alexametrics
25 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Nelayan Bergantung Rajungan

PACIRAN – Nelayan Kecamatan Paciran, Lamongan masih mengandalkan rajungan sebagai tangakapan utama. Berdasar data Dinas Perikanan Lamongan, hasil tangkapan rajungan selama setahun mencapai 900 ton. Tingginya minat konsumsi masyarakat pada rajungan, membuat harganya cukup tinggi dan tergolong stabil. 

”Hasil tangkapan utama kita (nelayan) kecil di Pantura masih rajungan. Tapi, bulan-bulan ini juga musim cumi-cumi,” tutur Hamid, salah satu nelayan di Desa/ Kecamatan Paciran, Lamongan kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (4/11). 

Menurut dia, melimpahnya hasil rajungan di kawasan pantura, membuat mayoritas nelayan menjadikannya tangkapan utama.

Namun, sama seperti hasil laut lainnya, rajungan juga memiliki puncak hasil tangkapan. ”Kalaupun tidak musim puncak, kita pun masih bisa dapat tangkapan minimal lima kilogram (kg) per hari,” katanya.

Baca Juga :  Harga Melambung, Pedagang Ikan Libur Berjualan

Adanya Permen Kementerian Kelautan dan Perikanan (Permen KKP) nomor 1 Tahun 2015, yang mengatur tangkapan rajungan tak boleh yang bertelur cukup membingungkan nelayan. Sebab, kendalanya yakni waktu untuk memilih jenis rajungan yang bertelur. 

”Sempat membingungkan, karena kadang tidak mungkin kita menangkap rajungan laku dilepaskan lagi. Tentu akan merugi di biaya operasional juga,” tukasnya. 

Meski begitu, pengaruh permen tersebut tak terlalu dipikirkan nelayan, yang mayoritas menggantungkan pada tangkapan nelayan.

Tapi, solusi bantuan mesin bahan bakar gas (BBG), yang lebih efisien 50 persen diharapkan menjadi solusi. Yakni, permen KKP nomor 15 bisa dijalankan sepenuhnya oleh nelayan. 

”Tapi belum semua nelayan mendapat mesin BBG. Semoga tahun depan bisa menjadi perhatian,” pungkasnya.

Baca Juga :  Kusworo Budi Mulyoto, Guru Seni Multitalenta yang Berlatar PKN

PACIRAN – Nelayan Kecamatan Paciran, Lamongan masih mengandalkan rajungan sebagai tangakapan utama. Berdasar data Dinas Perikanan Lamongan, hasil tangkapan rajungan selama setahun mencapai 900 ton. Tingginya minat konsumsi masyarakat pada rajungan, membuat harganya cukup tinggi dan tergolong stabil. 

”Hasil tangkapan utama kita (nelayan) kecil di Pantura masih rajungan. Tapi, bulan-bulan ini juga musim cumi-cumi,” tutur Hamid, salah satu nelayan di Desa/ Kecamatan Paciran, Lamongan kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (4/11). 

Menurut dia, melimpahnya hasil rajungan di kawasan pantura, membuat mayoritas nelayan menjadikannya tangkapan utama.

Namun, sama seperti hasil laut lainnya, rajungan juga memiliki puncak hasil tangkapan. ”Kalaupun tidak musim puncak, kita pun masih bisa dapat tangkapan minimal lima kilogram (kg) per hari,” katanya.

Baca Juga :  Keluhkan Pembeli Berkurang

Adanya Permen Kementerian Kelautan dan Perikanan (Permen KKP) nomor 1 Tahun 2015, yang mengatur tangkapan rajungan tak boleh yang bertelur cukup membingungkan nelayan. Sebab, kendalanya yakni waktu untuk memilih jenis rajungan yang bertelur. 

”Sempat membingungkan, karena kadang tidak mungkin kita menangkap rajungan laku dilepaskan lagi. Tentu akan merugi di biaya operasional juga,” tukasnya. 

Meski begitu, pengaruh permen tersebut tak terlalu dipikirkan nelayan, yang mayoritas menggantungkan pada tangkapan nelayan.

Tapi, solusi bantuan mesin bahan bakar gas (BBG), yang lebih efisien 50 persen diharapkan menjadi solusi. Yakni, permen KKP nomor 15 bisa dijalankan sepenuhnya oleh nelayan. 

”Tapi belum semua nelayan mendapat mesin BBG. Semoga tahun depan bisa menjadi perhatian,” pungkasnya.

Baca Juga :  Kusworo Budi Mulyoto, Guru Seni Multitalenta yang Berlatar PKN

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/