alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Nol Pelamar, Sementara Andalkan Dokter Spesialis Non-PNS

TUBAN – Langkah strategis harus segera diambil RSUD dr. R. Koesma Tuban menyusul kegagalannya dalam mengisi sejumlah formasi calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang diusulkan. Utamanya untuk dokter spesialis. Pasalnya, hampir semua formasi dokter spesialis yang diusulkan tanpa satu pun pelamar.  

Padahal, usulan formasi jabatan dokter spesialis menjadi kebutuhan mendesak RSUD dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. ‘’Mau bagaimana lagi. Telah dibuka lowongan CPNS, tapi tidak ada yang melamar,’’ ujar Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban kepada Jawa Pos Radar Tuban kemarin (3/12).

Disinyalir, ketatnya persyaratan menjadi salah satu pemicunya. Utamanya terkait batasan usia yang mematok maksimal 35 tahun. Sementara itu, hampir sebagian besar dokter spesialis telah memasuki usia di atas 35 tahun. ‘’Rata-rata terkendala usia, sehingga tidak ada yang melamar,’’ terang mantan kepala dinas kesehatan (dinkes) setempat itu.

Baca Juga :  Buat Para Jobseeker, Jangan Berharap Migas

Konsekwensinya, RSUD harus mengandalkan dokter spesialis dengan status non-PNS atau tenaga kontrak. Itu pun belum semua kebutuhan dokter spesialis di rumah sakil pelat merah di Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo ini terpenuhi. ‘’Secara kebutuhan masih sangat kurang,’’ kata Saiful.

Di antara kebutuhan dokter spesialis yang belum terisi, dokter spesialis bedah syaraf, dokter spesialis urologi, dan dokter spesialis jiwa. ‘’Khusus untuk spesialis jiwa, sementara kita menjalin kerja sama dengan RSUD dr. Soetomo Surabaya. Sedangkan spesialis bedah syaraf dan urologi masih kosong. Belum dapat dokternya,’’ terang dokter jebolan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

Padahal, infrastruktur ruangan dan alat kesehatan (alkes) untuk kebutuhan dokter spesialis bedah syaraf dan urologi telah disiapkan RSUD. ‘’Karena belum ada dokternya, sebagian alkesnya dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan yang lain,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Agitya Kristantoko, Petani Milenial Kembangkan Pertanian Singkong

Sekadar diketahui, pada tahun ini Pemkab Tuban menerima kuota CPNS sebanyak 297 formasi (termasuk tenaga honorer K-2). Dari total kuota yang diterima, 21 formasi nol pendaftar. Tiga belas di antaranya merupakan formasi dokter spesialis yang dibutuhkan RSUD dr. R. Koesma Tuban. Berikutnya disusul formasi guru kelas jalur khusus cumlaude (nilai terbaik) sebanyak 3 formasi. Kemudian, 3  formasi dokter ahli yang dibutuhkan Puskesmas Singgahan, Montong dan Parengan. Terakhir, dua formasi guru bimbingan konseling yang merupakan jalur khusus disabilitas.

TUBAN – Langkah strategis harus segera diambil RSUD dr. R. Koesma Tuban menyusul kegagalannya dalam mengisi sejumlah formasi calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang diusulkan. Utamanya untuk dokter spesialis. Pasalnya, hampir semua formasi dokter spesialis yang diusulkan tanpa satu pun pelamar.  

Padahal, usulan formasi jabatan dokter spesialis menjadi kebutuhan mendesak RSUD dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. ‘’Mau bagaimana lagi. Telah dibuka lowongan CPNS, tapi tidak ada yang melamar,’’ ujar Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban kepada Jawa Pos Radar Tuban kemarin (3/12).

Disinyalir, ketatnya persyaratan menjadi salah satu pemicunya. Utamanya terkait batasan usia yang mematok maksimal 35 tahun. Sementara itu, hampir sebagian besar dokter spesialis telah memasuki usia di atas 35 tahun. ‘’Rata-rata terkendala usia, sehingga tidak ada yang melamar,’’ terang mantan kepala dinas kesehatan (dinkes) setempat itu.

Baca Juga :  Siswa SMA-LB Alami Kesulitan Saat Mengerjakan ANBK

Konsekwensinya, RSUD harus mengandalkan dokter spesialis dengan status non-PNS atau tenaga kontrak. Itu pun belum semua kebutuhan dokter spesialis di rumah sakil pelat merah di Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo ini terpenuhi. ‘’Secara kebutuhan masih sangat kurang,’’ kata Saiful.

Di antara kebutuhan dokter spesialis yang belum terisi, dokter spesialis bedah syaraf, dokter spesialis urologi, dan dokter spesialis jiwa. ‘’Khusus untuk spesialis jiwa, sementara kita menjalin kerja sama dengan RSUD dr. Soetomo Surabaya. Sedangkan spesialis bedah syaraf dan urologi masih kosong. Belum dapat dokternya,’’ terang dokter jebolan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

Padahal, infrastruktur ruangan dan alat kesehatan (alkes) untuk kebutuhan dokter spesialis bedah syaraf dan urologi telah disiapkan RSUD. ‘’Karena belum ada dokternya, sebagian alkesnya dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan yang lain,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Bukit Daun, Wisata Cantik Eks Tambang 

Sekadar diketahui, pada tahun ini Pemkab Tuban menerima kuota CPNS sebanyak 297 formasi (termasuk tenaga honorer K-2). Dari total kuota yang diterima, 21 formasi nol pendaftar. Tiga belas di antaranya merupakan formasi dokter spesialis yang dibutuhkan RSUD dr. R. Koesma Tuban. Berikutnya disusul formasi guru kelas jalur khusus cumlaude (nilai terbaik) sebanyak 3 formasi. Kemudian, 3  formasi dokter ahli yang dibutuhkan Puskesmas Singgahan, Montong dan Parengan. Terakhir, dua formasi guru bimbingan konseling yang merupakan jalur khusus disabilitas.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/