alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Debit Waduk Pacal Tinggal Separo

TEMAYANG – Musim kemarau berlangsung selama sebulan ini memicu debit air Waduk Pacal terus menyusut. Kemarin (4/8), debit air waduk di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang itu sisa 7,5 juta meter kubik (m3). 

Jumlah itu menyust 3,3 juta m3 dibanding Juni lalu sebanyak 10,8 juta m3. Jumlah itu akan terus berkurang karena musim kemarau baru berlangsung. Namun, tak ada kekhawatiran karena kebanyakan petani tidak banyak menanam padi yang banyak menyerap air.

Kasi Operasi UPT Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) di Bojonegoro Muhammad Taufiq menjelaskan, volume Waduk Pacal terus berkurang sejak Mei lalu. Saat itu, pengurangan terjadi karena masih banyak permintaan air untuk musim tanam kedua. Mulai Juli lalu, volume terus menyusut karena musim kemarau. 

Baca Juga :  Ban Mobil Pecah, Ditbarak Truk, Mobil Ringsek

Taufiq menjelaskan, sejak Juli lalu permintaan air sudah tidak ada. Petani di sepanjang aliran sungai Waduk Pacal sudah tidak membutuhkan banyak air. Sebab, mereka menanam jagung dan tanaman tidak membutuhkan air banyak. Sehingga, permintaan air sudah tidak dilakukan lagi. Saat musim hujan volume Waduk Pacal adalah 15,8 juta m3. 

Biasanya permintaan air Waduk Pacal ketika kemarau cukup banyak. Sebab, di sejumlah kecamatan masih banyak petani menanam padi. Tahun ini, karena tidak ada yang tanam padi, sehingga permintaan jadi turun. Terutama di wilayah aliran Sungai Pacal. Meliputi Kecamatan Temayang, Sukosewu, Balen, Sumberrejo, dan Kanor. 

Taufiq menjelaskan, sebelum spill way rusak pada 2014, Waduk Pacal bisa menampung 23 juta m3 air. Namun, karena spill way rusak, daya tampung waduk tidak bisa sebanyak itu. Apalagi, endapan lumpur di waduk cukup banyak.

Baca Juga :  Cek Kelayakan Ban dan Rem Bus

Jika spill way dibangun lagi, debit air Waduk Pacal saat kemarau masih bisa memasok kebutuhan pertanian. Lahan pertanian bisa dialiri Waduk Pacal saat ini 16 .688 hektare. 

  

TEMAYANG – Musim kemarau berlangsung selama sebulan ini memicu debit air Waduk Pacal terus menyusut. Kemarin (4/8), debit air waduk di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang itu sisa 7,5 juta meter kubik (m3). 

Jumlah itu menyust 3,3 juta m3 dibanding Juni lalu sebanyak 10,8 juta m3. Jumlah itu akan terus berkurang karena musim kemarau baru berlangsung. Namun, tak ada kekhawatiran karena kebanyakan petani tidak banyak menanam padi yang banyak menyerap air.

Kasi Operasi UPT Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) di Bojonegoro Muhammad Taufiq menjelaskan, volume Waduk Pacal terus berkurang sejak Mei lalu. Saat itu, pengurangan terjadi karena masih banyak permintaan air untuk musim tanam kedua. Mulai Juli lalu, volume terus menyusut karena musim kemarau. 

Baca Juga :  Rintis Eks Lahan Tambang sebagai Wisata

Taufiq menjelaskan, sejak Juli lalu permintaan air sudah tidak ada. Petani di sepanjang aliran sungai Waduk Pacal sudah tidak membutuhkan banyak air. Sebab, mereka menanam jagung dan tanaman tidak membutuhkan air banyak. Sehingga, permintaan air sudah tidak dilakukan lagi. Saat musim hujan volume Waduk Pacal adalah 15,8 juta m3. 

Biasanya permintaan air Waduk Pacal ketika kemarau cukup banyak. Sebab, di sejumlah kecamatan masih banyak petani menanam padi. Tahun ini, karena tidak ada yang tanam padi, sehingga permintaan jadi turun. Terutama di wilayah aliran Sungai Pacal. Meliputi Kecamatan Temayang, Sukosewu, Balen, Sumberrejo, dan Kanor. 

Taufiq menjelaskan, sebelum spill way rusak pada 2014, Waduk Pacal bisa menampung 23 juta m3 air. Namun, karena spill way rusak, daya tampung waduk tidak bisa sebanyak itu. Apalagi, endapan lumpur di waduk cukup banyak.

Baca Juga :  Latihan Peningkatan Kompetensi Pemadam Kebakaran

Jika spill way dibangun lagi, debit air Waduk Pacal saat kemarau masih bisa memasok kebutuhan pertanian. Lahan pertanian bisa dialiri Waduk Pacal saat ini 16 .688 hektare. 

  

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/