alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Lagi, Satu Jamaah Alami Dimensia Berat

TUBAN, Radar Tuban – Satu jamaah haji asal Tuban dikabarkan mengalami dimensia saat berada di Makkah. Laporan terkait kondisi kesehatan jamaah tersebut diterima Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tuban kemarin (5/8).

Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Tuban Umi Kulsum membenarkan kondisi satu jamaah yang mengalami dimensia atau pikun tersebut. Kondisinya cukup memprihatinkan. Sebab, dimensia yang dialami masuk kategori berat. ‘’Yang bersangkutan sampai mengamuk. Petugas yang mencoba menenangkan pun kuwalahan,’’ terang Umi sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Saat ini, lanjut Umi, jamaah yang masuk dalam kelompok terbang (kloter) 76 itu dibawa ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) untuk mendapat perawatan intensif. Hanya, sampai tadi malam belum ada kabar lebih lanjut terkait kondisi yang bersangkutan. Apakah tetap bertahan di Tanah Suci atau dipulang. Sebab, kondisi dimensia berat cukup membahayakan bagi jamaah itu sendiri.

Baca Juga :  Pendaftaran Panwascam Dibuka Hari Ini, Berikut Persyaratannya...

‘’Yang paling dikhawatirkan adalah melakukan hal-hal yang membahayakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain,’’ terang pejabat Kemenag yang juga ketua umum PC Fatayat NU Tuban itu.

Umi berharap yang bersangkutan kembali normal dan bisa melaksanakan rukun Islam kelima  hingga tuntas. ‘’Kita doakan, semoga segera kembali sehat dan bisa menjalankan ibadah haji,’’ ujar mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu.

Sebelumnya, dua CJH asal Tuban juga gagal terbang ke Tanah Suci akibat mengalami dimensia berat ketika berada di Asrama Haji Sukolilo Surabaya (AHES). Setelah menjalani pemeriksaan oleh tim dokter Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), keduanya dinyatakan tidak layak terbang. Selama berada di AHES, keduanya kerap teriak ingin pulang. Upaya memanggil pihak kelurga untuk menenangkan yang bersangkutan pun tidak berhasil. Karena kondisi dimensia berat itulah, akhirnya pihak keluarga setuju untuk menunda pemberangkatan kedua jamaah dari Kecamatan Soko dan Merakurak tersebut.

 

Banyak Jamaah Kelelahan

Baca Juga :  Genjot Calon Jemaah Haji Blora Vaksin Meningitis

Tahun ini, jamaah haji asal Bumi Wali dengan risiko tinggi (risti) jumlahnya cukup besar. Kurang lebih sekitar 69 persen dari total 882 jamah yang berada di Tanah Suci. Kondisi tersebut menuntut petugas pendamping haji harus ekstra waspada dalam menjaga kesehatan jamaah.

‘’Banyak yang lelah setelah umrah wajib. Sudah kami sampaikan kepada para petugas pendamping haji agar para istirahat dengan maksimal,’’ kata Umi.

Terlebih, lanjut dia, puncak ibadah haji tinggal hitungan hari. Persisnya pada Sabtu (10/8) mendatang. Seluruh jamaah harus melakukan ibadah wukuf di Arafah. ‘’Waktu kita (tiba di Makkah dengan puncah haji, Red) memang cukup singkat. Untuk itu, para jamaah sudah kami imbau untuk tidak terlalu banyak melakukan ibadah-ibadah sunah yang bisa mengforsir tenaga. Lebih baik istirihat,’’ katanya.

Terlebih, bagi jamaah risti yang menggunakan kursi roda. Sedikitnya, 21 jamaah yang harus menjalankan ibadah dengan menggunakan kursi roda. Yakni, 8 jamaah di kloter 77 dan 13 jamaah di kloter 76.

TUBAN, Radar Tuban – Satu jamaah haji asal Tuban dikabarkan mengalami dimensia saat berada di Makkah. Laporan terkait kondisi kesehatan jamaah tersebut diterima Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tuban kemarin (5/8).

Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Tuban Umi Kulsum membenarkan kondisi satu jamaah yang mengalami dimensia atau pikun tersebut. Kondisinya cukup memprihatinkan. Sebab, dimensia yang dialami masuk kategori berat. ‘’Yang bersangkutan sampai mengamuk. Petugas yang mencoba menenangkan pun kuwalahan,’’ terang Umi sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Saat ini, lanjut Umi, jamaah yang masuk dalam kelompok terbang (kloter) 76 itu dibawa ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) untuk mendapat perawatan intensif. Hanya, sampai tadi malam belum ada kabar lebih lanjut terkait kondisi yang bersangkutan. Apakah tetap bertahan di Tanah Suci atau dipulang. Sebab, kondisi dimensia berat cukup membahayakan bagi jamaah itu sendiri.

Baca Juga :  Pendaftaran Panwascam Dibuka Hari Ini, Berikut Persyaratannya...

‘’Yang paling dikhawatirkan adalah melakukan hal-hal yang membahayakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain,’’ terang pejabat Kemenag yang juga ketua umum PC Fatayat NU Tuban itu.

Umi berharap yang bersangkutan kembali normal dan bisa melaksanakan rukun Islam kelima  hingga tuntas. ‘’Kita doakan, semoga segera kembali sehat dan bisa menjalankan ibadah haji,’’ ujar mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu.

Sebelumnya, dua CJH asal Tuban juga gagal terbang ke Tanah Suci akibat mengalami dimensia berat ketika berada di Asrama Haji Sukolilo Surabaya (AHES). Setelah menjalani pemeriksaan oleh tim dokter Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), keduanya dinyatakan tidak layak terbang. Selama berada di AHES, keduanya kerap teriak ingin pulang. Upaya memanggil pihak kelurga untuk menenangkan yang bersangkutan pun tidak berhasil. Karena kondisi dimensia berat itulah, akhirnya pihak keluarga setuju untuk menunda pemberangkatan kedua jamaah dari Kecamatan Soko dan Merakurak tersebut.

 

Banyak Jamaah Kelelahan

Baca Juga :  Ingatkan Calon Jemaah Haji Bojonegoro Fokus Ibadah Wajib

Tahun ini, jamaah haji asal Bumi Wali dengan risiko tinggi (risti) jumlahnya cukup besar. Kurang lebih sekitar 69 persen dari total 882 jamah yang berada di Tanah Suci. Kondisi tersebut menuntut petugas pendamping haji harus ekstra waspada dalam menjaga kesehatan jamaah.

‘’Banyak yang lelah setelah umrah wajib. Sudah kami sampaikan kepada para petugas pendamping haji agar para istirahat dengan maksimal,’’ kata Umi.

Terlebih, lanjut dia, puncak ibadah haji tinggal hitungan hari. Persisnya pada Sabtu (10/8) mendatang. Seluruh jamaah harus melakukan ibadah wukuf di Arafah. ‘’Waktu kita (tiba di Makkah dengan puncah haji, Red) memang cukup singkat. Untuk itu, para jamaah sudah kami imbau untuk tidak terlalu banyak melakukan ibadah-ibadah sunah yang bisa mengforsir tenaga. Lebih baik istirihat,’’ katanya.

Terlebih, bagi jamaah risti yang menggunakan kursi roda. Sedikitnya, 21 jamaah yang harus menjalankan ibadah dengan menggunakan kursi roda. Yakni, 8 jamaah di kloter 77 dan 13 jamaah di kloter 76.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/