alexametrics
32.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Resep dari Orang Tua, Sambal Diminati Warga Ambon

SAMBAL rujak ternyata memiliki prospek bagus. Selamet dan Miftahul Baiah mengonsep menjadi sambal kemasan. Ternyata sambal asal Bojonegoro ini hingga ke Ambon.

Sejumlah botol berisi sambal berjajar rapi di rumah Selamet di Dusun Gumeno, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sumberrejo. Di dekatnya ada berbagai macam buah. Seperti belimbing, mangga, dan bengkoang. Juga ada beberapa gorengan.

’’Sambal ini cocok untuk makanan apa saja. Tidak hanya untuk rujak,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sambal rujak bikinan Selamet ini cukup bagus. Momen-momen tertentu omzetnya bisa menembus Rp 900 ribu per hari. Omzet cukup besar untuk usaha yang baru dirintis tahun lalu itu. ’’Kami juga tidak menyangka masyarakat bisa menerima dengan baik,’’ terang dia.

Baca Juga :  Pindah PKL, Kuota Baru Belum Jelas

Usaha ini dimulai pada 2018. Awalnya, Selamet dan Miftahul Baiah istrinya, belajar membuat sambal rujak pada ibunya di Kabupaten Pasuruan. Sebab, mereka juga tidak mempunyai resep. Proses belajarnya juga lama. Seminggu lebih.

Hasil belajar itu, dipraktikkan di rumah. Hasilnya, sesuai dengan yang sudah diresepkan orang tuanya. ’’Alhamdulillah berhasil. Sesuai resep dari ibu,’’ terang pria asli Sumberrejo itu.

Awalnya, mereka tidak berniat mengemas sambal. Itu bermula dari ketidaksengajaan. Saat itu, setiap ada tamu di rumahnya, Selamet kebetulan mempunyai stok sambal cukup banyak. Tamu atau teman yang ke rumah itu diberi hidangan sambal rujak itu. ’’Alhamdulillah kok banyak yang suka,’’ terangnya.

Lambat laun, tamu yang disuguhkan itu mulai ada yang pesan. Mula-mula pesan satu atau dua botol. Lama-lama memesan dalam jumlah banyak. ’’Biasanya digunakan untuk suvenir  hajatan,’’ ungkap dia.

Baca Juga :  Masih Berharap Proyek JTB

Semakin lama, pesanan semakin banyak. Mereka berdua mulai kewalahan. Produksi mulai ditingkatkan. Sehari bisa sampai 100 botol. Itu saat ada pesanan dari luar daerah.

Sambal rujak buatan Selamet itu awalnya beredar dari mulut ke mulut. Namun, itu sangat membantu. Sebab, biasanya yang merekomendasikan adalah teman dan sahabat.‘’’Pada 2018 lalu kami menjadikannya usaha bisnis,’’ terang dia.

Sambal dikemas di sebuah gendul  atau botol. Sambal ini tidak hanya cocok untuk buah. Tapi juga cocok untuk kerupuk, dan gorengan. Bergabung dengan komunitas wirausaha dan usaha kecil dan menengah (UKM), akhirnya mendapatkan fasilitas untuk mengurus berbagai izin.

’’Saat ini sudah tidak hanya melayani lokal saja. Namun, juga melayani ke berbagai daerah. Mulai Surabaya, Pasuruan, hingga Ambon,’’ jelasnya.

SAMBAL rujak ternyata memiliki prospek bagus. Selamet dan Miftahul Baiah mengonsep menjadi sambal kemasan. Ternyata sambal asal Bojonegoro ini hingga ke Ambon.

Sejumlah botol berisi sambal berjajar rapi di rumah Selamet di Dusun Gumeno, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sumberrejo. Di dekatnya ada berbagai macam buah. Seperti belimbing, mangga, dan bengkoang. Juga ada beberapa gorengan.

’’Sambal ini cocok untuk makanan apa saja. Tidak hanya untuk rujak,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sambal rujak bikinan Selamet ini cukup bagus. Momen-momen tertentu omzetnya bisa menembus Rp 900 ribu per hari. Omzet cukup besar untuk usaha yang baru dirintis tahun lalu itu. ’’Kami juga tidak menyangka masyarakat bisa menerima dengan baik,’’ terang dia.

Baca Juga :  Pindah PKL, Kuota Baru Belum Jelas

Usaha ini dimulai pada 2018. Awalnya, Selamet dan Miftahul Baiah istrinya, belajar membuat sambal rujak pada ibunya di Kabupaten Pasuruan. Sebab, mereka juga tidak mempunyai resep. Proses belajarnya juga lama. Seminggu lebih.

Hasil belajar itu, dipraktikkan di rumah. Hasilnya, sesuai dengan yang sudah diresepkan orang tuanya. ’’Alhamdulillah berhasil. Sesuai resep dari ibu,’’ terang pria asli Sumberrejo itu.

Awalnya, mereka tidak berniat mengemas sambal. Itu bermula dari ketidaksengajaan. Saat itu, setiap ada tamu di rumahnya, Selamet kebetulan mempunyai stok sambal cukup banyak. Tamu atau teman yang ke rumah itu diberi hidangan sambal rujak itu. ’’Alhamdulillah kok banyak yang suka,’’ terangnya.

Lambat laun, tamu yang disuguhkan itu mulai ada yang pesan. Mula-mula pesan satu atau dua botol. Lama-lama memesan dalam jumlah banyak. ’’Biasanya digunakan untuk suvenir  hajatan,’’ ungkap dia.

Baca Juga :  Konsep Pelayanan Publik Penting bagi Institusi Kesehatan (1)

Semakin lama, pesanan semakin banyak. Mereka berdua mulai kewalahan. Produksi mulai ditingkatkan. Sehari bisa sampai 100 botol. Itu saat ada pesanan dari luar daerah.

Sambal rujak buatan Selamet itu awalnya beredar dari mulut ke mulut. Namun, itu sangat membantu. Sebab, biasanya yang merekomendasikan adalah teman dan sahabat.‘’’Pada 2018 lalu kami menjadikannya usaha bisnis,’’ terang dia.

Sambal dikemas di sebuah gendul  atau botol. Sambal ini tidak hanya cocok untuk buah. Tapi juga cocok untuk kerupuk, dan gorengan. Bergabung dengan komunitas wirausaha dan usaha kecil dan menengah (UKM), akhirnya mendapatkan fasilitas untuk mengurus berbagai izin.

’’Saat ini sudah tidak hanya melayani lokal saja. Namun, juga melayani ke berbagai daerah. Mulai Surabaya, Pasuruan, hingga Ambon,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/