alexametrics
28.7 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Jembatan Glendeng Ambles, Imbas Tambang Pasir atau Kelebihan Tonase?

Radar Bojonegoro – Sejak pukul 10.30 kemarin (3/11), dua motor dinas polisi terpakir tepat di ujung Jembatan Glendeng sisi selatan. Penanda jembatan tidak boleh dilalui kendaraan. Beberapa pengendara motor maupun mobil kaget dan mendadak menghentikan laju kendaraannya.

Muka ketakutan pengendara sempat muncul karena mengira terdapat pemeriksaan kelengkapan berkendara maupun operasi yustisi. Ternyata, petugas memberi aba-aba kendaraan diminta memutar arah. Itu dilakukan seiring penutupan Jembatan Simo-Glendeng karena mengalami kerusakan.

Penyebab amblesnya fondasi Jembatan Glendeng masih belum diketahui secara pasti. Namun, ada sejumlah dugaan pemicu amblesnya jembatan seiring tebing jembatan dan Sungai Bengawan Solo, itu longsor.

Di antaranya akibat penambangan pasir di sekitar jembatan menghubungkan Kabupaten Tuban dan Bojonegoro itu. Juga prediksi lainnya seiring pengerjaan penguatan fondasi dan memicu tebing jembatan retak dan pecah. Serta banyaknya kendaraan kelebihan tonase melintas.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Bojonegoro (Unigoro) Haryono mengatakan, kerusakan jembatan itu memang masih belum jelas. Namun, ada sejumlah perkiraan terkait penyebabnya. Yakni, adanya perbaikan di lokasi kerusakan.

‘’Saya lihat di lokasi ada galian. Mungkin itu sedikit banyak berpengaruh,’’ katanya kemarin (3/11). Galian untuk perbaikan itu, bersamaan dengan meningkatnya debit air Sungai Bengawan Solo. Sehingga, tanah di lokasi itu tergerus. ‘’Namun, bisa juga akibat abrasi yang disebabkan penambangan pasir,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Industri Kayu Jati di Bojonegoro Serap Banyak Pekerja

Menurut Haryono, kerusakan fondasi itu lama-lama bisa berimbas pada rangka jembatan. Sebab, semakin ambles fondasi rangka jembatan akan semakin turun. Karena itu, rangka jembatan harus diamankan. ‘’Caranya harus diberikan penahan di bawahnya. Ini untuk antisipasi,’’ jelasnya.

Mengenai usia jembatan, Haryono menilai masih belum begitu tua. Sebab, belum ada 50 tahun. Jembatan itu beroperasi sekitar 1992 atau 1993. Sehingga, rangka jembatan dinilai masih kuat dan belum usang. ‘’Penyebab kerusakan itu perlu diketahui,’’ ujar Sekretaris Gabungan Pelaksana Kontruksi Nasional (Gapensi) Cabang Bojonegoro Alfan Afandi.

Alfan melanjutkan, kerusakan jembatan itu hanya terjadi pada fondasi. Bukan pada rangka bajanya. Penyebab kerusakan fondasi itu bisa beberapa hal. Di antaranya akibat penambangan pasir di sekitar jembatan. Penambangan itu bisa menggerus fondasi jembatan yang melintasi Bengawan Solo itu. ‘’Kemungkinan itu bisa menjadi penyebab,’’ tuturnya.

Di sekitar jembatan itu memang ada penambangan pasir. Hal itu sudah berlangsung cukup lama. Penyedotan pasir itu berimbas pada kekuatan fondasi jembatan. Sebab, jaraknya penambangan pasir itu tidak terlalu jauh dari jembatan. Namun, kerusakan itu juga bisa disebabkan faktor usia. Misalnya, usia fondasi jembatan sudah tua.

‘’Namun, untuk jembatan sebesar itu fondasi biasanya masih cukup kuat. Kalau karena usia, sepertinya tidak mungkin,’’ tegasnya. Jembatan sebesar itu, lanjut dia, fondasi jembatannya biasanya cukup dalam. Struktur tanahnya perlu dipelajari hingga lapisan tanah ke lima. Itu agar fondasi jembatan kokoh.

Baca Juga :  Bupati Beri Perhatian, Tunggu Regulasi Tahun DepanĀ 

Menurut Alfan, konstruksi besi jembatan sepertinya tidak mengalami masalah. Kondisinya masih cukup kuat. Rangka bajanya dalam kondisi baik. ‘’Kerusakan hanya pada fondasi saja,’’ jelasnya.

Jembatan Glendeng ada di jalan kabupaten, yakni Jalan Lettu Suyito. Jembatan itu setara dengan Jembatan Malo, Jembatan Trucuk, dan Jembatan Padangan-Kasiman. Menurut Alfan, jembatan itu tidak di desain untuk dilintasi kendaraan berat. Kendaraan berat selama ini diarahkan untuk melintas di jalan provinsi melintas Jembatan Kaliketek.

Kabid Jembatan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga dan Tata Ruang Bojonegoro Wardi mengatakan, terkait tonase jembatan hingga kini masih belum diketahui. Pihak dinas PU bina marga dan tata ruang masih menelusuri kepemilikan aset jembatan. Sehingga, bisa diketahui berapa tonase jembatan itu.

Dia mengatakan, kerusakan jembatan Glendeng ada di sisi wilayah Tuban. Sehingga, perbaikan akan dilakukan oleh Pemkab Tuban. ‘’Kalau sisi Bojonegoro aman,’’ ujarnya. Wardi menjelaskan, Jembatan Glendeng memang ada di dua sisi. Yakni, Bojonegoro dan Tuban. Sisi selatan masuk Bojonegoro. Sehingga, jika terjadi kerusakan akan menjadi tanggung jawab masing-masing daerah. ‘’Kami akan koordinasi dengan Tuban terkait perbaikan ini,’’ jelasnya. (irv)

Radar Bojonegoro – Sejak pukul 10.30 kemarin (3/11), dua motor dinas polisi terpakir tepat di ujung Jembatan Glendeng sisi selatan. Penanda jembatan tidak boleh dilalui kendaraan. Beberapa pengendara motor maupun mobil kaget dan mendadak menghentikan laju kendaraannya.

Muka ketakutan pengendara sempat muncul karena mengira terdapat pemeriksaan kelengkapan berkendara maupun operasi yustisi. Ternyata, petugas memberi aba-aba kendaraan diminta memutar arah. Itu dilakukan seiring penutupan Jembatan Simo-Glendeng karena mengalami kerusakan.

Penyebab amblesnya fondasi Jembatan Glendeng masih belum diketahui secara pasti. Namun, ada sejumlah dugaan pemicu amblesnya jembatan seiring tebing jembatan dan Sungai Bengawan Solo, itu longsor.

Di antaranya akibat penambangan pasir di sekitar jembatan menghubungkan Kabupaten Tuban dan Bojonegoro itu. Juga prediksi lainnya seiring pengerjaan penguatan fondasi dan memicu tebing jembatan retak dan pecah. Serta banyaknya kendaraan kelebihan tonase melintas.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Bojonegoro (Unigoro) Haryono mengatakan, kerusakan jembatan itu memang masih belum jelas. Namun, ada sejumlah perkiraan terkait penyebabnya. Yakni, adanya perbaikan di lokasi kerusakan.

‘’Saya lihat di lokasi ada galian. Mungkin itu sedikit banyak berpengaruh,’’ katanya kemarin (3/11). Galian untuk perbaikan itu, bersamaan dengan meningkatnya debit air Sungai Bengawan Solo. Sehingga, tanah di lokasi itu tergerus. ‘’Namun, bisa juga akibat abrasi yang disebabkan penambangan pasir,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Penjaga Tambang Berpistol Edarkan SS

Menurut Haryono, kerusakan fondasi itu lama-lama bisa berimbas pada rangka jembatan. Sebab, semakin ambles fondasi rangka jembatan akan semakin turun. Karena itu, rangka jembatan harus diamankan. ‘’Caranya harus diberikan penahan di bawahnya. Ini untuk antisipasi,’’ jelasnya.

Mengenai usia jembatan, Haryono menilai masih belum begitu tua. Sebab, belum ada 50 tahun. Jembatan itu beroperasi sekitar 1992 atau 1993. Sehingga, rangka jembatan dinilai masih kuat dan belum usang. ‘’Penyebab kerusakan itu perlu diketahui,’’ ujar Sekretaris Gabungan Pelaksana Kontruksi Nasional (Gapensi) Cabang Bojonegoro Alfan Afandi.

Alfan melanjutkan, kerusakan jembatan itu hanya terjadi pada fondasi. Bukan pada rangka bajanya. Penyebab kerusakan fondasi itu bisa beberapa hal. Di antaranya akibat penambangan pasir di sekitar jembatan. Penambangan itu bisa menggerus fondasi jembatan yang melintasi Bengawan Solo itu. ‘’Kemungkinan itu bisa menjadi penyebab,’’ tuturnya.

Di sekitar jembatan itu memang ada penambangan pasir. Hal itu sudah berlangsung cukup lama. Penyedotan pasir itu berimbas pada kekuatan fondasi jembatan. Sebab, jaraknya penambangan pasir itu tidak terlalu jauh dari jembatan. Namun, kerusakan itu juga bisa disebabkan faktor usia. Misalnya, usia fondasi jembatan sudah tua.

‘’Namun, untuk jembatan sebesar itu fondasi biasanya masih cukup kuat. Kalau karena usia, sepertinya tidak mungkin,’’ tegasnya. Jembatan sebesar itu, lanjut dia, fondasi jembatannya biasanya cukup dalam. Struktur tanahnya perlu dipelajari hingga lapisan tanah ke lima. Itu agar fondasi jembatan kokoh.

Baca Juga :  Industri Kayu Jati di Bojonegoro Serap Banyak Pekerja

Menurut Alfan, konstruksi besi jembatan sepertinya tidak mengalami masalah. Kondisinya masih cukup kuat. Rangka bajanya dalam kondisi baik. ‘’Kerusakan hanya pada fondasi saja,’’ jelasnya.

Jembatan Glendeng ada di jalan kabupaten, yakni Jalan Lettu Suyito. Jembatan itu setara dengan Jembatan Malo, Jembatan Trucuk, dan Jembatan Padangan-Kasiman. Menurut Alfan, jembatan itu tidak di desain untuk dilintasi kendaraan berat. Kendaraan berat selama ini diarahkan untuk melintas di jalan provinsi melintas Jembatan Kaliketek.

Kabid Jembatan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga dan Tata Ruang Bojonegoro Wardi mengatakan, terkait tonase jembatan hingga kini masih belum diketahui. Pihak dinas PU bina marga dan tata ruang masih menelusuri kepemilikan aset jembatan. Sehingga, bisa diketahui berapa tonase jembatan itu.

Dia mengatakan, kerusakan jembatan Glendeng ada di sisi wilayah Tuban. Sehingga, perbaikan akan dilakukan oleh Pemkab Tuban. ‘’Kalau sisi Bojonegoro aman,’’ ujarnya. Wardi menjelaskan, Jembatan Glendeng memang ada di dua sisi. Yakni, Bojonegoro dan Tuban. Sisi selatan masuk Bojonegoro. Sehingga, jika terjadi kerusakan akan menjadi tanggung jawab masing-masing daerah. ‘’Kami akan koordinasi dengan Tuban terkait perbaikan ini,’’ jelasnya. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Gedung Baru DPRD Rp 80 Miliar

Incar Anak Bermotor dan Pemakai Ponsel

NU: Jaga Perdamaian saat Pemilu

Artikel Terbaru


/