alexametrics
28.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Pernah Jadi MC Orkes Dangdut

DIBALIK keterbatasan, ada kelebihan. Meski menyandang disabilitas, Ali Shodikin jago merangkai komponen elektronik. Dia pernah mendapatkan juara tingkat nasional untuk kecepatan merangkai elektronik.

Seseorang berkaus kerah merah dengan kombinasi warna lain di bagian bawah, mengamati rangkaian komponen yang ada di depannya. Dua tangannya memegang benda untuk kebutuhan penyambungan komponen. Tangan kiri memegang timah dan tangan kanan alat solder.

Hari itu, Ali Shodikin sibuk membetulkan VCD player.  Pria 46 tahun itu bukan tukang servis biasa. Dia menyandang disabilitas sejak berumur 6 tahun. Keterbatasan fisik, tak menjadikannya beban.

Namun, Ali mengenang sempat canggung dengan teman lainnya saat bersekolah dulu. ‘’Kaki saya ini mengecil pada saat umur 6 tahun. Tiba – tiba panas dan lama kelamaan kaki kanan mengecil dan susah untuk jalan,’’ kenang bapak tiga anak ini.

Ketika lulus SMA, Ali bingung harus mencari pekerjaan kemana. Keterbatasan fisik membuatnya tidak terlalu percaya diri. Beruntung, salah satu tetangganya datang memberikan penawaran. Bukan pekerjaan. Namun, belajar kerajinan di Bangil.

Baca Juga :  Buka Buka InspirasiĀ 

Setelah melalui beberapa tes, dia dinyatakan lebih cocok di bidang elektronik. Ali kemudian kursus di tempat tersebut.

‘’Semua yang mengikuti khursus orang disabilitas,’’ kenangnya lagi.

Melihat banyak orang senasib sebagai penyandang disabilitas, muncul semangat baru pada diri Ali. Apalagi, sebagian peserta kursus itu kondisinya ada yang lebih buruk dibandingkan dirinya. Dia berusaha menyelesaikan kursus semaksimal mungkin. 

‘’Saya tanamkan dalam hati, kecacatan tidaklah menjadi halangan bagi saya untuk berkarya dan berproduktif. Justru cacat harus lebih bisa dibandingkan dengan orang normal,’’ ujarnya.

Setelah menjalani pelatihan di Bangil selama sekitar enam bulan, Ali mendengar adanya lomba kecepatan merangkai, kerapian,  dan  ketangkasan di bidang elektronik. Dia mengikuti lomba tersebut. Ali sangat ingat lombanya di Surabaya pada 1995. Dia akhirnya meraih juara pertama pada lomba tersebut. Hasil lomba itu juga mengantarkannya terbang ke Australia. Ali mewakili Indonesia untuk lomba yang sama. Saat itu, dia meraih juara harapan 2. 

Baca Juga :  Tahun Ini Eks Napiter Ajak Keluarga Ikut Upacara

Tiga tahun kemudian, Ali mencoba mengikuti lomba lagi di  Cibinong. Dia mendapatkan juara ketiga.   “Kalau sekarang, sudah tak mengikuti lagi. Sibuk dengan pekerjaan,’’ ujar pria berkacamata ini.

Berbekal pengalaman itulah Ali lalu memutuskan membuka jasa servis elektro di rumahnya. Di saat sepi garapan, dia merangkai  sound system. Perlengkapan panggung musik tersebut dia sewakan.

Berhubungan dengan orang – orang di bidang perlengkapan musik, Ali mencoba menjadi MC orkes di wilayah Lamongan. Pekerjaan itu sempat dilakoninya selama sekitar dua tahun. Ali senang menjadi MC karena saat di atas panggung tak banyak bergerak. Terpenting suaranya dapat menarik perhatian penonton.

Namun, perkembangan musik membuat MC dituntut banyak bergerak. Bahkan, minta didatangi ke meja. ‘’Itulah menjadi malas lagi menjadi MC karena naik turun panggung menjadi capek, apalagi fisik yang terbatas,’’  ujarnya beralasan.

DIBALIK keterbatasan, ada kelebihan. Meski menyandang disabilitas, Ali Shodikin jago merangkai komponen elektronik. Dia pernah mendapatkan juara tingkat nasional untuk kecepatan merangkai elektronik.

Seseorang berkaus kerah merah dengan kombinasi warna lain di bagian bawah, mengamati rangkaian komponen yang ada di depannya. Dua tangannya memegang benda untuk kebutuhan penyambungan komponen. Tangan kiri memegang timah dan tangan kanan alat solder.

Hari itu, Ali Shodikin sibuk membetulkan VCD player.  Pria 46 tahun itu bukan tukang servis biasa. Dia menyandang disabilitas sejak berumur 6 tahun. Keterbatasan fisik, tak menjadikannya beban.

Namun, Ali mengenang sempat canggung dengan teman lainnya saat bersekolah dulu. ‘’Kaki saya ini mengecil pada saat umur 6 tahun. Tiba – tiba panas dan lama kelamaan kaki kanan mengecil dan susah untuk jalan,’’ kenang bapak tiga anak ini.

Ketika lulus SMA, Ali bingung harus mencari pekerjaan kemana. Keterbatasan fisik membuatnya tidak terlalu percaya diri. Beruntung, salah satu tetangganya datang memberikan penawaran. Bukan pekerjaan. Namun, belajar kerajinan di Bangil.

Baca Juga :  Buka Peluang Bukan Kader Maju Pilkada

Setelah melalui beberapa tes, dia dinyatakan lebih cocok di bidang elektronik. Ali kemudian kursus di tempat tersebut.

‘’Semua yang mengikuti khursus orang disabilitas,’’ kenangnya lagi.

Melihat banyak orang senasib sebagai penyandang disabilitas, muncul semangat baru pada diri Ali. Apalagi, sebagian peserta kursus itu kondisinya ada yang lebih buruk dibandingkan dirinya. Dia berusaha menyelesaikan kursus semaksimal mungkin. 

‘’Saya tanamkan dalam hati, kecacatan tidaklah menjadi halangan bagi saya untuk berkarya dan berproduktif. Justru cacat harus lebih bisa dibandingkan dengan orang normal,’’ ujarnya.

Setelah menjalani pelatihan di Bangil selama sekitar enam bulan, Ali mendengar adanya lomba kecepatan merangkai, kerapian,  dan  ketangkasan di bidang elektronik. Dia mengikuti lomba tersebut. Ali sangat ingat lombanya di Surabaya pada 1995. Dia akhirnya meraih juara pertama pada lomba tersebut. Hasil lomba itu juga mengantarkannya terbang ke Australia. Ali mewakili Indonesia untuk lomba yang sama. Saat itu, dia meraih juara harapan 2. 

Baca Juga :  Tetap Siaga Merah

Tiga tahun kemudian, Ali mencoba mengikuti lomba lagi di  Cibinong. Dia mendapatkan juara ketiga.   “Kalau sekarang, sudah tak mengikuti lagi. Sibuk dengan pekerjaan,’’ ujar pria berkacamata ini.

Berbekal pengalaman itulah Ali lalu memutuskan membuka jasa servis elektro di rumahnya. Di saat sepi garapan, dia merangkai  sound system. Perlengkapan panggung musik tersebut dia sewakan.

Berhubungan dengan orang – orang di bidang perlengkapan musik, Ali mencoba menjadi MC orkes di wilayah Lamongan. Pekerjaan itu sempat dilakoninya selama sekitar dua tahun. Ali senang menjadi MC karena saat di atas panggung tak banyak bergerak. Terpenting suaranya dapat menarik perhatian penonton.

Namun, perkembangan musik membuat MC dituntut banyak bergerak. Bahkan, minta didatangi ke meja. ‘’Itulah menjadi malas lagi menjadi MC karena naik turun panggung menjadi capek, apalagi fisik yang terbatas,’’  ujarnya beralasan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/