alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Melihat Pembuatan Teh Bugenvil dan Teh Kemangi di Desa Mojodeso

FEATURES – Inovasi dari warga-warga Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, memang selalu terdepan. Kini mereka sedang fokus mengembangkan aneka produk kuliner, seperti teh bugenvil dan teh kemangi. 

Mandung tebal mengiringi perjalanan ke sebuah desa yang berada tak jauh dari kantor Jawa Pos Radar Bojonegoro. Tepatnya, di Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, perjalanan sekitar 15 menit apabila dari kota.

Kesan pertama masuk ke Desa Mojodeso cukup mengagetkan, kerena suasana desanya seperti tak bergitu kentara, justru terlihat seperti perumahan di perkotaan. Banyak pohon yang rindang dan beberapa sudut rumah memiliki bank sampah yang dikelola secara swadaya.

Tak jauh dari Kantor Desa Mojodeso, ada banner terpasang bertuliskan inovasi pembuatan teh bugenvil dan teh kemangi. Sesampainya di salah satu rumah tempat pembuatan teh yang unik tersebut, pun sudah ada teman-teman mahasiswa dari Unigoro yang hendak belajar pembuatan gethuk oven. Begitulan Mojodeso, penuh dengan terobosan segar. 

Ketika dipersilakan duduk dan mengobrol, rumah tersebut ternyata kediaman ketua RT 11 Desa Mojodeso. Di sana sudah ada seorang pendamping inovasi RT 11, yakni Adib Nurdiyanto. Pria itulah yang menginisiasi pelbagai inovasi di RT tersebut.

Ide berawal muncul karena ketertarikannya melihat bunga bugenvil yang banyak di pinggir-pinggir jalan. Dia pun iseng mencari jurnal kesehatan di salah satu kampus yang di Bojonegoro tempat ia mengajar. “Jadi saya cari-cari jurnal kesehatan tersebut,” tuturnya.

Baca Juga :  Curiga Diduakan, Wanita Ini Laporkan Suami Sirinya

Akhirnya, dia pun menemukan jurnal tersebut, teh bugenvil pernah dikembangkan di Meksiko. Di dalam jurnal tersebut ternyata bunga bugenvil memiliki berbagai khasiat seperti mengobati batuk, mengatasi masalah pencernaan, dan sebagainya.

Awal membuat teh bugenvil tersebut, Adib, sapaan akrabnya, kesulitan mencari solusi agar teh yang dibuatnya tidak pahit. “Awal buat, teh tersebut rasanya pahit sekali, diberi gula pun tidak mempan, hampir saya putus asa kala itu,” katanya. 

Dia pun menanyakan kawan-kawannya yang paham terhadap ilmu kimia guna menyamarkan rasa pahit tersebut. Adib pun mencoba mencampurkan teh tersebut dengan aneka buah, tetap saja gagal.

Dia pun terlintas sebuah teori sederhana bahwa bawang putih saja kalau dimakan langsung pasti tidak enak, tapi kalau sudah bertemu cabai dan garam bisa menjadi sambal yang enak. Begitu pun pada teh bugenvil, dia tak harus mencari buah yang manis untuk menghilangkan rasa pahitnya.

Justru harus mencari buah yang sepat agak asam. “Akhirnya saya coba buah jambe atau pinang sebagai campuran teh bugenvil itu dan hasilnya rasa pahit hilang,” ujarnya. 

Adib pun menunjukkan bagaimana pembuatan teh bugenvil tersebut. Adapun teh jenis lain yang dikembangkan, yakni teh kemangi. “Kedua teh tersebut sama, bunga bugenvil dan bunga kemangi dikeringkan dulu, bunganya saja bukan daunnya atau putiknya,” jelasnya. Setelah kering, tinggal direndam air panas lalu diseduh.

Baca Juga :  Petani Masih Dianggap Pekerjaan Remeh

Sementara itu, Adib juga sedikit bercerita tentang temuan teh bunga kemangi. Awalnya, teh tersebut ia kembangkan karena tidak sengaja. Sebab, di rumahnya ada banyak kemangi, kerap kali bunganya ia buang karena terkadang kering.

Tapi sekali waktu ia coba bunga kemangi itu dikumpulkan di sebuah bak untuk dijadikan campuran pupuk organik. “Saya masukkan bak dan rendam dengan air, ndillalah saya lupa pernah merendam bunga kemangi tersebut selama satu hari penuh karena kesibukan saya sendiri,” ujarnya. 

Ketahuannya lupa karena baunya yang cukup menyengat di rumahnya, ketika dia cek, rendaman air tersebut berwarna kecokelat-cokelatan seperti teh. “Dari situlah, saya coba buat teh,” ujarnya. 

Banyak khasiat daun kemangi seperti mengatasi ejakuliasi dini, memperlancar ASI, dan menyehatkan jantung dan pembuluh darah. “Akhirnya pak RT pun menanam kemangi di pekarangannya, sedangkan bugenvil bisa ambil di pinggir-pinggir jalan,” katanya. 

Lalu, pengembangan teh tersebut mendapat respons baik dari masyarakat. Teh dikemas ke dalam botol berukuran 330 mililiter dan dijual seharga Rp 5 ribu. Hasil keuntungannya bukan untuk pribadi, melainkan masuk ke dalam kas RT guna memperbaiki jalan atau pos kamling.

Intinya, kata dia, pengembangan inovasi untuk masyarakat, dari masyarakat, dan oleh masyarakat. “Jadi, bisa dibuat belajar bersama dan warga lain juga merasakan manfaatnya,” jelasnya. Adib pun masih punya banyak ide inovatif khususnya di bidang kuliner.

FEATURES – Inovasi dari warga-warga Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, memang selalu terdepan. Kini mereka sedang fokus mengembangkan aneka produk kuliner, seperti teh bugenvil dan teh kemangi. 

Mandung tebal mengiringi perjalanan ke sebuah desa yang berada tak jauh dari kantor Jawa Pos Radar Bojonegoro. Tepatnya, di Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, perjalanan sekitar 15 menit apabila dari kota.

Kesan pertama masuk ke Desa Mojodeso cukup mengagetkan, kerena suasana desanya seperti tak bergitu kentara, justru terlihat seperti perumahan di perkotaan. Banyak pohon yang rindang dan beberapa sudut rumah memiliki bank sampah yang dikelola secara swadaya.

Tak jauh dari Kantor Desa Mojodeso, ada banner terpasang bertuliskan inovasi pembuatan teh bugenvil dan teh kemangi. Sesampainya di salah satu rumah tempat pembuatan teh yang unik tersebut, pun sudah ada teman-teman mahasiswa dari Unigoro yang hendak belajar pembuatan gethuk oven. Begitulan Mojodeso, penuh dengan terobosan segar. 

Ketika dipersilakan duduk dan mengobrol, rumah tersebut ternyata kediaman ketua RT 11 Desa Mojodeso. Di sana sudah ada seorang pendamping inovasi RT 11, yakni Adib Nurdiyanto. Pria itulah yang menginisiasi pelbagai inovasi di RT tersebut.

Ide berawal muncul karena ketertarikannya melihat bunga bugenvil yang banyak di pinggir-pinggir jalan. Dia pun iseng mencari jurnal kesehatan di salah satu kampus yang di Bojonegoro tempat ia mengajar. “Jadi saya cari-cari jurnal kesehatan tersebut,” tuturnya.

Baca Juga :  Pagu Siswa Kurang Mampu Sebanyak 15 Persen di Setiap SMPN

Akhirnya, dia pun menemukan jurnal tersebut, teh bugenvil pernah dikembangkan di Meksiko. Di dalam jurnal tersebut ternyata bunga bugenvil memiliki berbagai khasiat seperti mengobati batuk, mengatasi masalah pencernaan, dan sebagainya.

Awal membuat teh bugenvil tersebut, Adib, sapaan akrabnya, kesulitan mencari solusi agar teh yang dibuatnya tidak pahit. “Awal buat, teh tersebut rasanya pahit sekali, diberi gula pun tidak mempan, hampir saya putus asa kala itu,” katanya. 

Dia pun menanyakan kawan-kawannya yang paham terhadap ilmu kimia guna menyamarkan rasa pahit tersebut. Adib pun mencoba mencampurkan teh tersebut dengan aneka buah, tetap saja gagal.

Dia pun terlintas sebuah teori sederhana bahwa bawang putih saja kalau dimakan langsung pasti tidak enak, tapi kalau sudah bertemu cabai dan garam bisa menjadi sambal yang enak. Begitu pun pada teh bugenvil, dia tak harus mencari buah yang manis untuk menghilangkan rasa pahitnya.

Justru harus mencari buah yang sepat agak asam. “Akhirnya saya coba buah jambe atau pinang sebagai campuran teh bugenvil itu dan hasilnya rasa pahit hilang,” ujarnya. 

Adib pun menunjukkan bagaimana pembuatan teh bugenvil tersebut. Adapun teh jenis lain yang dikembangkan, yakni teh kemangi. “Kedua teh tersebut sama, bunga bugenvil dan bunga kemangi dikeringkan dulu, bunganya saja bukan daunnya atau putiknya,” jelasnya. Setelah kering, tinggal direndam air panas lalu diseduh.

Baca Juga :  Satu Tahun Peralihan Persibo, Manajemen Belum Terbentuk

Sementara itu, Adib juga sedikit bercerita tentang temuan teh bunga kemangi. Awalnya, teh tersebut ia kembangkan karena tidak sengaja. Sebab, di rumahnya ada banyak kemangi, kerap kali bunganya ia buang karena terkadang kering.

Tapi sekali waktu ia coba bunga kemangi itu dikumpulkan di sebuah bak untuk dijadikan campuran pupuk organik. “Saya masukkan bak dan rendam dengan air, ndillalah saya lupa pernah merendam bunga kemangi tersebut selama satu hari penuh karena kesibukan saya sendiri,” ujarnya. 

Ketahuannya lupa karena baunya yang cukup menyengat di rumahnya, ketika dia cek, rendaman air tersebut berwarna kecokelat-cokelatan seperti teh. “Dari situlah, saya coba buat teh,” ujarnya. 

Banyak khasiat daun kemangi seperti mengatasi ejakuliasi dini, memperlancar ASI, dan menyehatkan jantung dan pembuluh darah. “Akhirnya pak RT pun menanam kemangi di pekarangannya, sedangkan bugenvil bisa ambil di pinggir-pinggir jalan,” katanya. 

Lalu, pengembangan teh tersebut mendapat respons baik dari masyarakat. Teh dikemas ke dalam botol berukuran 330 mililiter dan dijual seharga Rp 5 ribu. Hasil keuntungannya bukan untuk pribadi, melainkan masuk ke dalam kas RT guna memperbaiki jalan atau pos kamling.

Intinya, kata dia, pengembangan inovasi untuk masyarakat, dari masyarakat, dan oleh masyarakat. “Jadi, bisa dibuat belajar bersama dan warga lain juga merasakan manfaatnya,” jelasnya. Adib pun masih punya banyak ide inovatif khususnya di bidang kuliner.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/