alexametrics
27.4 C
Bojonegoro
Friday, July 1, 2022

Dapat Predikat Mumtaz, Tangis Meledak

BAHAGIA itu adalah ketika dinyatakan lulus tahfidz. Meski sejuz saja. Seperti suasana di Pesantren Putri MBS Al Amin, Mojoranu, Dander, Rabu malam (4/9).

Tangis 26 santri putri seketika meledak. Begitu mendengar salah satu rekannya lulus mumtaz (cum laude) ujian tahfidz. Mereka bertangisan dan berpelukan. Bahkan, ada yang menangis cukup keras.

Malam itu, di Pesantren Putri MBS Al Amin, Mojoranu, Dander, sedang diadakan ujian juziyah (ujian hafal perjuz). Semua santri duduk lesehan membentuk huruf U. Yang menguji adalah para santri sendiri. Juga ustadah. Dipimpin Direktur Pesantren Putri MBS Al Amin, H. Syamsul Huda.

Malam itu yang ujian adalah Zakiya Zahra Salsabila. Asal Sidoarjo. Dia duduk di depan. Di sebelah kiri direktur pesantren. Zakiya harus membaca satu juz itu. Mulai dari awal hingga akhir juz. Juz 30. Sementara santri lain menyimak dengan membuka Alquran.

Dengan lancar Zakiya menghafal sejuz itu. Didengarkan seluruh teman santrinya, para ustadah dan pimpinan pesantren. Lulus? Belum. Masih harus diuji lagi.

Enam santri diberi kesempatan menguji. Dengan cara membaca potongan ayat. Zakiya meneruskan. Enam ujian dari rekannya itu lolos. Kini, giliran ustadah. Memberikan pertanyaan sama. Tentu dengan acak. Baik ayat maupun suratnya.

Zakiya pun bisa menjawab dengan lancar. Apa sudah cukup? Belum. Terakhir giliran mudir atau direktur pesantren itu, Ustad Syamsul Huda. Dia bertanya tentang surat apa sebelum dan sesudah Al-Kafirun? Zakiya menjawab dengan cepat: Al-Kautsar dan An-Nashr.

Baca Juga :  Gang Sadar, Pemasok Utama Jaringan Pengedar ¬†

Barulah dia dinyatakan lulus. Malam itu juga sertifikasi kelulusan diserahkan. Zakiya lulus dengan predikat mumtaz (cum laude). Kontan Zakiya menangis. Terisak. Tak menyangka bisa mendapat predikat itu.

Tak hanya Zakiya. Seluruh santri putri juga menangis. Menyalami dan memeluk Zakiya. Mereka merasa bangga punya teman yang bisa lulus di awal semester pelajaran. Bahkan, di antaranya ada yang menangis cukup keras.

Menurut  Ustad Syamsul Huda, ini adalah sejarah. Di malam tanggal 4 September. Bertepatan dengan 4 Muharram. Bisa berhasil meluluskan hafalan santri. Meski satu juz. Dan, hanya satu orang. ’’Ini sejarah bagi kami,’’ katanya.

Maklum, mereka adalah santri angkatan pertama. Baru masuk pelajaran pada 12 Juli 2019. Baru sekitar dua bulan. Dari berbagai sekolah dasar di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, dan Lamongan.

Pondok ini sendiri resmi dibuka tahun angkatan 2019/2020. Merupakan pengembangan dari Pesantren Putra MBS Al Amin, di Jalan Basuki Rahmat, Bojonegoro. Santri putranya lebih dari 200. Mulai dari SMP hingga SMA. Santrinya berasal dari berbagai daerah di Jatim, Kalimantan, bahkan ada dari Malaysia.

Sedangkan pesantren putrinya langsung menerima 26 santri. Di awal pendiriannya. ’’Pesantren putri kami dirikan atas dorongan dan permintaan para orang tua santri. Alhamdulillah, angkatan pertama bisa satu kelas lebih,’’ katanya.

Baca Juga :  Keluarga Meyakini Wardoyo Mati Dibunuh

Meski bukan pesantren tahfidz, namun setiap santri ditarget bisa hafal Alquran. Mereka mula-mula di-tahsin (diperbaiki) bacaannya. Sebelum menghafal, wajib menghatamkan Alquran dulu. Minimal sekali. Dengan tahsin-nya.

Setelah itu, barulah diwajibkan menghafal. Diawali dari juz 30 dan 29. Lantas mulai juz 1. ’’Setiap habis subuh, setiap santri wajib setor hafalan (murajaah) di hadapan para ustadah,’’ kata Ustad Huda.

Setiap bulan, akan ada ujian juziyah. Tak harus menunggu akhir semester. Ujiannya dilakukan terbuka dengan semua santri. Tak sekadar santri dan ustadahnya saja. ’’Mungkin, kelak juga akan kita lakukan ujian terbuka (uter) dengan semua walisantri,’’ tandasnya.

Baginya, malam itu menjadi tolok ukur bahwa para santrinya bisa melebihi target yang ditetapkan lembaga. Kalau baru dua bulan bisa lulus satu juz, nanti di akhir semester genap santrinya bisa melebihi hafalannya.

Dituturkan, pesantren putri ini hanya menargetkan hafalan lima juz setiap tahun. Harapannya, ketika mereka lulus SMP bisa hafal 15 juz. ’’Kelak, kalau tingkat SMA juga berdiri, setiap santri bisa tuntas hafal 30 juz,’’ katanya.

Malam itu, kata Ustad Huda, dia juga merasa terharu. Bisa meluluskan hafalan santrinya. ’’Kalau menyaksikan ini (santri hafal Alquran), rasanya biaya berapapun tidak ada artinya,’’ ungkapnya.

BAHAGIA itu adalah ketika dinyatakan lulus tahfidz. Meski sejuz saja. Seperti suasana di Pesantren Putri MBS Al Amin, Mojoranu, Dander, Rabu malam (4/9).

Tangis 26 santri putri seketika meledak. Begitu mendengar salah satu rekannya lulus mumtaz (cum laude) ujian tahfidz. Mereka bertangisan dan berpelukan. Bahkan, ada yang menangis cukup keras.

Malam itu, di Pesantren Putri MBS Al Amin, Mojoranu, Dander, sedang diadakan ujian juziyah (ujian hafal perjuz). Semua santri duduk lesehan membentuk huruf U. Yang menguji adalah para santri sendiri. Juga ustadah. Dipimpin Direktur Pesantren Putri MBS Al Amin, H. Syamsul Huda.

Malam itu yang ujian adalah Zakiya Zahra Salsabila. Asal Sidoarjo. Dia duduk di depan. Di sebelah kiri direktur pesantren. Zakiya harus membaca satu juz itu. Mulai dari awal hingga akhir juz. Juz 30. Sementara santri lain menyimak dengan membuka Alquran.

Dengan lancar Zakiya menghafal sejuz itu. Didengarkan seluruh teman santrinya, para ustadah dan pimpinan pesantren. Lulus? Belum. Masih harus diuji lagi.

Enam santri diberi kesempatan menguji. Dengan cara membaca potongan ayat. Zakiya meneruskan. Enam ujian dari rekannya itu lolos. Kini, giliran ustadah. Memberikan pertanyaan sama. Tentu dengan acak. Baik ayat maupun suratnya.

Zakiya pun bisa menjawab dengan lancar. Apa sudah cukup? Belum. Terakhir giliran mudir atau direktur pesantren itu, Ustad Syamsul Huda. Dia bertanya tentang surat apa sebelum dan sesudah Al-Kafirun? Zakiya menjawab dengan cepat: Al-Kautsar dan An-Nashr.

Baca Juga :  Batas Pengerjaan Tinggal 13 Hari Lagi

Barulah dia dinyatakan lulus. Malam itu juga sertifikasi kelulusan diserahkan. Zakiya lulus dengan predikat mumtaz (cum laude). Kontan Zakiya menangis. Terisak. Tak menyangka bisa mendapat predikat itu.

Tak hanya Zakiya. Seluruh santri putri juga menangis. Menyalami dan memeluk Zakiya. Mereka merasa bangga punya teman yang bisa lulus di awal semester pelajaran. Bahkan, di antaranya ada yang menangis cukup keras.

Menurut  Ustad Syamsul Huda, ini adalah sejarah. Di malam tanggal 4 September. Bertepatan dengan 4 Muharram. Bisa berhasil meluluskan hafalan santri. Meski satu juz. Dan, hanya satu orang. ’’Ini sejarah bagi kami,’’ katanya.

Maklum, mereka adalah santri angkatan pertama. Baru masuk pelajaran pada 12 Juli 2019. Baru sekitar dua bulan. Dari berbagai sekolah dasar di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, dan Lamongan.

Pondok ini sendiri resmi dibuka tahun angkatan 2019/2020. Merupakan pengembangan dari Pesantren Putra MBS Al Amin, di Jalan Basuki Rahmat, Bojonegoro. Santri putranya lebih dari 200. Mulai dari SMP hingga SMA. Santrinya berasal dari berbagai daerah di Jatim, Kalimantan, bahkan ada dari Malaysia.

Sedangkan pesantren putrinya langsung menerima 26 santri. Di awal pendiriannya. ’’Pesantren putri kami dirikan atas dorongan dan permintaan para orang tua santri. Alhamdulillah, angkatan pertama bisa satu kelas lebih,’’ katanya.

Baca Juga :  Air PDAM Belum Layak Dikonsumsi¬†

Meski bukan pesantren tahfidz, namun setiap santri ditarget bisa hafal Alquran. Mereka mula-mula di-tahsin (diperbaiki) bacaannya. Sebelum menghafal, wajib menghatamkan Alquran dulu. Minimal sekali. Dengan tahsin-nya.

Setelah itu, barulah diwajibkan menghafal. Diawali dari juz 30 dan 29. Lantas mulai juz 1. ’’Setiap habis subuh, setiap santri wajib setor hafalan (murajaah) di hadapan para ustadah,’’ kata Ustad Huda.

Setiap bulan, akan ada ujian juziyah. Tak harus menunggu akhir semester. Ujiannya dilakukan terbuka dengan semua santri. Tak sekadar santri dan ustadahnya saja. ’’Mungkin, kelak juga akan kita lakukan ujian terbuka (uter) dengan semua walisantri,’’ tandasnya.

Baginya, malam itu menjadi tolok ukur bahwa para santrinya bisa melebihi target yang ditetapkan lembaga. Kalau baru dua bulan bisa lulus satu juz, nanti di akhir semester genap santrinya bisa melebihi hafalannya.

Dituturkan, pesantren putri ini hanya menargetkan hafalan lima juz setiap tahun. Harapannya, ketika mereka lulus SMP bisa hafal 15 juz. ’’Kelak, kalau tingkat SMA juga berdiri, setiap santri bisa tuntas hafal 30 juz,’’ katanya.

Malam itu, kata Ustad Huda, dia juga merasa terharu. Bisa meluluskan hafalan santrinya. ’’Kalau menyaksikan ini (santri hafal Alquran), rasanya biaya berapapun tidak ada artinya,’’ ungkapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/