alexametrics
23.4 C
Bojonegoro
Wednesday, August 17, 2022

Insentif Nakes Disesuaikan Aturan Pusat, Maksimal Rp 10 Juta Per Bulan

- Advertisement -

Radar Lamongan – Insentif bagi tenaga kesehatan yang terlibat penanganan pasien Covid-19 tidak berubah. Tambahan tunjangan yang bersumber dari biaya operasional kesehatan (BOK) tambahan itu tidak ada kenaikan maupun penurunan. “Info yang kita terima insentif tetap tidak ada perubahan, tidak ada penurunan,” klaim Kepala Dinas Kesehatan Lamongan Taufik Hidayat kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Menurut dia, insentif dicairkan di masing -masing instansi yang menangani. Dia mencontohkan RSUD. Pencairannya melalui bendahara. Termasuk puskesmas dan tenaga laboratorium. Taufi k menjelaskan, insentif diberikan menyesuaikan kinerja. Dia mencontohkan lagi, satu bulan ada 22 hari kerja. Apabila perawat atau dokter A menangani pasien setiap hari, maka mereka berhak mendapat kan besaran insentif maksimal.

Baca Juga :  Tak Percayai Kirim SS via Ketapel

Jika hanya menangani selama sepuluh hari kerja, maka besaran insentif disesuaikan. “Kalau yang menghitung bendahara, sehingga penyaluran kita serahkan masing-masing instansi berwenang,” tutur pria yang juga koordinator Bidang Preventif dan Promotif Satgas Covid-19 Lamongan itu.

Selain kinerja, menurut Taufik, insentif diberikan kepada mereka yang bertugas menangani Covid-19. Jika dalam satu bulan hanya dua dokter dan lima perawat yang terlibat penanganan, maka otomatis yang mendapatkan insentif hanya mereka. Alasannya, tunjangan ini diberikan sebagai ganti lelah karena harus bertugas ganda menangani pasien Covid-19.

Taufik menambahkan, nakes yang berhak mendapatkan insentif antara lain tenaga pemeriksa, skrining, dan nakes yang melakukan penelusuran kasus. Juga, nakes yang mengevaluasi pasien dan nakes yang terlibat pemeriksaan laboratorium. Besaran yang ditetapkan sesuai dengan kemampuan daerah.

Baca Juga :  Banjir, 5.944 Ha Tambak Terendam
- Advertisement -

Taufik mengklaim untuk Lamongan, nakes yang bertugas di RSUD maksimal insentifnya Rp 10 juta per bulan. Kemudian yang bertugas di puskesmas, baik dokter, perawat, dan bidan, maksimal mendapatkan Rp 5 juta per bulan.

“Kebijakan besaran insentif disesuaikan oleh daerah, meski dari Kementrian Kesehatan memberikan acuan. Kita sesuaikan dengan kemampuan dan kinerja,” tuturnya. Tahun lalu, Taufik menambahkan insentif diberikan setiap triwulan. Sekarang dipertimbangkan untuk disalurkan setiap bulan, menyesuaikan kondisi di lapangan

Radar Lamongan – Insentif bagi tenaga kesehatan yang terlibat penanganan pasien Covid-19 tidak berubah. Tambahan tunjangan yang bersumber dari biaya operasional kesehatan (BOK) tambahan itu tidak ada kenaikan maupun penurunan. “Info yang kita terima insentif tetap tidak ada perubahan, tidak ada penurunan,” klaim Kepala Dinas Kesehatan Lamongan Taufik Hidayat kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Menurut dia, insentif dicairkan di masing -masing instansi yang menangani. Dia mencontohkan RSUD. Pencairannya melalui bendahara. Termasuk puskesmas dan tenaga laboratorium. Taufi k menjelaskan, insentif diberikan menyesuaikan kinerja. Dia mencontohkan lagi, satu bulan ada 22 hari kerja. Apabila perawat atau dokter A menangani pasien setiap hari, maka mereka berhak mendapat kan besaran insentif maksimal.

Baca Juga :  CSR BRI Kembangkan Wisata Tuban

Jika hanya menangani selama sepuluh hari kerja, maka besaran insentif disesuaikan. “Kalau yang menghitung bendahara, sehingga penyaluran kita serahkan masing-masing instansi berwenang,” tutur pria yang juga koordinator Bidang Preventif dan Promotif Satgas Covid-19 Lamongan itu.

Selain kinerja, menurut Taufik, insentif diberikan kepada mereka yang bertugas menangani Covid-19. Jika dalam satu bulan hanya dua dokter dan lima perawat yang terlibat penanganan, maka otomatis yang mendapatkan insentif hanya mereka. Alasannya, tunjangan ini diberikan sebagai ganti lelah karena harus bertugas ganda menangani pasien Covid-19.

Taufik menambahkan, nakes yang berhak mendapatkan insentif antara lain tenaga pemeriksa, skrining, dan nakes yang melakukan penelusuran kasus. Juga, nakes yang mengevaluasi pasien dan nakes yang terlibat pemeriksaan laboratorium. Besaran yang ditetapkan sesuai dengan kemampuan daerah.

Baca Juga :  Pengecoran Jalan Nasional Baru Selesaikan Satu Lajur
- Advertisement -

Taufik mengklaim untuk Lamongan, nakes yang bertugas di RSUD maksimal insentifnya Rp 10 juta per bulan. Kemudian yang bertugas di puskesmas, baik dokter, perawat, dan bidan, maksimal mendapatkan Rp 5 juta per bulan.

“Kebijakan besaran insentif disesuaikan oleh daerah, meski dari Kementrian Kesehatan memberikan acuan. Kita sesuaikan dengan kemampuan dan kinerja,” tuturnya. Tahun lalu, Taufik menambahkan insentif diberikan setiap triwulan. Sekarang dipertimbangkan untuk disalurkan setiap bulan, menyesuaikan kondisi di lapangan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/