alexametrics
28.9 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Pesantren Bukan Penjara

SHE – Banyak stigma negatif dari anak-anak mengenai hidup di pesantren. Mulai dari terkekang, tidak tahu dunia luar, hingga merasa dibuang oleh keluarga. Namun, Natasya Eka Amelia justru merasa senang tinggal di pesantren.

“Jadi santri itu pengalaman saya yang berharga,” ucapnya.

Walaupun kadang ada yang beranggapan hidup di pesantren bagaikan penjara, bagi Tasya justru menyenangkan. Karena banyak pelajaran berharga yang dia dapatkan dari sana. “Tentunya ilmu yang tidak akan saya dapatkan di tempat lain,” katanya.

Selain menimba ilmu, dia juga terlatih untuk hidup disiplin, mandiri, dan menjunjung solidaritas yang tinggi. “Contohnya menyiapkan sarapan setiap pagi, saling tolong-menolong. Pokoknya saling melengkapi setiap saat dan setiap waktu,” kata perempuan asal Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro itu.

Baca Juga :  Mulia, Gadis ini Ingin Punya Rumah Tahfiz

Selama tiga tahun, ia menjadi santriwati di Pondok Pesantren Madinatul Ulum Yabima Kecamatan Baureno. Dengan sikap disiplin dan aktif yang dimiliki, membuat Tasya selalu menduduki peringkat satu selama tiga tahun di sekolah. Tasya sangat bersyukur, prestasi yang diraihnya membuat dia tidak perlu membayar SPP.

SHE – Banyak stigma negatif dari anak-anak mengenai hidup di pesantren. Mulai dari terkekang, tidak tahu dunia luar, hingga merasa dibuang oleh keluarga. Namun, Natasya Eka Amelia justru merasa senang tinggal di pesantren.

“Jadi santri itu pengalaman saya yang berharga,” ucapnya.

Walaupun kadang ada yang beranggapan hidup di pesantren bagaikan penjara, bagi Tasya justru menyenangkan. Karena banyak pelajaran berharga yang dia dapatkan dari sana. “Tentunya ilmu yang tidak akan saya dapatkan di tempat lain,” katanya.

Selain menimba ilmu, dia juga terlatih untuk hidup disiplin, mandiri, dan menjunjung solidaritas yang tinggi. “Contohnya menyiapkan sarapan setiap pagi, saling tolong-menolong. Pokoknya saling melengkapi setiap saat dan setiap waktu,” kata perempuan asal Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro itu.

Baca Juga :  Dance untuk Olahraga

Selama tiga tahun, ia menjadi santriwati di Pondok Pesantren Madinatul Ulum Yabima Kecamatan Baureno. Dengan sikap disiplin dan aktif yang dimiliki, membuat Tasya selalu menduduki peringkat satu selama tiga tahun di sekolah. Tasya sangat bersyukur, prestasi yang diraihnya membuat dia tidak perlu membayar SPP.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/