alexametrics
27.8 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Tiga Mesin dan Seribu Liter Minyak Mentah Terbakar

Radar Bojonegoro – Asap hitam mengepul di kawasan penambangan minyak sumur tua di Dusun Dangilo, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan, kemarin (4/9). Kobaran api sekitar pukul 12.15 itu mengagetkan para penambang. Tiga unit mesin rakitan digunakan menambang minyak terbakar.

Dugaan sementara sumber api berasal dari knalpot mesin rakitan tersebut. Tidak ada korban jiwa atau luka-luka. Kerugian ditaksir Rp 150 juta. Termasuk 1.000 liter minyak mentah terbakar. Pembasahan lokasi hingga pukul 14.30. Menggunakan air dicampur foam karena ada minyak mentahnya.

Kebakaran ini menjadi evaluasi penting semua pihak atas keselamatan penambang minyak tradisional. Termasuk di lokasi ini kawasan mudah terjadi kebakaran. Standardisasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus ditinjau ulang.

Parwito Sholeh penambang minyak tradisional dan kepala teknik PT BBS (salah satu BUMD menangani minyak sumur tua) mengatakan, cukup sulit mengajak para penambang memahami K3. Seperti menyediakan alat pemadam api ringan (APAR). Menurutnya, kondisinya serba sulit.

Para penambang juga masih rugi karena harga minyak dibeli oleh Pertamina hanya Rp 1.892 per liter. “Serba sulit kondisinya, kami hanya bisa mengingatkan agar lebih berhati hati,” ujar dia.

Baca Juga :  Mendekati Seleksi Calon Perangkat Desa, Pemkab Janji Tuntaskan Perbup

General Manager Pertamina Asset 4 Agus Amperiyanto mengatakan, kebakaran memang terjadi akibat keteledoran dari penambang. Pihaknya berharap kejadian itu jadi pelajaran agar tidak terjadi lagi. Khususnya, BUMD sebaiknya memberikan pembinaan kepada para penambang.

Namun, ia juga mengakui sulit mengingatkan para penambang minyak tradisional itu bisa memahami K3. “Memang butuh waktu memberikan pemahaman kepada para penambang minyak tradisional. Seperti sebelumnya, kami menekan agar tidak merokok di dekat lokasi menambang,” katanya.

Terkait APAR, menurut Agus, sudah tersedia, namun skalanya kecil. Sehingga, tidak semua sumur minyak tradisional itu tersedia APAR. Dia bersyukur api lekas padam dan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro Achmad Gunawan mengatakan, awalnya menerima laporan kebakaran sekitar pukul 12.35. Selanjutnya mengirim empat mobil damkar serta 15 personil dari Pos Padangan dan Pos Kota.

Baca Juga :  Pemkab Rumuskan Sanksi Untuk Kades yang Belum Lantik Perangkat Desa

Saat tiba di lokasi kejadian, api sudah dipadamkan warga setempat. Petugas damkar hanya melakukan pembasahan menggunakan air dicampur foam, sebab ada minyak mentahnya. “Pembasahan dan pendinginan butuh waktu sekitar satu setengah jam,” katanya.

Usai pembasahan, pihaknya memberikan imbauan kepada pengelola sumur minyak tradisional agar ke menyediakan APAR atau alat pemadam api berat (APAB). Termasuk meminta pihak berwenang yakni pembina para penambang minyak untuk dibekali standardisasi K-3.

“Kami hanya bisa beri imbauan secara umum saja, intinya kami imbau agar lebih hati-hati,” tuturnya. Kapolsek Kedewan AKP Pur wanto menjelaskan, kronologi kejadian bermula ketika seorang pekerja di sumur tradisional melihat adanya api menyala di bagian belakang mesin.

Sumbernya dari knalpot mesin rakitan untuk menimba minyak di lokasi sumur tua D-90. “Kemudian apinya membesar dan menjalar sehingga membakar tiga unit mesin rakitan,” bebernya. Kerugian ditaksir Rp 150 juta meliputi tiga unit mesin rakitan dan minyak mentah sekitar 1.000 liter.

Radar Bojonegoro – Asap hitam mengepul di kawasan penambangan minyak sumur tua di Dusun Dangilo, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan, kemarin (4/9). Kobaran api sekitar pukul 12.15 itu mengagetkan para penambang. Tiga unit mesin rakitan digunakan menambang minyak terbakar.

Dugaan sementara sumber api berasal dari knalpot mesin rakitan tersebut. Tidak ada korban jiwa atau luka-luka. Kerugian ditaksir Rp 150 juta. Termasuk 1.000 liter minyak mentah terbakar. Pembasahan lokasi hingga pukul 14.30. Menggunakan air dicampur foam karena ada minyak mentahnya.

Kebakaran ini menjadi evaluasi penting semua pihak atas keselamatan penambang minyak tradisional. Termasuk di lokasi ini kawasan mudah terjadi kebakaran. Standardisasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus ditinjau ulang.

Parwito Sholeh penambang minyak tradisional dan kepala teknik PT BBS (salah satu BUMD menangani minyak sumur tua) mengatakan, cukup sulit mengajak para penambang memahami K3. Seperti menyediakan alat pemadam api ringan (APAR). Menurutnya, kondisinya serba sulit.

Para penambang juga masih rugi karena harga minyak dibeli oleh Pertamina hanya Rp 1.892 per liter. “Serba sulit kondisinya, kami hanya bisa mengingatkan agar lebih berhati hati,” ujar dia.

Baca Juga :  Bojonegoro Itu Surga Tersembunyi

General Manager Pertamina Asset 4 Agus Amperiyanto mengatakan, kebakaran memang terjadi akibat keteledoran dari penambang. Pihaknya berharap kejadian itu jadi pelajaran agar tidak terjadi lagi. Khususnya, BUMD sebaiknya memberikan pembinaan kepada para penambang.

Namun, ia juga mengakui sulit mengingatkan para penambang minyak tradisional itu bisa memahami K3. “Memang butuh waktu memberikan pemahaman kepada para penambang minyak tradisional. Seperti sebelumnya, kami menekan agar tidak merokok di dekat lokasi menambang,” katanya.

Terkait APAR, menurut Agus, sudah tersedia, namun skalanya kecil. Sehingga, tidak semua sumur minyak tradisional itu tersedia APAR. Dia bersyukur api lekas padam dan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro Achmad Gunawan mengatakan, awalnya menerima laporan kebakaran sekitar pukul 12.35. Selanjutnya mengirim empat mobil damkar serta 15 personil dari Pos Padangan dan Pos Kota.

Baca Juga :  Infrasturktur Picu Ekonomi Tahun Depan Lebih Baik

Saat tiba di lokasi kejadian, api sudah dipadamkan warga setempat. Petugas damkar hanya melakukan pembasahan menggunakan air dicampur foam, sebab ada minyak mentahnya. “Pembasahan dan pendinginan butuh waktu sekitar satu setengah jam,” katanya.

Usai pembasahan, pihaknya memberikan imbauan kepada pengelola sumur minyak tradisional agar ke menyediakan APAR atau alat pemadam api berat (APAB). Termasuk meminta pihak berwenang yakni pembina para penambang minyak untuk dibekali standardisasi K-3.

“Kami hanya bisa beri imbauan secara umum saja, intinya kami imbau agar lebih hati-hati,” tuturnya. Kapolsek Kedewan AKP Pur wanto menjelaskan, kronologi kejadian bermula ketika seorang pekerja di sumur tradisional melihat adanya api menyala di bagian belakang mesin.

Sumbernya dari knalpot mesin rakitan untuk menimba minyak di lokasi sumur tua D-90. “Kemudian apinya membesar dan menjalar sehingga membakar tiga unit mesin rakitan,” bebernya. Kerugian ditaksir Rp 150 juta meliputi tiga unit mesin rakitan dan minyak mentah sekitar 1.000 liter.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/