikan contoh pengembangan selanjutnya,” kata suami Dhian Thaufani ini.

Amenan memaparkan, kegiatan ini dimulai awal Desember 2017. Jumlah sarana budidaya KJA yang diterima masing-masing kelompok sebanyak 2 unit. Rinciannya, 8 lubang budidaya berukuran 3x3x2,5 meter lengkap dengan jangkar dan jaringnya. Selain sarana, masing-masing kelompok diberikan benih 3.500 ekor 

ikan kerapu plus sebagian pakannya. Pembinaan teknis kelompok ini dari dinas perikanan dan peternakan setempat serta dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo yang kebetulan memiliki instalasi di Tuban. 

Analisa hasil usaha budidaya KJA juga dibeberkan detail Amenan. Diterangkan dia, pakan utama ikan kerapu yang dibudidayakan berupa ikan rucah atau ikan yang harganya sangat murah, tersedia banyak di seluruh TPI di Tuban, mulai Bulu, Glondonggede, Palang, hingga Karangagung. ”Ini berarti dapat memanfaatkan potensi limbah menjadi bernilai,” kata pria kelahiran 7 Agustus 52 tahun lalu itu.

Baca Juga :  3.173 Rumah Masih Kebanjiran

Dengan menggunakan ikan rucah sebagai pakan, dia mengkonversi pakan (FCR) sebesar 6. Artinya, untuk menghasilkan 1 kilogram (kg) daging ikan kerapu dibutuhkan pakan sebanyak 6kg. Dengan harga ikan rucah Rp 3.500 per kg, maka biaya pakan untuk menghasilkan 1kg ikan kerapu hanya Rp 21 ribu selama budidaya berlangsung lima bulan. Sementara harga jual ikan kerapu saat ini cukup tinggi, Rp 80-90 ribu per kg tergantung dari berat hidup.

Biaya lainnya adalah benih ikan dengan ukuran 8sentimeter (cm) dengan harga Rp 800 per ekor per cm. Dengan kelangsungan hidup 80 persen, diperkirakan hasil panennya sekitar 1,4 ton (untuk ukuran ikan 0,6 kg atau 600 gram per ekor. Karena harga ikan jenis ini Rp 80 ribu per kg, sekali panen diperkirakan bisa menghasilkan pendapatan kotor Rp 112 juta. Setelah dipotong biaya pakan 28 juta,  tenaga kerja 2 orang (10 juta), dan bibit, keuntungan bersihnya berkisar Rp 45,2 juta per unit atau Rp 9.040.000 per bulan.

”Semoga program ini bisa memberi manfaat pada masyarakat luas,” ujar yang kemudian menyampaikan terima kasih atas kerja sama dan dukungan semua pihak. 

Amenan lebih lanjut mengatakan, konsep budidaya KJA merupakan bagian dari inovasi dinasnya. ”Ini bagian dari percepatan indikator utama dinas,” tegas pejabat yang menyelesaikan S-2 manajemen teknis kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu.   

Amenan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas terlaksananya panen raya tersebut. Mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pelabuhan bulu, korps Marinir, camat setempat, dan pihak lain yang tidak bisa disebut satu per satu.

Artikel Terkait

Most Read

Ibu Kota Sepaku

Sebulan Beroperasi, Masih Sepi

Klaim Investor Jepang Ingin Investasi

Diminta Serahkan Desain Bahan Kampanye

Artikel Terbaru

/