alexametrics
30.9 C
Bojonegoro
Sunday, May 29, 2022

Setelah Lulus Ingin Melanjutkan Pondok Pesantren

TEKAD Silvia Niken mengerjakan ujian nasional (unas) sangat tinggi. Meski hanya sendiri, dia begitu menikmati kerjakan naskah soal dijaga dua gurunya. Setelah lulus, ia ingin lanjutkan belajar di pondok pesantren.

Riuh ramai siswa-siswi berlarian ke sana-ke mari bermain kala istirahat di Sekolah Luar Biasa (SLB) Putra Harapan kemarin (4/4). Di tengah-tengah keramaian, ternyata ada satu siswi fokus mengerjakan ujian nasional di lantai dua.

Satu siswinya tersebut menyandang tunarungu. Bernama Silvia Niken. Saat itu, siswinya fokus mengerjakan soal-soal bahasa Inggris. Terlihat ia membaca secara saksama soal demi soal kemudian mengarsir lembar jawaban komputer (LJK). Satu siswi tersebut dijaga sekaligus dibimbing dua guru apabila mengalami kesulitan terkait teknis pengerjaan.

Kepala SLB Putra Harapan Nanang Nasrullah mengatakan tahun ajaran 2018/2019 kelas 12 SMALB ada tujuh siswa. Namun, hanya satu memenuhi kriteria mengikuti ujian nasional (unas). Lima siswa lainnya tunagrahita dan satu siswa autis. Sehingga, selain Niken, mereka hanya mengikuti ujian sekolah saja.

Baca Juga :  Ahmad Zahroni, Pecatur Disabilitas Nasional Asal Paciran

“Hanya Niken memenuhi kriteria ikut ujian nasional karena lainnya ada yang tunagrahita dan autis,” jelas pria asal Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander itu.

Ia menceritakan Niken bersekolah di SLB sejak bangku taman kanak-kanak (TK). Saat SD dan SMP, Niken pasti ikut ujian nasional. Dan, berlanjut SMA. Berbeda dengan tahun lalu, ada empat siswa tunarungu ikut ujian nasional.

“Kalau tunanetra ikut unas, di SLB Putra Harapan belum pernah ada,” ujarnya.

Sebelum unas, Niken mendapatkan bimbingan dari guru. Juga diberikan tryout. Anas bercerita ada salah satu kelebihan dimiliki, Niken yakni indigo. Kerap kali Niken melihat makhluk-makhluk tak kasat mata di sekolah. Pun biasanya kesurupan di sekolah.

Baca Juga :  Peserta Paket C Bertambah

Menurut keterangan ia dapat dari orang tua Niken, setelah lulus dari SLB, rencananya dimasukkan pondok pesantren di Desa Mayangkawis, Kecamatan Balen. Niken ingin diajarkan tahfidzulquran di pondok yang diketuai Ustad Toha Abrori.

Anas sebagai kepala sekolah tentu sangat mendukung keputusan orang tua dan Niken tertarik melanjutkan di pondok pesantren. “Kalau si anak dan orang tuanya cocok, tentu kami sangat mendukungnya,” kata pria usia 40 tahun itu.

Anas melihat tekad dimiliki orang tua juga tinggi. Meski rumahnya di Kecamatan Temayang, Niken selalu semangat bersekolah. Tidak pernah ada rasa malas belajar.

Sementara itu, tahun ini ada 9 siswa SMA LB yang mengikuti unas. Dasiono pengawas SLB mengatakan, rinciannya 5 siswa SLB PKK Sumberrejo, 3 siswa SLB PGRI Kalitidu, dan satunya Niken di SLB Putra Harapan.

TEKAD Silvia Niken mengerjakan ujian nasional (unas) sangat tinggi. Meski hanya sendiri, dia begitu menikmati kerjakan naskah soal dijaga dua gurunya. Setelah lulus, ia ingin lanjutkan belajar di pondok pesantren.

Riuh ramai siswa-siswi berlarian ke sana-ke mari bermain kala istirahat di Sekolah Luar Biasa (SLB) Putra Harapan kemarin (4/4). Di tengah-tengah keramaian, ternyata ada satu siswi fokus mengerjakan ujian nasional di lantai dua.

Satu siswinya tersebut menyandang tunarungu. Bernama Silvia Niken. Saat itu, siswinya fokus mengerjakan soal-soal bahasa Inggris. Terlihat ia membaca secara saksama soal demi soal kemudian mengarsir lembar jawaban komputer (LJK). Satu siswi tersebut dijaga sekaligus dibimbing dua guru apabila mengalami kesulitan terkait teknis pengerjaan.

Kepala SLB Putra Harapan Nanang Nasrullah mengatakan tahun ajaran 2018/2019 kelas 12 SMALB ada tujuh siswa. Namun, hanya satu memenuhi kriteria mengikuti ujian nasional (unas). Lima siswa lainnya tunagrahita dan satu siswa autis. Sehingga, selain Niken, mereka hanya mengikuti ujian sekolah saja.

Baca Juga :  SMKN Ngasem Gangguan Koneksi

“Hanya Niken memenuhi kriteria ikut ujian nasional karena lainnya ada yang tunagrahita dan autis,” jelas pria asal Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander itu.

Ia menceritakan Niken bersekolah di SLB sejak bangku taman kanak-kanak (TK). Saat SD dan SMP, Niken pasti ikut ujian nasional. Dan, berlanjut SMA. Berbeda dengan tahun lalu, ada empat siswa tunarungu ikut ujian nasional.

“Kalau tunanetra ikut unas, di SLB Putra Harapan belum pernah ada,” ujarnya.

Sebelum unas, Niken mendapatkan bimbingan dari guru. Juga diberikan tryout. Anas bercerita ada salah satu kelebihan dimiliki, Niken yakni indigo. Kerap kali Niken melihat makhluk-makhluk tak kasat mata di sekolah. Pun biasanya kesurupan di sekolah.

Baca Juga :  Fasilitas Sekolah Inklusif Perlu Diperhatikan

Menurut keterangan ia dapat dari orang tua Niken, setelah lulus dari SLB, rencananya dimasukkan pondok pesantren di Desa Mayangkawis, Kecamatan Balen. Niken ingin diajarkan tahfidzulquran di pondok yang diketuai Ustad Toha Abrori.

Anas sebagai kepala sekolah tentu sangat mendukung keputusan orang tua dan Niken tertarik melanjutkan di pondok pesantren. “Kalau si anak dan orang tuanya cocok, tentu kami sangat mendukungnya,” kata pria usia 40 tahun itu.

Anas melihat tekad dimiliki orang tua juga tinggi. Meski rumahnya di Kecamatan Temayang, Niken selalu semangat bersekolah. Tidak pernah ada rasa malas belajar.

Sementara itu, tahun ini ada 9 siswa SMA LB yang mengikuti unas. Dasiono pengawas SLB mengatakan, rinciannya 5 siswa SLB PKK Sumberrejo, 3 siswa SLB PGRI Kalitidu, dan satunya Niken di SLB Putra Harapan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/