alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Umbi Porang, Komoditas Ekspor Dilirik Investor

Radar Bojonegoro – Umbi porang menjadi komoditas ekspor karena di Indonesia belum ada yang bisa mengolah. Umbi porang banyak diekspor ke beberapa negara di negara-negara Asia Pasifik, seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro Zaenal Fanani mengatakan, umbi porang dijual ke pengepul. Selanjutnya, diiris tipis (seperti keripik tanpa dikupas) dan dikeringkan. Setelah itu di ekspor ke pabrik pembuatan tepung di Tiongkok atau Jepang. Harganya 1 kilogram Rp 10 ribu untuk porang basah. Dan porang kering sekitar Rp 35 ribu.

Administratur Perhutani KPH Bojonegoro Hilman mengatakan, di Bojonegoro umbi porang hanya dikeringkan. Kemudian akan diekspor ke Jepang atau Korea. Diolah menjadi tepung, sebagai bahan produk makanan. “Di sini belum bisa mengambil nilai tambah,” ungkapnya.

Baca Juga :  Lembur┬áSkripsi, Gadis ini Rileks dengan Dengarkan Musik

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro Darsan menjelaskan, porang banyak diekpor ke Jepang dan Korea. Sebagai bahan baku mi. Selain itu bahan kosmetik. “Untuk kebutuhan mi orang-orang Jepang dan Korea,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro Helmi Elisabeth mengatakan, petani porang Bojonegoro belum pernah mengekspor. Namun, dibeli langsung oleh pembeli asal Pasuruan dan Caruban, Madiun sudah menjadi langanan. “Harga mencapai Rp 15 ribu per kilogram untuk umbi segar,” jelasnya.

Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC TMP C) Bojonegoro Romy Windu Sasongko mengatakan, dari data terakhir dimiliki pihaknya belum ada komoditas seperti porang atau umbi lain yang diekspor. (irv)

Baca Juga :  USB Bertekad Jadi Terbaik di Bumi Wali

Radar Bojonegoro – Umbi porang menjadi komoditas ekspor karena di Indonesia belum ada yang bisa mengolah. Umbi porang banyak diekspor ke beberapa negara di negara-negara Asia Pasifik, seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro Zaenal Fanani mengatakan, umbi porang dijual ke pengepul. Selanjutnya, diiris tipis (seperti keripik tanpa dikupas) dan dikeringkan. Setelah itu di ekspor ke pabrik pembuatan tepung di Tiongkok atau Jepang. Harganya 1 kilogram Rp 10 ribu untuk porang basah. Dan porang kering sekitar Rp 35 ribu.

Administratur Perhutani KPH Bojonegoro Hilman mengatakan, di Bojonegoro umbi porang hanya dikeringkan. Kemudian akan diekspor ke Jepang atau Korea. Diolah menjadi tepung, sebagai bahan produk makanan. “Di sini belum bisa mengambil nilai tambah,” ungkapnya.

Baca Juga :  Defisit APBD 400 M, Pemkab Pastikan Tak Pangkas Program Pembangunan

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro Darsan menjelaskan, porang banyak diekpor ke Jepang dan Korea. Sebagai bahan baku mi. Selain itu bahan kosmetik. “Untuk kebutuhan mi orang-orang Jepang dan Korea,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro Helmi Elisabeth mengatakan, petani porang Bojonegoro belum pernah mengekspor. Namun, dibeli langsung oleh pembeli asal Pasuruan dan Caruban, Madiun sudah menjadi langanan. “Harga mencapai Rp 15 ribu per kilogram untuk umbi segar,” jelasnya.

Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC TMP C) Bojonegoro Romy Windu Sasongko mengatakan, dari data terakhir dimiliki pihaknya belum ada komoditas seperti porang atau umbi lain yang diekspor. (irv)

Baca Juga :  Pintu Kuro Belum Bisa Dibuka

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/