alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Hotel GDK Merugi, 4 Bulan Karyawan Tak Gajian

Radar Bojonegoro – ‘’Kami masih berjuang dalam kondisi seperti ini,’’ ungkap Direktur Utama Griya Dharma Kusuma (GDK) Nila Puri Wijaya ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin petang (5/8). Wajah pria asli Surabaya itu tampak lelah karena seharian bekerja.

Menurut pria berkacamata itu, kondisi PT GDK saat ini sedang tidak bagus. Sama sekali tidak ada pemasukan. Sebelum pandemi Covid-19, tingkat hunian sudah sepi. Saat pandemi tingkat hunian atau okupansi sama sekali tidak ada. Kondisi itu membuat BUMD bergerak sektor perhotelan itu mengalami kesulitan. Khususnya dalam bidang keuangan.

Sebab, biaya operasional GDK juga tidak sedikit. Puluhan juta per bulan. Mulai air, listrik, hingga gaji karyawan. ‘’Kami sudah empat bulan tidak gajian,’’ tuturnya. Saat ini, karyawan GDK hanya tersisa 13 orang. Namun, dari jumlah itu yang bekerja hanya 9 orang. Sedangkan, empat sisanya terpaksa dirumahkan.

Meski demikian, mereka tidak diberikan pemutusan hubungan kerja (PHK). ‘’Mereka akan kembali bekerja setelah kondisi normal,’’ ujar Puri. Awalnya, Hotel GDK memiliki banyak karyawan. Sekitar 30 lebih. Namun, sejak pandemi berlangsung banyak yang mengundurkan diri. Yang tersisa saat ini pun juga belum menerima gaji sama sekali.

Baca Juga :  Tiga Jam Desain Vektor Wajah

‘’Kami masih bertahan dan terus mencari terobosan,’’ ujarnya dengan lirih. Puri mengakui, kontribusi GDK ke pemkab memang tidak ada. Selama tiga tahun terakhir GDK memang tidak bisa setor pendapatan asli daerah (PAD). Kondisi perusahaan sedang tidak sehat. Setiap tahun keuangan selalu minus.

‘’Kami memang belum bisa setor PAD,’’ tuturnya. Meski demikian, lanjut Puri, pihaknya masih berupaya untuk menyelamatkan Hotel GDK. Salah satunya dengan merencanakan sejumlah langkah bisnis. Salah satunya dengan perusahaan migas yang ada di Bojonegoro.

‘’Saat ini masih dalam tahap negosiasi. Mudah mudahan berhasil,’’ tuturnya. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro Ibnu Soeyuthi mengatakan, tiga tahun terakhir GDK sama sekali tidak setor PAD. Sebab, tidak ada laba yang bisa disetorkan.

‘’Sama sekali tidak ada setoran. Tahun ini sepertinya juga tidak ada,’’ jelasnya. Laporan yang diterima bapenda, menurut Ibnu, kondisi keuangan PT GDK tidak bagus. Selalu merugi setiap tahun. Sehingga, sempat muncul opsi untuk mempailitkan BUMD yang membidangi perhotelan itu.

Baca Juga :  Sering Dapat Tugas Mematikan Key Player Lawan

‘’Sempat muncul wacana seperti itu. Tapi, itu memang butuh proses cukup lama,’’ jelasnya. PT GDK memiliki target PAD sebesar Rp 50 juta. Jumlah itu tidak dinaikkan dalam tiga tahun terakhir. Sebab, sejauh ini GDK sama sekali belum berhasil mencapai target itu.

Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri mengatakan, buruknya kinerja PT GDK memang sangat disayangkan. Apalagi berlangsung selama tiga tahun lebih. ‘’Sudah dua sampai tiga tahun ini GDK sama sekali tidak mendapatkan untung,’’ jelasnya.

Menurut Lasuri, ada beberapa opsi bisa ditempuh untuk menyelamatkan GDK. Yakni, menambah unit usaha di bidang perkantoran. Sebagian ruangan bisa disewakan untuk kantor perusahaan. ‘’Ini bisa menarik perusahaan untuk menyewanya. Seperti perusahaan migas,’’ jelasnya. Namun, jika tidak bisa, menurut Lasuri, tentu GDK bisa dibubarkan sebagai BUMD. Kemudian, asetnya disewakan oleh pemkab ke pihak ketiga.

Radar Bojonegoro – ‘’Kami masih berjuang dalam kondisi seperti ini,’’ ungkap Direktur Utama Griya Dharma Kusuma (GDK) Nila Puri Wijaya ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin petang (5/8). Wajah pria asli Surabaya itu tampak lelah karena seharian bekerja.

Menurut pria berkacamata itu, kondisi PT GDK saat ini sedang tidak bagus. Sama sekali tidak ada pemasukan. Sebelum pandemi Covid-19, tingkat hunian sudah sepi. Saat pandemi tingkat hunian atau okupansi sama sekali tidak ada. Kondisi itu membuat BUMD bergerak sektor perhotelan itu mengalami kesulitan. Khususnya dalam bidang keuangan.

Sebab, biaya operasional GDK juga tidak sedikit. Puluhan juta per bulan. Mulai air, listrik, hingga gaji karyawan. ‘’Kami sudah empat bulan tidak gajian,’’ tuturnya. Saat ini, karyawan GDK hanya tersisa 13 orang. Namun, dari jumlah itu yang bekerja hanya 9 orang. Sedangkan, empat sisanya terpaksa dirumahkan.

Meski demikian, mereka tidak diberikan pemutusan hubungan kerja (PHK). ‘’Mereka akan kembali bekerja setelah kondisi normal,’’ ujar Puri. Awalnya, Hotel GDK memiliki banyak karyawan. Sekitar 30 lebih. Namun, sejak pandemi berlangsung banyak yang mengundurkan diri. Yang tersisa saat ini pun juga belum menerima gaji sama sekali.

Baca Juga :  Junior Band, Ciptakan Lagu Mars untuk Diputar di Sekolah Muhammadiyah

‘’Kami masih bertahan dan terus mencari terobosan,’’ ujarnya dengan lirih. Puri mengakui, kontribusi GDK ke pemkab memang tidak ada. Selama tiga tahun terakhir GDK memang tidak bisa setor pendapatan asli daerah (PAD). Kondisi perusahaan sedang tidak sehat. Setiap tahun keuangan selalu minus.

‘’Kami memang belum bisa setor PAD,’’ tuturnya. Meski demikian, lanjut Puri, pihaknya masih berupaya untuk menyelamatkan Hotel GDK. Salah satunya dengan merencanakan sejumlah langkah bisnis. Salah satunya dengan perusahaan migas yang ada di Bojonegoro.

‘’Saat ini masih dalam tahap negosiasi. Mudah mudahan berhasil,’’ tuturnya. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro Ibnu Soeyuthi mengatakan, tiga tahun terakhir GDK sama sekali tidak setor PAD. Sebab, tidak ada laba yang bisa disetorkan.

‘’Sama sekali tidak ada setoran. Tahun ini sepertinya juga tidak ada,’’ jelasnya. Laporan yang diterima bapenda, menurut Ibnu, kondisi keuangan PT GDK tidak bagus. Selalu merugi setiap tahun. Sehingga, sempat muncul opsi untuk mempailitkan BUMD yang membidangi perhotelan itu.

Baca Juga :  Masih Menyusui, Marfuah Dijebloskan Tahanan

‘’Sempat muncul wacana seperti itu. Tapi, itu memang butuh proses cukup lama,’’ jelasnya. PT GDK memiliki target PAD sebesar Rp 50 juta. Jumlah itu tidak dinaikkan dalam tiga tahun terakhir. Sebab, sejauh ini GDK sama sekali belum berhasil mencapai target itu.

Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri mengatakan, buruknya kinerja PT GDK memang sangat disayangkan. Apalagi berlangsung selama tiga tahun lebih. ‘’Sudah dua sampai tiga tahun ini GDK sama sekali tidak mendapatkan untung,’’ jelasnya.

Menurut Lasuri, ada beberapa opsi bisa ditempuh untuk menyelamatkan GDK. Yakni, menambah unit usaha di bidang perkantoran. Sebagian ruangan bisa disewakan untuk kantor perusahaan. ‘’Ini bisa menarik perusahaan untuk menyewanya. Seperti perusahaan migas,’’ jelasnya. Namun, jika tidak bisa, menurut Lasuri, tentu GDK bisa dibubarkan sebagai BUMD. Kemudian, asetnya disewakan oleh pemkab ke pihak ketiga.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/