alexametrics
23.9 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Tanpa Museum, Benda Bersejarah Bojonegoro Belum Tertata dengan Baik

Radar Bojonegoro – Benda-benda bersejarah di Bojonegoro, cukup melimpah. Hanya, Bojonegoro belum memiliki museum layak dengan lokasi strategis. Sebaliknya, saat ini benda-benda masih dititipkan di salah satu ruangan di Sekolah Dasar Model Terpadu (SDMT) Bojonegoro.

Achmad Satria Utama sejarawan Bojonegoro mengatakan, kebutuhan tempat koleksi benda cagar budaya dan sejarah harus segera direalisasikan. Selama ini benda-benda tersebut terserak dan hampir tidak terurus. Seperti prasasti nisan Belanda awalnya ada di pelataran kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, kemudian dipindah ke pendapa Situs Kahyangan Api. ‘’Bahkan oleh pengunjung dijadikan tempat duduk. Dijadikan meja untuk pengunjung menaruh makanan dan lainnya. Ini ironis sekali,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sementara benda cagar budaya lainnya berada di museum juga memprihatinkan. Karena museum kecil berupa ruangan kelas di kompleks SDMT dan di halaman parkir belakang SDMT. Sehingga sudah tidak layak lagi sebagai museum. ‘’Pemerintah sekali lagi tidak memandang bahwa peninggalan sejarah ini begitu penting dan bernilai bagi Bojonegoro,” imbuhnya.

‘’Apabila dibiarkan, nilai historis Bojonegoro di masa lalu akan hilang termakan waktu. Generasi muda sekarang tidak akan memiliki kebanggaan sebagai warga Bojonegoro, dimana kaya akan nilai sejarah dari masa prasejarah sampai terkini,” lanjut dia.

Baca Juga :  Pendaftaran Mewarnai Kaligrafi Radar Bojonegoro Diperpanjang

Sehingga kebutuhan akan tempat koleksi benda cagar budaya, harusnya segera direalisasikan. Juga akan menjadi kebanggaan warga Bojonegoro, juga menjadi lokasi belajar bagi siswa dan masyarakat umum. Baik dari Bojonegoro sendiri maupun dari luar daerah.

Ia mencontohkan agar belajar dari Sawahlunto di Sumatera. Sebuah kabupaten kecil tetapi dibangunnya museum menjadi daya tarik dan kebanggaan warga setempat. Konsep museum tidak hanya seperti galeri saja, tetapi mengikuti perkembangan kekinian. ‘’Intinya nanti dapat menjadi tempat interaksi antara pengunjung dengan museum. Tentu untuk mengenalkan Bojonegoro kepada khalayak umum,” tuturnya.

Meski ia tak memungkiri beberapa koleksi masih tersimpan di beberapa lokasi. Seperti kantor disbudpar, juga satu ruangan di gedung serba guna Jalan Mastrip, di Kedewan (tepatnya di Geopark Kedewan). Serta beberapa tempat lain, seperti di Kantor Desa Jono dan Puskesmas Trucuk.

‘’Yang dikhawatirkan itu hilangnya benda tersebut. Dan semoga tidak hilang,” harap dia. Wahyu Subagdiono salah satu budayawan mengatakan, dahulunya Bojonegoro merupakan daerah laut diapit perbukitan. Dan sepanjang wilayahnya dialiri bengawan sebagai urat nadi kehidupan kala itu yang juga berfungsi sebagai perniagaan.

Tentunya memiliki potensi peninggalan prasejarah. Berupa fosil maupun tinggalan benda sejarah lainnya. Sehingga perlu dibuatkan museum agar tersimpan dan tertata. ‘’Tentunya butuh museum. Sebagai edukasi anak didik maupun generasi ke depan. Selain sebagai ajang pembelajaran, museum bisa sebagai destinasi wisata,” katanya.

Baca Juga :  Karang Taruna Desa Sidorejo Kedungadem Raih Juara 1

Wahyu mendorong agar pemkab setempat segera mewujudkannya. Mematenkan rencana dan segera merealisasikan. Sebaliknya, sangat disayangkan jika benda bersejarah tidak terfasilitasi dengan baik. Sebab, dulu ia sempat mendengar adanya rencana bahwa museum akan berdiri di depan Kodim. Tanah eks bengkok Kelurahan Jetak, Kecamatan Kota.

Selain itu, ada pula informasi salah satu rumah tua di Kecamatan Padangan akan difungsikan sebagai museum. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan. ‘’Alangkah baiknya nanti di dalam kota saja. Karena akan dilihat tidak saja orang Bojonegoro. Tapi, tentunya dari luar pun akan melihat,” ujar pentolan salah satu perguruan silat tersebut.

Bahkan bila perlu, kata Wahyu, membuat sebuah kampung budaya di dalamnya ada museumnya. Sehingga baik kegiatan budaya maupun benda bersejarah bisa dilihat dan tersentral di kampung tersebut. ‘’Baik makanan khasnya, tari-tariannya, kegiatan budaya manganan atau nyadran, cara bercocok tanam dan sebagainya,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Budiyanto masih belum berkomentar hingga berita ini ditulis. Saat dihubungi via telpon seluler terdengar nada sambung namun tidak jawab. Pesan singkat via WhatsApp juga belum dibalas.

Radar Bojonegoro – Benda-benda bersejarah di Bojonegoro, cukup melimpah. Hanya, Bojonegoro belum memiliki museum layak dengan lokasi strategis. Sebaliknya, saat ini benda-benda masih dititipkan di salah satu ruangan di Sekolah Dasar Model Terpadu (SDMT) Bojonegoro.

Achmad Satria Utama sejarawan Bojonegoro mengatakan, kebutuhan tempat koleksi benda cagar budaya dan sejarah harus segera direalisasikan. Selama ini benda-benda tersebut terserak dan hampir tidak terurus. Seperti prasasti nisan Belanda awalnya ada di pelataran kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, kemudian dipindah ke pendapa Situs Kahyangan Api. ‘’Bahkan oleh pengunjung dijadikan tempat duduk. Dijadikan meja untuk pengunjung menaruh makanan dan lainnya. Ini ironis sekali,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sementara benda cagar budaya lainnya berada di museum juga memprihatinkan. Karena museum kecil berupa ruangan kelas di kompleks SDMT dan di halaman parkir belakang SDMT. Sehingga sudah tidak layak lagi sebagai museum. ‘’Pemerintah sekali lagi tidak memandang bahwa peninggalan sejarah ini begitu penting dan bernilai bagi Bojonegoro,” imbuhnya.

‘’Apabila dibiarkan, nilai historis Bojonegoro di masa lalu akan hilang termakan waktu. Generasi muda sekarang tidak akan memiliki kebanggaan sebagai warga Bojonegoro, dimana kaya akan nilai sejarah dari masa prasejarah sampai terkini,” lanjut dia.

Baca Juga :  Turun Rekom KASN, Segera Seleksi Sekda

Sehingga kebutuhan akan tempat koleksi benda cagar budaya, harusnya segera direalisasikan. Juga akan menjadi kebanggaan warga Bojonegoro, juga menjadi lokasi belajar bagi siswa dan masyarakat umum. Baik dari Bojonegoro sendiri maupun dari luar daerah.

Ia mencontohkan agar belajar dari Sawahlunto di Sumatera. Sebuah kabupaten kecil tetapi dibangunnya museum menjadi daya tarik dan kebanggaan warga setempat. Konsep museum tidak hanya seperti galeri saja, tetapi mengikuti perkembangan kekinian. ‘’Intinya nanti dapat menjadi tempat interaksi antara pengunjung dengan museum. Tentu untuk mengenalkan Bojonegoro kepada khalayak umum,” tuturnya.

Meski ia tak memungkiri beberapa koleksi masih tersimpan di beberapa lokasi. Seperti kantor disbudpar, juga satu ruangan di gedung serba guna Jalan Mastrip, di Kedewan (tepatnya di Geopark Kedewan). Serta beberapa tempat lain, seperti di Kantor Desa Jono dan Puskesmas Trucuk.

‘’Yang dikhawatirkan itu hilangnya benda tersebut. Dan semoga tidak hilang,” harap dia. Wahyu Subagdiono salah satu budayawan mengatakan, dahulunya Bojonegoro merupakan daerah laut diapit perbukitan. Dan sepanjang wilayahnya dialiri bengawan sebagai urat nadi kehidupan kala itu yang juga berfungsi sebagai perniagaan.

Tentunya memiliki potensi peninggalan prasejarah. Berupa fosil maupun tinggalan benda sejarah lainnya. Sehingga perlu dibuatkan museum agar tersimpan dan tertata. ‘’Tentunya butuh museum. Sebagai edukasi anak didik maupun generasi ke depan. Selain sebagai ajang pembelajaran, museum bisa sebagai destinasi wisata,” katanya.

Baca Juga :  Karang Taruna Desa Sidorejo Kedungadem Raih Juara 1

Wahyu mendorong agar pemkab setempat segera mewujudkannya. Mematenkan rencana dan segera merealisasikan. Sebaliknya, sangat disayangkan jika benda bersejarah tidak terfasilitasi dengan baik. Sebab, dulu ia sempat mendengar adanya rencana bahwa museum akan berdiri di depan Kodim. Tanah eks bengkok Kelurahan Jetak, Kecamatan Kota.

Selain itu, ada pula informasi salah satu rumah tua di Kecamatan Padangan akan difungsikan sebagai museum. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan. ‘’Alangkah baiknya nanti di dalam kota saja. Karena akan dilihat tidak saja orang Bojonegoro. Tapi, tentunya dari luar pun akan melihat,” ujar pentolan salah satu perguruan silat tersebut.

Bahkan bila perlu, kata Wahyu, membuat sebuah kampung budaya di dalamnya ada museumnya. Sehingga baik kegiatan budaya maupun benda bersejarah bisa dilihat dan tersentral di kampung tersebut. ‘’Baik makanan khasnya, tari-tariannya, kegiatan budaya manganan atau nyadran, cara bercocok tanam dan sebagainya,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Budiyanto masih belum berkomentar hingga berita ini ditulis. Saat dihubungi via telpon seluler terdengar nada sambung namun tidak jawab. Pesan singkat via WhatsApp juga belum dibalas.

Artikel Terkait

Most Read

Waspada Angin Kencang Mengintai

PPKM, Penumpang KA Lamongan Masih Minim

Sate Sapi Blora yang Menusantara

Artikel Terbaru


/