alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Porang, ‘Emas Hutan’ di Kaki Gunung Pandan

Kabupaten Bojonegoro bisa menjadi daerah pengekspor. Ada satu hasil pertanian cukup membanggakan. Porang. Salah satu tanaman umbi-umbian ini ternyata diekspor ke Jepang, Korea, atau negara-negara Asia Pasifi k. Bak seperti emas, petani kian banyak nandur tanaman umbi-umbian ini. 

Teduh di bawah rerimbun pohon jati. Semilir angin terhempas dari daundaun jati yang bergerak. Petani pun tak perlu memakai capil. Sinar matahari siang itu tak mampu menerobos dedaunan. Suara kicau burung menambah ketenangan di dalam hutan.

Puluhan petani terlihat menggarap lahan hutan. Yang lelaki mencangkul. Sementara ibu-ibu menyiangi tanaman porang yang usianya sekitar sebulan. Senda gurau petani menciptakan suasana riuh di dalam hutan Bagian Kesatauan Pemangkuan Hutan (BKPH) Dander.

Jawa Pos Radar Bojonegoro, mendatangi para petani porang di tengah hutan itu, Senin (28/12). Terhampar pohon porang di bawah pohon jati. Ukurannya masih kecil sekitar 10 sentimeter (cm). Daunnya hijau. Begitu pun batangnya juga hijau dengan terdapat tutul putih. Petani-petani tersebut tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Abadi itu menggarap lahan di BKPH Dander. Letaknya di selatan Kota Bojonegoro. Jarak 15 kilometer dari pusat kota dengan waktu tempuh 30 menit.

Baca Juga :  Masih Sepi, Taman Rajekwesi Butuh Tambahan Fasilitas

Ketua LMDH Wana Abadi BKPH Dander Lukandam mengatakan, penanaman porang di wilayah Perhutani BKPH Dander mulai dilakukan sekitar sebulan lalu. Di lahan seluas 17 haktare. Tepatnya di petak 13 dan 20. “Tanaman porang baru berumur sebulan,” jelasnya.

Menurut dia, penanaman dilakukan setelah ada investor yang mengajak kerja sama. Dengan memberdayakan masyarakat sekitar hutan. Hingga kini terdapat 100 orang dipekerjakan. Awalnya tak banyak warga tertarik ikut menanam porang. Pertama mencari tenaga kerja, hanya terdapat empat warga ikut. Namun, kini banyak tertarik dan ikut bergabung.

Lukandam juga baru kali pertama menanam porang. Diperkirakan tidak perlu perawatan khusus. Bahkan akan tetap hidup saat dibiarkan. Namun, untuk mendapatkan hasil maksimal perlu melakukan perawatan pada tanah. Dengan mencabut rumput liar dan mencangkul tanah. “Tak perlu dipupuk. Selama ini belum menemukan kendala,” jelasnya.

Petani tinggal di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, itu mengaku porang tidak mengganggu pohon jati. Justru butuh naungan. Berbeda dengan jagung butuh sinar matahari. Selain itu bisa dipanen ketika berukuran kecil maupun besar.

Baca Juga :  APBD Masih Rp 6 Triliun

Selain di wilayah hutan, Lukandam juga mencoba melakukan penanaman di lahannya sendiri. Ketika berhasil, bibit porang akan dibagikan ke masyarakat sekitar hutan agar tertarik membudidaya.

Administratur Perhutani KPH Bojonegoro Hilman mengatakan, bertanam porang mulai dicoba di wilayah hutan Kecamatan Bubulan dan Dander. Namun, belum diketahui hasilnya baik seperti di wilayah Kecamatan Sekar karena dipengaruhi kecocokan lahan. Hilman mengaku setuju jika hutan digunakan sebagai tempat penanaman porang dibanding tanaman lain. Tak merusak tanaman hutan. Justru porang butuh tanaman lain untuk bernaung.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro Zaenal Fanani menjelaskan, pada 2012 instansi membidangi kehutanan membuat demplot di empat kecamatan. Meliputi Tambakrejo, Dander, Sekar, dan Ngasem. Namun, hanya di hutan Kecamatan Sekar, hasilnya bagus. Tiga kecamatan lainnya kurang bagus. “Prediksi kami karena di Desa Klino (Kecamatan Sekar) ada di bawah tegakan rimba,” ungkapnya. (irv)

Kabupaten Bojonegoro bisa menjadi daerah pengekspor. Ada satu hasil pertanian cukup membanggakan. Porang. Salah satu tanaman umbi-umbian ini ternyata diekspor ke Jepang, Korea, atau negara-negara Asia Pasifi k. Bak seperti emas, petani kian banyak nandur tanaman umbi-umbian ini. 

Teduh di bawah rerimbun pohon jati. Semilir angin terhempas dari daundaun jati yang bergerak. Petani pun tak perlu memakai capil. Sinar matahari siang itu tak mampu menerobos dedaunan. Suara kicau burung menambah ketenangan di dalam hutan.

Puluhan petani terlihat menggarap lahan hutan. Yang lelaki mencangkul. Sementara ibu-ibu menyiangi tanaman porang yang usianya sekitar sebulan. Senda gurau petani menciptakan suasana riuh di dalam hutan Bagian Kesatauan Pemangkuan Hutan (BKPH) Dander.

Jawa Pos Radar Bojonegoro, mendatangi para petani porang di tengah hutan itu, Senin (28/12). Terhampar pohon porang di bawah pohon jati. Ukurannya masih kecil sekitar 10 sentimeter (cm). Daunnya hijau. Begitu pun batangnya juga hijau dengan terdapat tutul putih. Petani-petani tersebut tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Abadi itu menggarap lahan di BKPH Dander. Letaknya di selatan Kota Bojonegoro. Jarak 15 kilometer dari pusat kota dengan waktu tempuh 30 menit.

Baca Juga :  Tren Baca Naik, Pengunjung Perpusda Dibatasi

Ketua LMDH Wana Abadi BKPH Dander Lukandam mengatakan, penanaman porang di wilayah Perhutani BKPH Dander mulai dilakukan sekitar sebulan lalu. Di lahan seluas 17 haktare. Tepatnya di petak 13 dan 20. “Tanaman porang baru berumur sebulan,” jelasnya.

Menurut dia, penanaman dilakukan setelah ada investor yang mengajak kerja sama. Dengan memberdayakan masyarakat sekitar hutan. Hingga kini terdapat 100 orang dipekerjakan. Awalnya tak banyak warga tertarik ikut menanam porang. Pertama mencari tenaga kerja, hanya terdapat empat warga ikut. Namun, kini banyak tertarik dan ikut bergabung.

Lukandam juga baru kali pertama menanam porang. Diperkirakan tidak perlu perawatan khusus. Bahkan akan tetap hidup saat dibiarkan. Namun, untuk mendapatkan hasil maksimal perlu melakukan perawatan pada tanah. Dengan mencabut rumput liar dan mencangkul tanah. “Tak perlu dipupuk. Selama ini belum menemukan kendala,” jelasnya.

Petani tinggal di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, itu mengaku porang tidak mengganggu pohon jati. Justru butuh naungan. Berbeda dengan jagung butuh sinar matahari. Selain itu bisa dipanen ketika berukuran kecil maupun besar.

Baca Juga :  Masih Sepi, Taman Rajekwesi Butuh Tambahan Fasilitas

Selain di wilayah hutan, Lukandam juga mencoba melakukan penanaman di lahannya sendiri. Ketika berhasil, bibit porang akan dibagikan ke masyarakat sekitar hutan agar tertarik membudidaya.

Administratur Perhutani KPH Bojonegoro Hilman mengatakan, bertanam porang mulai dicoba di wilayah hutan Kecamatan Bubulan dan Dander. Namun, belum diketahui hasilnya baik seperti di wilayah Kecamatan Sekar karena dipengaruhi kecocokan lahan. Hilman mengaku setuju jika hutan digunakan sebagai tempat penanaman porang dibanding tanaman lain. Tak merusak tanaman hutan. Justru porang butuh tanaman lain untuk bernaung.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro Zaenal Fanani menjelaskan, pada 2012 instansi membidangi kehutanan membuat demplot di empat kecamatan. Meliputi Tambakrejo, Dander, Sekar, dan Ngasem. Namun, hanya di hutan Kecamatan Sekar, hasilnya bagus. Tiga kecamatan lainnya kurang bagus. “Prediksi kami karena di Desa Klino (Kecamatan Sekar) ada di bawah tegakan rimba,” ungkapnya. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Sidak Wabup Belum Ngefek

Jalur Temayang Tak Kunjung Diperbaiki

Qasima Bius Warga Sumberrejo

Artikel Terbaru


/