alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Cerita Musarief Beserta Istri dan Anaknya Sembuh Dari Covid-19

Radar Bojonegoro – Kabar gembira datang dari pasien Covid-19 yang sembuh. Mereka adalah sekeluarga asal Dusun Kadung, Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang. Mustarief beserta istrinya Sumini dan anaknya Yuni Eka Risti. Mereka berhasil melewati masa sulit hingga sembuh dari Covid-19.

Suara Sumini terlihat tegar ketika berbincang dengan Jawa Pos Radar Bojonegoro via seluler, kemarin sore (4/6). Percakapannya optimisme setelah sembuh dan dinyatakan negatif Covid-19. Sedikit guyonan dan terlihat akrab keadaannya yang sehat. Namun, ketika bercerita selama menjalani isolasi dan penyembuhan, suaranya mendadak pelan. Suaranya menandakan kesedihan. Sumini tak kuat menahan memori selama perawatan di rumah sakit. Apalagi, Sumini harus menjalani perawatan bersama Mustarief, suaminya dan Yuni Eka Risti, putrinya.

Nada suara Sumini beberapa kali terdengar berat karena menangis. Tetapi di balik kesedihan nya itu, rasa optimistis di dalam diri keluarga tersebut sangat terasa. Sejak awal mereka yakin bisa sembuh. Ia menceritakan kronologi menjalani seluruh prosedur pengobatan dengan baik.

Awal mulanya ketika Sumini sekeluarga pulang dari Surabaya pada 28 Maret lalu. Sejak empat tahun lalu, Sumini sekeluarga berdomisili di Surabaya. Suaminya Mustarief kerja di Kota Pahlawan itu. Setelah pulang, pada 29 Maret itu Mustarief kembali ke Surabaya. Empat hari kemudian Mustarief mengeluh kepada Sumini kurang enak badan. Juga batuk, meriang, dan sesak napas. Sumini pun menyarankan Mustarief beli obat. Mustarief seringkali ketika batuk disertai sesak napas. Tetapi ternyata dua hari minum obat, kondisi Mustarief tak kunjung membaik. Akhirnya, Mustarief memutuskan pulang Bojonegoro, 4 April lalu.

“Saat sudah pulang dan berobat ke Puskesmas Gondang, ternyata juga belum sembuh. Akhirnya, 7 April malam itu saya bawa suami ke RSUD,” tuturnya. Pertama datang di RSUD, Mustarief berada di instalasi gawat darurat (IGD). Esok harinya 8 April, Mustarief dipindah di ruang paru-paru. Sumini memohon kepada perawat agar suaminya dirawat di kamar biasa. Setelah itu, ternyata suaminya dipindah ke Gedung H lantai 5 RSUD untuk diisolasi.

Saat itu, ia belum tahu kondisi dan isu yang bergulir di masyarakat terkait kondisi suaminya. Ketika suaminya masuk ruang isolasi, Sumini disarankan pulang saja oleh perawat RSUD. Tetapi, Sumini sangat keras menolak saran tersebut. Ia ingin mendampingi suaminya di kamar isolasi. Ia yakin suaminya baik-baik saja. Ia yakin suaminya bisa sembuh. Sumini memberikan dukungan secara langsung kepada suaminya agar bisa sembuh dari penyakit.

Baca Juga :  PPKM, Agrowisata Kebun Belimbing Hanya Melayani Penjualan Buah

“Saya bilang kepada perawat untuk tetap berada di samping suaminya. Istri mana yang tega meninggalkan suaminya sendirian di rumah sakit. Bahkan, saya bilang kepada perawat kalau memang saya dan suaminya meninggal di rumah sakit, itu semua sudah seizin Allah. Saya yakin suami saya bisa sembuh,” ujarnya dengan nada berat. Akhirnya, Sumini diizinkan mendampingi suaminya. Setelah hari kedua dirawat di RSUD, kondisi Mustarief membaik.

Namun ternyata respons masyarakat terhadap kondisi Mustarief sangat berlebihan. Banyak pesan berisi isu tidak benar tentang kondisi Mustarief menyebar di WhatsApp. Mustarief diisukan kabur dari rumah sakit Surabaya saat berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Ketika pulang di Gondang diisukan masih sering nongkrong di warung kopi. Padahal, menurut Sumini, Mustarief bukan tipe orang suka nongkrong di warung. Juga bukan orang suka minum kopi.

Karena isu tidak benar tersebut sampai di telinga Sumini. Otomatis dirinya drop dan stres. Tetapi, saat ia stres, perawat RSUD memberikan semangat dan menghiburnya. Para perawat menyarankan agar Sumini puasa media sosial (medsos) dulu. Karena orang benar-benar tahu kondisi Mustarief adalah Sumini dan seluruh petugas medis yang merawatnya. “Jadi, saya dikuatkan oleh para perawat agar tidak menghiraukan isu-isu tidak benar itu. Karena bisa bikin saya makin stres,” jelasnya via telepon.

Kemudian, hasil swab test Mustarief keluar pada 14 April lalu dan ternyata memang positif Covid-19. Sehingga tetap harus menjalani isolasi dulu di RSUD. Badai belum berlalu, karena mendampingi suaminya, Sumini diminta tes swab. Hasil swab test pada 23 April lalu, juga menyatakan Sumini positif Covid-19. Namun, Sumini mengaku tidak begitu menggubris hasil swab test tersebut. Ia fokus untuk sembuh dan segera keluar dari RSUD.

“Karena memang saya dan suami tidak merasakan apapun. Tidak ada gejala apapun. Tiap hari diberi vitamin, makanan sehat, dan istirahat,” tuturnya. Ia mengungkapkan, seluruh perawat di RSUD sangat suportif. Tiap Sumini merasa stres, pasti perawat segera menghampiri di kamar isolasi. Para perawat maksimal memotivasi Sumini dan Mustarief. Sehingga, rasanya perjuangan melawan Covid-19 ini ditanggung bersama.

Ujian seakan belum reda. Dengan nada sedih, Sumini kembali stres ketika diberi kabar anaknya, Yuni Eka Risti juga diisolasi di RS Aisyiyah pada 2 Mei. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Seketika ia menangis saat menceritakan momen tersebut. Sebab, ia tidak diberi kabar oleh dinas kesehatan kalau anaknya juga positif Covid-19. Hasil swab test anaknya keluar pada 1 Mei.

Baca Juga :  Mengkhawatirkan! Angka Kematian Ibu dan Bayi Semakin Maningkat

“Dia ini anak semata wayang. Tentu saya sangat sayang. Saya sedih, kenapa anak saya ikut diisolasi juga. Namun akhirnya diberi penjelasan agar anaknya tidak kontak dengan anggota keluarga atau tetangga di rumah,” katanya. Sumini juga terharu, sebab anaknya justru menguatkan agar tidak terlalu sedih memikirkan kondisinya. Karena kondisi anaknya baik-baik saja dan perawat RS Aisyiyah juga ramah dan baik. Usai isolasi 10 hari, anaknya sudah boleh pulang.

Begitu pula Mustarief dan Sumini juga sudah boleh pulang pada 6 Mei, setelah jalani isolasi di RSUD selama 28 hari. Tetapi harus jalani isolasi di balai latihan kerja (BLK) selama tujuh hari. Saat di BLK, banyak pedagang reaktif rapid test-nya itu kaget ketika bertemu dengan Mustarief. Sumini diberitahu oleh para pedagang itu, kalau isunya Mustarief sudah meninggal dunia. Ia pun tentu kaget dan sedih. Di tengah pandemi Covid-19 ini banyak masyarakat tidak bertanggung jawab.

Tetapi, ia ikhlas dan bersyukur masih diberi kesehatan oleh Allah SWT. “Uniknya ketika tahu suami saya masih hidup, banyak pedagang mengajak foto bareng. Lalu fotonya dikirim ke keluarga di rumah memberitahu kalau suami saya masih sehat bugar,” ucapnya. Melalui sambungan seluler, Mustarief ikut ngobrol.

Dia menambahkan, bahwa agar seluruh masyarakat tidak terlalu paranoid dengan Covid-19. Boleh takut, tapi tidak boleh panik. Penyakit Covid-19 bisa disembuhkan. Semangat hidup yang harus diutamakan. Karena imunitas bisa lemah kalau pikiran stres. Pria juga berprofesi sebagai wartawan itu memohon agar jangan terlalu membesar-besar berita seputar Covid-19.

“Karena dampak sosialnya sangat terasa. Hingga sekarang tetangga sekitar masih paranoid. Jangan juga sebar isu hoaks. Kasihan keluarga yang terdampak,” imbuhnya. Pria berusia 59 tahun itu mengatakan di-swab test sembilan kali. Istrinya di-swab test lima kali dan anaknya di-swab test dua kali. Rasa jenuh dan bosan diisolasi di RSUD tentu ada. Namun, ia dan istri saling menguatkan. Apalagi seluruh perawat di RSUD yang sudah merawat dengan baik. Rasanya sudah seperti saudara sendiri ketika diisolasi di RSUD.

Radar Bojonegoro – Kabar gembira datang dari pasien Covid-19 yang sembuh. Mereka adalah sekeluarga asal Dusun Kadung, Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang. Mustarief beserta istrinya Sumini dan anaknya Yuni Eka Risti. Mereka berhasil melewati masa sulit hingga sembuh dari Covid-19.

Suara Sumini terlihat tegar ketika berbincang dengan Jawa Pos Radar Bojonegoro via seluler, kemarin sore (4/6). Percakapannya optimisme setelah sembuh dan dinyatakan negatif Covid-19. Sedikit guyonan dan terlihat akrab keadaannya yang sehat. Namun, ketika bercerita selama menjalani isolasi dan penyembuhan, suaranya mendadak pelan. Suaranya menandakan kesedihan. Sumini tak kuat menahan memori selama perawatan di rumah sakit. Apalagi, Sumini harus menjalani perawatan bersama Mustarief, suaminya dan Yuni Eka Risti, putrinya.

Nada suara Sumini beberapa kali terdengar berat karena menangis. Tetapi di balik kesedihan nya itu, rasa optimistis di dalam diri keluarga tersebut sangat terasa. Sejak awal mereka yakin bisa sembuh. Ia menceritakan kronologi menjalani seluruh prosedur pengobatan dengan baik.

Awal mulanya ketika Sumini sekeluarga pulang dari Surabaya pada 28 Maret lalu. Sejak empat tahun lalu, Sumini sekeluarga berdomisili di Surabaya. Suaminya Mustarief kerja di Kota Pahlawan itu. Setelah pulang, pada 29 Maret itu Mustarief kembali ke Surabaya. Empat hari kemudian Mustarief mengeluh kepada Sumini kurang enak badan. Juga batuk, meriang, dan sesak napas. Sumini pun menyarankan Mustarief beli obat. Mustarief seringkali ketika batuk disertai sesak napas. Tetapi ternyata dua hari minum obat, kondisi Mustarief tak kunjung membaik. Akhirnya, Mustarief memutuskan pulang Bojonegoro, 4 April lalu.

“Saat sudah pulang dan berobat ke Puskesmas Gondang, ternyata juga belum sembuh. Akhirnya, 7 April malam itu saya bawa suami ke RSUD,” tuturnya. Pertama datang di RSUD, Mustarief berada di instalasi gawat darurat (IGD). Esok harinya 8 April, Mustarief dipindah di ruang paru-paru. Sumini memohon kepada perawat agar suaminya dirawat di kamar biasa. Setelah itu, ternyata suaminya dipindah ke Gedung H lantai 5 RSUD untuk diisolasi.

Saat itu, ia belum tahu kondisi dan isu yang bergulir di masyarakat terkait kondisi suaminya. Ketika suaminya masuk ruang isolasi, Sumini disarankan pulang saja oleh perawat RSUD. Tetapi, Sumini sangat keras menolak saran tersebut. Ia ingin mendampingi suaminya di kamar isolasi. Ia yakin suaminya baik-baik saja. Ia yakin suaminya bisa sembuh. Sumini memberikan dukungan secara langsung kepada suaminya agar bisa sembuh dari penyakit.

Baca Juga :  Satpol PP dan Dilematis Penertiban Anak Jalanan

“Saya bilang kepada perawat untuk tetap berada di samping suaminya. Istri mana yang tega meninggalkan suaminya sendirian di rumah sakit. Bahkan, saya bilang kepada perawat kalau memang saya dan suaminya meninggal di rumah sakit, itu semua sudah seizin Allah. Saya yakin suami saya bisa sembuh,” ujarnya dengan nada berat. Akhirnya, Sumini diizinkan mendampingi suaminya. Setelah hari kedua dirawat di RSUD, kondisi Mustarief membaik.

Namun ternyata respons masyarakat terhadap kondisi Mustarief sangat berlebihan. Banyak pesan berisi isu tidak benar tentang kondisi Mustarief menyebar di WhatsApp. Mustarief diisukan kabur dari rumah sakit Surabaya saat berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Ketika pulang di Gondang diisukan masih sering nongkrong di warung kopi. Padahal, menurut Sumini, Mustarief bukan tipe orang suka nongkrong di warung. Juga bukan orang suka minum kopi.

Karena isu tidak benar tersebut sampai di telinga Sumini. Otomatis dirinya drop dan stres. Tetapi, saat ia stres, perawat RSUD memberikan semangat dan menghiburnya. Para perawat menyarankan agar Sumini puasa media sosial (medsos) dulu. Karena orang benar-benar tahu kondisi Mustarief adalah Sumini dan seluruh petugas medis yang merawatnya. “Jadi, saya dikuatkan oleh para perawat agar tidak menghiraukan isu-isu tidak benar itu. Karena bisa bikin saya makin stres,” jelasnya via telepon.

Kemudian, hasil swab test Mustarief keluar pada 14 April lalu dan ternyata memang positif Covid-19. Sehingga tetap harus menjalani isolasi dulu di RSUD. Badai belum berlalu, karena mendampingi suaminya, Sumini diminta tes swab. Hasil swab test pada 23 April lalu, juga menyatakan Sumini positif Covid-19. Namun, Sumini mengaku tidak begitu menggubris hasil swab test tersebut. Ia fokus untuk sembuh dan segera keluar dari RSUD.

“Karena memang saya dan suami tidak merasakan apapun. Tidak ada gejala apapun. Tiap hari diberi vitamin, makanan sehat, dan istirahat,” tuturnya. Ia mengungkapkan, seluruh perawat di RSUD sangat suportif. Tiap Sumini merasa stres, pasti perawat segera menghampiri di kamar isolasi. Para perawat maksimal memotivasi Sumini dan Mustarief. Sehingga, rasanya perjuangan melawan Covid-19 ini ditanggung bersama.

Ujian seakan belum reda. Dengan nada sedih, Sumini kembali stres ketika diberi kabar anaknya, Yuni Eka Risti juga diisolasi di RS Aisyiyah pada 2 Mei. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Seketika ia menangis saat menceritakan momen tersebut. Sebab, ia tidak diberi kabar oleh dinas kesehatan kalau anaknya juga positif Covid-19. Hasil swab test anaknya keluar pada 1 Mei.

Baca Juga :  Khawatir Wisata Waduk Bendo Terdampak Proyek Tol

“Dia ini anak semata wayang. Tentu saya sangat sayang. Saya sedih, kenapa anak saya ikut diisolasi juga. Namun akhirnya diberi penjelasan agar anaknya tidak kontak dengan anggota keluarga atau tetangga di rumah,” katanya. Sumini juga terharu, sebab anaknya justru menguatkan agar tidak terlalu sedih memikirkan kondisinya. Karena kondisi anaknya baik-baik saja dan perawat RS Aisyiyah juga ramah dan baik. Usai isolasi 10 hari, anaknya sudah boleh pulang.

Begitu pula Mustarief dan Sumini juga sudah boleh pulang pada 6 Mei, setelah jalani isolasi di RSUD selama 28 hari. Tetapi harus jalani isolasi di balai latihan kerja (BLK) selama tujuh hari. Saat di BLK, banyak pedagang reaktif rapid test-nya itu kaget ketika bertemu dengan Mustarief. Sumini diberitahu oleh para pedagang itu, kalau isunya Mustarief sudah meninggal dunia. Ia pun tentu kaget dan sedih. Di tengah pandemi Covid-19 ini banyak masyarakat tidak bertanggung jawab.

Tetapi, ia ikhlas dan bersyukur masih diberi kesehatan oleh Allah SWT. “Uniknya ketika tahu suami saya masih hidup, banyak pedagang mengajak foto bareng. Lalu fotonya dikirim ke keluarga di rumah memberitahu kalau suami saya masih sehat bugar,” ucapnya. Melalui sambungan seluler, Mustarief ikut ngobrol.

Dia menambahkan, bahwa agar seluruh masyarakat tidak terlalu paranoid dengan Covid-19. Boleh takut, tapi tidak boleh panik. Penyakit Covid-19 bisa disembuhkan. Semangat hidup yang harus diutamakan. Karena imunitas bisa lemah kalau pikiran stres. Pria juga berprofesi sebagai wartawan itu memohon agar jangan terlalu membesar-besar berita seputar Covid-19.

“Karena dampak sosialnya sangat terasa. Hingga sekarang tetangga sekitar masih paranoid. Jangan juga sebar isu hoaks. Kasihan keluarga yang terdampak,” imbuhnya. Pria berusia 59 tahun itu mengatakan di-swab test sembilan kali. Istrinya di-swab test lima kali dan anaknya di-swab test dua kali. Rasa jenuh dan bosan diisolasi di RSUD tentu ada. Namun, ia dan istri saling menguatkan. Apalagi seluruh perawat di RSUD yang sudah merawat dengan baik. Rasanya sudah seperti saudara sendiri ketika diisolasi di RSUD.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/