alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Harga Cabai Makin Pedas, Capai Rp 80 Ribu Per Kilo

Radar Lamongan – Harga cabai rawit terasa makin pedas. Di tingkat pedagang, harga bumbu dapur itu kini Rp 80 ribu per kilogram (kg). Padahal, biasanya bahan membuat sambal itu maksimal Rp 40 ribu per kg.

Rusmini, salah satu pedagang Pasar Sidoharjo Lamongan mengatakan, selama dua pekan terakhir terjadi kenaikan harga secara beruntun. Hampir setiap hari, nilai kenaikannya Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu per kg. “Biasanya kalau langganan bisa jual Rp 78 ribu satu kilo, sekarang tidak bisa. Sempat turun dua hari lalu Rp 65 ribu, kemudian langsung naik lagi drastis,” ujarnya.

Berdasarkan pengalamannya selama berdagang, kenaikan harga cabai kerap terjadi saat musim penghujan. Hal itu terjadi karena petani gagal panen. Padahal, kebutuhan di tingkat konsumen masih tinggi. Menurut Rusmini, kenaikan harga tersebut hanya terjadi pada bumbu dapur jenis cabai rawit. Cabai besar harganya stabil Rp 38 ribu per kg. Sementara harga bawang merah Rp 25 ribu per kg dan bawang putih Rp 23 ribu per kg.

Baca Juga :  Belum Berani Menjual, Karena Belum Mampu Mengurus Izin

Maskamah, pedagang Pasar Sidoharjo lainnya, menilai, kenaikan harga cabai karena banyak faktor. Salah satunya karena hukum ekonomi. Permintaan konsumen tinggi, namun stoknya terbatas. Selain itu, cabai tidak bisa ditimbun dalam waktu lama. “Kalau beli sekarang maksimal dua hari harus habis, kalau tidak pastinya busuk,” jelasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lamongan M Zamroni memastikan kenaikan harga cabai karena faktor cuaca. Setiap hari turun hujan sehingga petani jarang ke lahan pertaniannya. Selain itu, kebutuhan juga tinggi. Dia juga memastikan stok tidak sampai langka karena terus dikoordinasikan dengan tengkulak.

Zamroni mengklaim kenaikan harga bahan pokok bukan terjadi pada bumbu dapur saja. Beras kualitas premium dan medium juga terdapat kenaikan Rp 500 hingga Rp 1.000. Kenaikan itu merata berdasarkan hasil survei di Pasar Sidoharjo, Babat, Blimbing, dan Mantup. “Kemungkinan daya beli masyarakat sudah pulih sehingga pengaruh pada permintaan dan penjualan. Namun dipastikan bukan permainan harga karena terus kami pantau,” tuturnya.

Baca Juga :  Bangun Empat Gedung Baru

Radar Lamongan – Harga cabai rawit terasa makin pedas. Di tingkat pedagang, harga bumbu dapur itu kini Rp 80 ribu per kilogram (kg). Padahal, biasanya bahan membuat sambal itu maksimal Rp 40 ribu per kg.

Rusmini, salah satu pedagang Pasar Sidoharjo Lamongan mengatakan, selama dua pekan terakhir terjadi kenaikan harga secara beruntun. Hampir setiap hari, nilai kenaikannya Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu per kg. “Biasanya kalau langganan bisa jual Rp 78 ribu satu kilo, sekarang tidak bisa. Sempat turun dua hari lalu Rp 65 ribu, kemudian langsung naik lagi drastis,” ujarnya.

Berdasarkan pengalamannya selama berdagang, kenaikan harga cabai kerap terjadi saat musim penghujan. Hal itu terjadi karena petani gagal panen. Padahal, kebutuhan di tingkat konsumen masih tinggi. Menurut Rusmini, kenaikan harga tersebut hanya terjadi pada bumbu dapur jenis cabai rawit. Cabai besar harganya stabil Rp 38 ribu per kg. Sementara harga bawang merah Rp 25 ribu per kg dan bawang putih Rp 23 ribu per kg.

Baca Juga :  Sehat Jiwa Dengan Lesung Si Panji¬†

Maskamah, pedagang Pasar Sidoharjo lainnya, menilai, kenaikan harga cabai karena banyak faktor. Salah satunya karena hukum ekonomi. Permintaan konsumen tinggi, namun stoknya terbatas. Selain itu, cabai tidak bisa ditimbun dalam waktu lama. “Kalau beli sekarang maksimal dua hari harus habis, kalau tidak pastinya busuk,” jelasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lamongan M Zamroni memastikan kenaikan harga cabai karena faktor cuaca. Setiap hari turun hujan sehingga petani jarang ke lahan pertaniannya. Selain itu, kebutuhan juga tinggi. Dia juga memastikan stok tidak sampai langka karena terus dikoordinasikan dengan tengkulak.

Zamroni mengklaim kenaikan harga bahan pokok bukan terjadi pada bumbu dapur saja. Beras kualitas premium dan medium juga terdapat kenaikan Rp 500 hingga Rp 1.000. Kenaikan itu merata berdasarkan hasil survei di Pasar Sidoharjo, Babat, Blimbing, dan Mantup. “Kemungkinan daya beli masyarakat sudah pulih sehingga pengaruh pada permintaan dan penjualan. Namun dipastikan bukan permainan harga karena terus kami pantau,” tuturnya.

Baca Juga :  Kuliner Tradisional Tetap Laris

Artikel Terkait

Most Read

Parpol Belum Siap Daftar Bacaleg

Perusahaan Belum Merespon

Tewas Terjepit Bodi Truk

Artikel Terbaru


/