alexametrics
26.6 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Belum Ditransfer Pusat, Penerima Dana BOS Madrasah Tak Utuh

Radar Bojonegoro – Kuota siswa penerima bantuan operasional sekolah (BOS) madrasah tak utuh. Kondisi itu membuat madrasah resah. Dana yang mereka terima dari pemerintah pusat itu tidak cukup untuk operasional. Sebab, kebutuhan biaya pendidikan selama pandemi cukup banyak.

Itu terjadi dalam periode pencairan akhir-akhir ini. ‘’Kami juga tidak tahu. Dana BOS madrasah yang kami terima kok hanya separo dari biasanya,’’ ujar Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) An-Nur Dander Ahmad Sholeh kemarin (4/10).

Siswa di MI yang dia pimpin berjumlah 63 orang. Namun, saat ini yang menerima dana BOS hanya 34 siswa. Jumlah itu hampir separo dari jumlah siswa seharusnya menerima dana BOS. Kondisi itu membuat dia bingung. Sebab, saat pandemi Covid-19 sekolah juga harus membantu kuota internet siswa.

‘’Kondisi ini sedikit menyulitkan. Kami harus mencukup-cukupkan dana yang ada itu,’’ jelas pria tinggal di Desa Pungpungan Kecamatan Kalitidu itu. Dana BOS madrasah digunakan untuk operasional sekolah.

Baca Juga :  Proyek Desa Lebih Banyak Serap Tenaga Kerja Dibanding Sektor Migas

Selain itu, juga untuk honor guru. Pada masa pandemi Covid-19 ditambah untuk membantu membelikan kuota internet siswa. Sebab, pembelajaran dilakukan secara daring. Setiap tahun dana bos yang diterima setiap siswa adalah Rp 800 ribu. Tahun ini ada penambahan Rp 100 ribu per siswa.

Sehingga, selama 2020 ini per siswa menerima Rp 900 ribu. ‘’Kami harap segera ada tambahan dana. Sebab, berkurangnya cukup banyak. Kami khawatir tidak cukup untuk operasional,’’ jelasnya.

Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Bojonegoro Abdul Wahid membenarkan adanya dana BOS yang berkurang itu. Namun, itu tidak hanya terjadi di Bojonegoro. Namun, di seluruh Indonesia juga sama.

‘’Semuanya mengalami hal yang sama,’’ jelasnya. Wahid menjelaskan kronologis berkurangnya dana BOS itu itu bermula dari rencana kenaikan BOS sebesar Rp 100 ribu per siswa tahun ini. Kenaikan itu sudah ditetapkan.

Baca Juga :  34 Simpul Relawan Bergerak untuk Lamongan Sembodo

Ternyata, anggaran dana BOS yang ada di Kemenag tidak bertambah. Sebab, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) belum mentransfer anggarannya. Di sisi lain, transfer dana BOS ke madrasah sudah mengalami kenaikan. Sehingga, pada periode enam bulan kedua, anggarannya tidak cukup. Karena digunakan untuk penambahan enam bulan pertama. Sedangkan transfer dari Kemenkeu masih belum ada.

‘’Kami cairkan seadanya. Supaya sekolah bisa tetap memiliki operasional,’’ jelasnya. Wahid menjelaskan, Kemenag pusat tengah berupaya mendapatkan tambahan kekurangan dana BOS itu. Sehingga, tidak mengganggu operasional madrasah. ‘’Masyarakat tidak perlu resah dengan kurangnya dana ini. Ini masih diupayakan tambahannya,’’ jelasnya.

Radar Bojonegoro – Kuota siswa penerima bantuan operasional sekolah (BOS) madrasah tak utuh. Kondisi itu membuat madrasah resah. Dana yang mereka terima dari pemerintah pusat itu tidak cukup untuk operasional. Sebab, kebutuhan biaya pendidikan selama pandemi cukup banyak.

Itu terjadi dalam periode pencairan akhir-akhir ini. ‘’Kami juga tidak tahu. Dana BOS madrasah yang kami terima kok hanya separo dari biasanya,’’ ujar Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) An-Nur Dander Ahmad Sholeh kemarin (4/10).

Siswa di MI yang dia pimpin berjumlah 63 orang. Namun, saat ini yang menerima dana BOS hanya 34 siswa. Jumlah itu hampir separo dari jumlah siswa seharusnya menerima dana BOS. Kondisi itu membuat dia bingung. Sebab, saat pandemi Covid-19 sekolah juga harus membantu kuota internet siswa.

‘’Kondisi ini sedikit menyulitkan. Kami harus mencukup-cukupkan dana yang ada itu,’’ jelas pria tinggal di Desa Pungpungan Kecamatan Kalitidu itu. Dana BOS madrasah digunakan untuk operasional sekolah.

Baca Juga :  Plesterisasi RTLH Milik Sujarwo Dikebut

Selain itu, juga untuk honor guru. Pada masa pandemi Covid-19 ditambah untuk membantu membelikan kuota internet siswa. Sebab, pembelajaran dilakukan secara daring. Setiap tahun dana bos yang diterima setiap siswa adalah Rp 800 ribu. Tahun ini ada penambahan Rp 100 ribu per siswa.

Sehingga, selama 2020 ini per siswa menerima Rp 900 ribu. ‘’Kami harap segera ada tambahan dana. Sebab, berkurangnya cukup banyak. Kami khawatir tidak cukup untuk operasional,’’ jelasnya.

Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Bojonegoro Abdul Wahid membenarkan adanya dana BOS yang berkurang itu. Namun, itu tidak hanya terjadi di Bojonegoro. Namun, di seluruh Indonesia juga sama.

‘’Semuanya mengalami hal yang sama,’’ jelasnya. Wahid menjelaskan kronologis berkurangnya dana BOS itu itu bermula dari rencana kenaikan BOS sebesar Rp 100 ribu per siswa tahun ini. Kenaikan itu sudah ditetapkan.

Baca Juga :  Pasokan Vaksin Kurang, Ini Target Vaksin Difteri di Lamongan

Ternyata, anggaran dana BOS yang ada di Kemenag tidak bertambah. Sebab, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) belum mentransfer anggarannya. Di sisi lain, transfer dana BOS ke madrasah sudah mengalami kenaikan. Sehingga, pada periode enam bulan kedua, anggarannya tidak cukup. Karena digunakan untuk penambahan enam bulan pertama. Sedangkan transfer dari Kemenkeu masih belum ada.

‘’Kami cairkan seadanya. Supaya sekolah bisa tetap memiliki operasional,’’ jelasnya. Wahid menjelaskan, Kemenag pusat tengah berupaya mendapatkan tambahan kekurangan dana BOS itu. Sehingga, tidak mengganggu operasional madrasah. ‘’Masyarakat tidak perlu resah dengan kurangnya dana ini. Ini masih diupayakan tambahannya,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/