alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Sepuluh Hari, Tiga Orang Tewas Gantung Diri

Radar Bojonegoro – Tiga nyawa melayang akibat gantung diri dalam kurun waktu sepuluh hari. Fenomena sosial ini harus segera ada pencegahan mengingat angka kematian dengan tempo yang singkat. Ketiga kasus gantung diri terjadi di tempat kejadian perkara (TKP) berbeda.

Kalangan psikolog berharap adanya pendidikan mental secara masif terhadap masyarakat. Dan keluarga harus membuka dan komunikatif kepada anggota di rumah ketika ada problem. Sebab, tiga kematian bunuh diri ini juga ada lelaki dan perempuan.

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, seorang pria berinisial YT, 70, asal Desa Karangsono, Kecamatan Dander ditemukan gantung diri di pohon kayu putih kawasan Desa Sumberagung, Kecamatan Dander Selasa (23/2).

Kemudian perempuan berinisial RM, 44, warga Desa Sumberejo, Kecamatan Margomulyo gantung diri di rumah Jumat (26/2) lalu. Juga seorang pria berinisial NS, 66, warga Desa Deling, Kecamatan Sekar, ditemukan gantung diri di teras rumah Kamis (4/3) lalu.

Baca Juga :  PAD Tower Turun 50 Persen

Psikolog RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo Yuanita Rosalina Dewi mengatakan, bahwa kesehatan mental bukan hal sepele. Karena pemicu seseorang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri merupakan akumulasi masalah sedang diderita. Tidak bisa disimpulkan hanya disebabkan penyebab tunggal. Peran keluarga atau orang terdekat sangatlah penting sebagai support system.

“Sikap atau respons orang terdekat ketika tahu ada teman atau saudara menderita stres atau depresi ialah tidak meremehkan atau mencemooh masalah sedang dihadapi orang tersebut,” jelasnya.

Contoh sikap tepat yakni bersedia mendengarkan permasalahan orang tersebut untuk bisa meringankan. Lebih baik lagi bisa memberikan solusi. Misalnya, orang sudah sakit menahun dan tidak ada biaya dibantu mencarikan bantuan dana bersumber dari pemerintah.

Baca Juga :  Pasokan Ditambah 39.760 Tabung

“Kalau memungkinkan juga bisa membantu orang tersebut untuk mendapatkan penanganan profesional,” tutur Yuanita. Karena ada beberapa pemicu orang nekat bunuh diri. Misalnya, secara genetik orang tersebut menderita penyakit tak kunjung sembuh. Bisa juga masalah ekonomi, masalah sosial atau hubungan dengan orang lain. Ditambah lagi lingkungan sekitar tidak peduli dan justru menyepelekan keadaan atau keluhan yang pernah disampaikan, bahkan memojokkan.

“Pemicu orang bunuh diri beragam. Mungkin ada masalah kesehatan dan masalah lain yang kita tidak tahu. Akhirnya ketika ada kesempatan, orang tersebut melakukannya,” jelasnya. Bahkan, ada kemungkinan orang telah mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri itu sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Jadi, kekuatan mental setiap orang berbedabeda ketika menghadapi masalah hidup.

Radar Bojonegoro – Tiga nyawa melayang akibat gantung diri dalam kurun waktu sepuluh hari. Fenomena sosial ini harus segera ada pencegahan mengingat angka kematian dengan tempo yang singkat. Ketiga kasus gantung diri terjadi di tempat kejadian perkara (TKP) berbeda.

Kalangan psikolog berharap adanya pendidikan mental secara masif terhadap masyarakat. Dan keluarga harus membuka dan komunikatif kepada anggota di rumah ketika ada problem. Sebab, tiga kematian bunuh diri ini juga ada lelaki dan perempuan.

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, seorang pria berinisial YT, 70, asal Desa Karangsono, Kecamatan Dander ditemukan gantung diri di pohon kayu putih kawasan Desa Sumberagung, Kecamatan Dander Selasa (23/2).

Kemudian perempuan berinisial RM, 44, warga Desa Sumberejo, Kecamatan Margomulyo gantung diri di rumah Jumat (26/2) lalu. Juga seorang pria berinisial NS, 66, warga Desa Deling, Kecamatan Sekar, ditemukan gantung diri di teras rumah Kamis (4/3) lalu.

Baca Juga :  Sertifikat Laik Fungsi Masih Belum Bisa Diakses

Psikolog RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo Yuanita Rosalina Dewi mengatakan, bahwa kesehatan mental bukan hal sepele. Karena pemicu seseorang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri merupakan akumulasi masalah sedang diderita. Tidak bisa disimpulkan hanya disebabkan penyebab tunggal. Peran keluarga atau orang terdekat sangatlah penting sebagai support system.

“Sikap atau respons orang terdekat ketika tahu ada teman atau saudara menderita stres atau depresi ialah tidak meremehkan atau mencemooh masalah sedang dihadapi orang tersebut,” jelasnya.

Contoh sikap tepat yakni bersedia mendengarkan permasalahan orang tersebut untuk bisa meringankan. Lebih baik lagi bisa memberikan solusi. Misalnya, orang sudah sakit menahun dan tidak ada biaya dibantu mencarikan bantuan dana bersumber dari pemerintah.

Baca Juga :  Disdik Rencana Ubah Persyaratan Beasiswa Mahasiswa Bojonegoro

“Kalau memungkinkan juga bisa membantu orang tersebut untuk mendapatkan penanganan profesional,” tutur Yuanita. Karena ada beberapa pemicu orang nekat bunuh diri. Misalnya, secara genetik orang tersebut menderita penyakit tak kunjung sembuh. Bisa juga masalah ekonomi, masalah sosial atau hubungan dengan orang lain. Ditambah lagi lingkungan sekitar tidak peduli dan justru menyepelekan keadaan atau keluhan yang pernah disampaikan, bahkan memojokkan.

“Pemicu orang bunuh diri beragam. Mungkin ada masalah kesehatan dan masalah lain yang kita tidak tahu. Akhirnya ketika ada kesempatan, orang tersebut melakukannya,” jelasnya. Bahkan, ada kemungkinan orang telah mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri itu sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Jadi, kekuatan mental setiap orang berbedabeda ketika menghadapi masalah hidup.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/