alexametrics
23.6 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Merasa Sumber Referensinya Terbatas

Tsalitsatul Maulidah sudah menerbitkan empat karya buku. Dia ingin bisa membantu mahasiswa dalam menyusun tugas akhir melalui tulisannya.

Tsalitsatul Maulidah sering mengikuti kegiatan seminar menulis dan dialog terbuka. Karena tuntutan dan kebutuhan sebagai dosen di perguruan tinggi swasta (PTS), dia akhirnya tertarik dunia penulisan pada 2017.
Ketika hendak membuat karya, dia berpikir karya tersebut harus bisa diterima semua kalangan, bukan hanya mahasiswa di prodinya. Semakin banyak sumber referensi yang dibacanya.  
“Sebenarnya karena tuntutan sebagai pendidik yang harus memiliki karya dan dorongan dari lingkungan mahasiswa untuk membaca lebih banyak karyanya,” terang dosen kelahiran 29 September 1990 itu.
Karya pertamanya berjudul Metodologi Penelitian Pendidikan. Buku ini sangat berkesan bagi Tsalitsatul. Bukan hanya ini karya pertamanya. Namun, prosesnya yang panjang. Saat itu, dia belum terlalu menguasai dunia penulisan. Tsalitsatul meminta bantuan suaminya untuk penyusunannya. Dia juga sedang hamil ketika ingin menulis karya tersebut. Akhirnya, butuh waktu setahun untuk menerbitkan buku tersebut.
“Waktu itu saya sedang hamil besar kemudian melahirkan dan harus menunggu sampai kondisi pulih baru melanjutkan,” kenang ibu satu anak tersebut.  
Setelah itu, tiga karya lain menyusul. Yakni, Perkembangan Peserta Didik, Mudahnya Memahami Metodologi Penelitian, serta Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa dan Akademisi.
Tsalitsatul banyak mengutip karya sejenis sebagai referensinya. Dia harus memasukkan sumber referensi yang jelas. “Ada keterbatasan sumber referensi sehingga karya itu tidak langsung jadi,” tutur dosen Universitas Billfath Lamongan itu.
Sebagai dosen, dia diwajibkan memiliki banyak karya agar bisa bermanfaat untuk mahasiswanya. Selain itu, Tsalitsatul merasa banyak pengalaman pribadi yang penting untuk ditulis sebagai kenang-kenangan.
Saat ini, dia sedang menyelesaikan tulisan tentang workshop dan karya ilmiah yang terinspirasi dari kesulitan-kesulitan yang dialami mahasiswa semester akhir. Harapannya bisa membantu mahasiswa dalam menyusun tugas akhir dan karya ilmiah lain. Meski kemampuannya masih terbatas, Tsalitsatul ingin sama-sama belajar dengan mahasiswa untuk bisa membuat karya bersama. Dia berusaha meningkatkan kebiasaan membaca dan sharing dengan teman-teman yang memiliki hobi sama untuk meningkatkan kompetensi menulis dan ide-idenya.

Baca Juga :  Perbaiki Jalan Poros, Desa Gelontor Dana Hingga Rp 41 M 

Tsalitsatul Maulidah sudah menerbitkan empat karya buku. Dia ingin bisa membantu mahasiswa dalam menyusun tugas akhir melalui tulisannya.

Tsalitsatul Maulidah sering mengikuti kegiatan seminar menulis dan dialog terbuka. Karena tuntutan dan kebutuhan sebagai dosen di perguruan tinggi swasta (PTS), dia akhirnya tertarik dunia penulisan pada 2017.
Ketika hendak membuat karya, dia berpikir karya tersebut harus bisa diterima semua kalangan, bukan hanya mahasiswa di prodinya. Semakin banyak sumber referensi yang dibacanya.  
“Sebenarnya karena tuntutan sebagai pendidik yang harus memiliki karya dan dorongan dari lingkungan mahasiswa untuk membaca lebih banyak karyanya,” terang dosen kelahiran 29 September 1990 itu.
Karya pertamanya berjudul Metodologi Penelitian Pendidikan. Buku ini sangat berkesan bagi Tsalitsatul. Bukan hanya ini karya pertamanya. Namun, prosesnya yang panjang. Saat itu, dia belum terlalu menguasai dunia penulisan. Tsalitsatul meminta bantuan suaminya untuk penyusunannya. Dia juga sedang hamil ketika ingin menulis karya tersebut. Akhirnya, butuh waktu setahun untuk menerbitkan buku tersebut.
“Waktu itu saya sedang hamil besar kemudian melahirkan dan harus menunggu sampai kondisi pulih baru melanjutkan,” kenang ibu satu anak tersebut.  
Setelah itu, tiga karya lain menyusul. Yakni, Perkembangan Peserta Didik, Mudahnya Memahami Metodologi Penelitian, serta Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa dan Akademisi.
Tsalitsatul banyak mengutip karya sejenis sebagai referensinya. Dia harus memasukkan sumber referensi yang jelas. “Ada keterbatasan sumber referensi sehingga karya itu tidak langsung jadi,” tutur dosen Universitas Billfath Lamongan itu.
Sebagai dosen, dia diwajibkan memiliki banyak karya agar bisa bermanfaat untuk mahasiswanya. Selain itu, Tsalitsatul merasa banyak pengalaman pribadi yang penting untuk ditulis sebagai kenang-kenangan.
Saat ini, dia sedang menyelesaikan tulisan tentang workshop dan karya ilmiah yang terinspirasi dari kesulitan-kesulitan yang dialami mahasiswa semester akhir. Harapannya bisa membantu mahasiswa dalam menyusun tugas akhir dan karya ilmiah lain. Meski kemampuannya masih terbatas, Tsalitsatul ingin sama-sama belajar dengan mahasiswa untuk bisa membuat karya bersama. Dia berusaha meningkatkan kebiasaan membaca dan sharing dengan teman-teman yang memiliki hobi sama untuk meningkatkan kompetensi menulis dan ide-idenya.

Baca Juga :  Perbaiki Jalan Poros, Desa Gelontor Dana Hingga Rp 41 M 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/